DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Malam Minggu Pasti Pergi, Mantan Masih di Hati

post-img

Maya (26) nama samaran, tak me­nyangka, lelaki yang meni­kahi­nya delapan bulan lalu, sebut saja Tole (28) ternyata main hati. Se­tiap malam minggu izin keluar, ka­tanya sih ke rumah teman, tahunya apelin man­tan, kita panggil saja Susi (25). 

Maya yang ditemui Radar Banten di salah satu warung kelontongan di wilayah Karundang, Kota Serang, Jum­­at (5/8) siang, awalnya malu-ma­lu saat diajak bercerita soal pe­ngalaman pahitnya. Namun saat di­­dampingi ibunda, ia akhirnya mau ber­bagi kisah yang bisa dijadikan pe­la­jaran buat kaum wanita.

Deceritakan Maya, awal per­jum­paan­nya dengan Tole bermula dari pe­ran seorang teman. Waktu itu, ka­tanya sih Tole baru putus dari Susi se­telah dua tahun berpacaran. Maya yang memang sudah lama menjomblo, tak peduli pada masa lalu Tole, ketika di­dekati, langsung merespon dan mem­buka hati.

Apalagi, Tole punya paras yang lu­mayan tampan, penampilan modis, per­gaulannya juga luas. Kalau sudah merayu dan menggoda, omongannya bisa bikin diabetes. Manis bener. “Dia bilang kalau sudah saatnya cari yang serius buat membina rumah tangga,” kata Maya.

Mendengar omongan itu, Maya lang­sung meleleh. Padahal, Maya juga lumayan cantik, meski tidak dia­nu­gerahi kulit putih langsat, tapi parasnya menarik. Setelah dua ming­gu pedekate mereka pun jadian.

Keduanya sering duduk berdua se­tiap malam minggu di teras rumah maya yang dijadikan warung. Tole cepat akrab dengan orangtua dan ke­luarga Maya, begitu pun sebaliknya. “Dia sering bawain makanan buat orang rumah, baiklah orangnya,” ke­nangnya.

Setelah dua bulan pacaran, Tole yang sudah bekerja sebagai admin me­dia sosial di sebuah perusahaan di wilayah Kramatwatu, datang ber­sama keluarga melamar Maya. Mereka segera melangsungkan resepsi per­ni­kahan.

Keduanya tampak serasi duduk di pe­laminan. Tamu undangan pun di­buat iri oleh kebahagiaan keduanya, mereka terlihat sangat bahagia. Apa­lagi Maya, saat itu benar-benar gem­bira bisa bersuamikan Tole yang tam­pan.

Rumah tangga mereka juga awalnya lancar-lancar saja, Tole memilih hi­dup mandiri dengan memboyong istrinya tinggal di kontrakan dekat tempatnya bekerja. Satu bulan per­tama, mereka masih harmonis, setiap malam pasti tidur pelukan. “Pengen­nya dipeluk terus dia mah, anget ka­tanya,” ujar Maya. Iyalah, apalagi cuaca hujan terus.

Tiga bulan kemudian, Tole mulai ber­ubah, sikapnya tak seharmonis seperti biasanya. Sudah tak pernah minta pelukan lagi, tiap hari juga pulang malam terus. “Alesannya lembur,” Maya mulai sedih.

Ditambah, setiap malam minggu, Tole selalu izin ke­luar, katanya ada acara de­ngan teman-teman. Awalnya sih Maya diajak kumpul nong­krong bareng teman suami, tapi setelah itu, Tole tidak me­­ngajak lagi.

Setiap kali Maya protes, Tole lang­sung membentak, me­min­ta Maya jangan seperti anak kecil. Kalau sudah be­gitu, Maya tak berdaya. Cuma bisa diam, nangis sendirian di kamar.

Sampai akhirnya ia tak tahan dan diam-diam membuntuti Tole saat keluar malam ming­gu. Akhirnya, ketahuan deh, ter­nyata suaminya apel ke ru­mah Susi. Saat sedang ber­duaan, Maya datang me­lab­rak. “Dia mau pergi kabur, saya tarik tangannya, saya na­ngis kejer, orang-orang pa­da nyamperin tuh,” curhat­nya.

Tole pun tak berkutik, ia lang­­sung disidang oleh ke­luarga Maya. Sejak itu mereka tak lagi tinggal serumah, pa­dahal Maya sedang mengan­du­ng anak pertama. “Saya enggak tahu nanti akhirnya gi­mana, pasrah ajalah,” pung­kas­nya.

Ya ampun, sabar ya Teh. (drp)