DECEMBER 9, 2022
Utama

Tuhan Maha Teliti (Al Khabir)

post-img

Oleh: Fauzul Iman

SIFAT maha teliti Tuhan tidak selalu diklaim berlaku untuk Tuhan saja. Manusia sebagai mahluknya men­da­yakan sifat kema­ha­telitian itu dalam rangka meneladani Tuhan.

Sifat wujud, mi­sal­nya, Tuhan su­dah dengan sen­di­rinya wujud dan ek­sis. Tidak aneh lagi Dia maha ada.

 Munusialah yang ha­rus muncul de­ngan eksis menun­juk­kan dengan per­forma yang me­yakinkan. Tidak boleh loyo atau malas bekerja. 

Khabir maha telitinya Tuhan pada intinya rea­litas dari upaya manusia mengiluminasi sifat wujud Tuhan dalam sektor kecermatan, kewaspadaan dan ketelitian manusia sebagai hamba Tuhan. 

Hasan Hanafi dalam bukunya Min al- Akidah ila Al-tsawrah menyatakan sifat Tuhan berelasi kontek dengan sejarah teo­logi dan bahasa Al-Quran. Bahasa Al-Quran tidak an sich teologis. Relasinya dengan sektor kerja kemanusaan seperti bahasa iman menandai perlunya manusia meneladani kerja dan kreatifitas Tuhan-nya. Ini merupakan refleksi kasih Tuhan kepada hamba-Nya.

Seturut dengan itu, sifat / kata khabir yang berjumlah empat lima kata dalam Al-Quran menggambarkan ketelitian dan keluasan horizon Tuhan dalam me­nguasai informasi semua aktivitas alam dan manusia. Tak satupun aktivitas itu luput dari pengawasan Tuhan. 

Semua aktivitas manusia selama bertugas di bumi apakah tugas- tugas itu yang dija­lan­kannya dengan lurus, menyalahi aturan, yang syubhat, yang disembunyikan di bawah gembok bungker. Termasuk per­buatan kecil besar yang tersimpan ra­pat dalm hati. Di akhirat Tuhan akan meng­hitung semua perbuatan itu dengan perhitungan yang teliti dan cermat. Tak sesuatu pun yang luput dari ketelitian perhitungannya ( Q.S. 19: 94).

Sebagai refleksi dari kasih Tuhan, umat ma­nusia diizinkan melakukan kompetisi spritual dengan Tuhan-Nya. Artinya umat manu­sia di dunia harus lebih menteran­sendensi spritualitas ketelitiannya meng­gunguli Tuhan di segala asepk kehidupan yang dibidanginya.

Seorang ilmuwan yang baik akan me­la­kukan riset dengan profesional. Tidak men­jual data abal abal demi kepentingan pragmatisme jangka pendek. Seorang pemimpin harus lebih teliti kepada seluruh tindakan atau kebijakan yang dibuatnya di depan publik. 

Siapapun umat manusia yang diberi ama­nah agar meneladani sifat cermat dan ketelitian Tuhan. Tidak boleh dengan amanahnya yang sedang dijalani semua urusan dipandang kecil. Merasa menjadi miliknya sehinga semua diperlakukan tanpa tindakan cermat dan teliti. Aset yang bukan miliknya tidak dicatat dengan teliti dalm dokumen yang tertib. Akibatnya ia menyesali perbuatan abainya itu setelah terjerat hukuman yang tanpa ampun itu.

Kita harus belajar dari peristiwa petinggi politisi yang baru - baru ini kurang cermat atau te­liti memahami karakter publik.

 Mungkin juga karena tingkat keimanan pada egoisme pngalaman dan kepe­ja­batannya yang tiinggi. Ia lalu menyem­protkan statement yang tidak ekologis dan solutif dengan konten peristiwa yang dihadapi berupa kelangkaan minyak goreng. 

Kontan saja narasi yang tidak cermat itu mengundang ristensi dan ramainya celotehan publik yang nyaris mereduksi martabatnya sebagai petingi partai dan mantan kepala rakyat. Belum lagi kita jumpai para oknum petinggi yang menjadi pesakitan tersangka karena menyulap data pengadaan negara. Bukannya dengan teliti dan cermat mendokumentasikannya dalam buku integritas.

Belajar dari peristiwa ini meneladani sifat ketelitian Tuhan bagi semua umat manusia hamba Tuhan merupakan sebuah keniscayaan. Umat manusia yang masih tetap mendewakan keegeo-annya karena merasa paling teliti dan lengkap menguasai informasi di dunia dengan mengabaikan rambu-rambu keteladanan dari Tuhan. Mereka sudah dipastikan tidak akan mam­pu mengelak dan berkutik kelak di ha­dapan Tuhan. Semua yang terkait dengan atribut informasi yang dimilikinya dan didewakannya akan diputus dan di­copot hubungan ritual kleniknya oleh Tu­han Yang Maha Mengusai informasi. Tak satu pun yang bisa menandingi-Nya. 

Inilah maksud dari firman Tuhan, “ Jika ka­mu menyeru mereka ( para dewa/ se­sem­bahan), mereka tidak akan mendengar suaramu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak akan memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari dan memutus atribut sesembahan yang didewakannya. Dan tidak ada yang dapat memberikan informasi kepadamu seperti yang diberikan oleh yang maha menguasai dan maha teliti terhadap informasi” ( Q.S. 35 : 14). Wallahu A’lam. (*)


Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA

Mantan Rektor UIN SMH Banten