LEBAK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat hingga Agustus 2022 telah menangani penderita Tuberculosis (TBC) sebanyak 1.630 kasus. Ribuan penderita TBC diminta untuk disiplin dan rutin menjalani pengobatan.
“Ya, penderita TBC terbanyak berada di kantong-kantong kemiskinan, karena sebagian besar penderita adalah warga miskin. Tahun ini kita mengobati 1.630 orang yang mengidap penyakit TBC. Sedangkan pada 2021, kita temukan 2.257 orang,” kata Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Lebak Firman Rahmatullah, Rabu (31/8).
Kata dia, dari 1.630 penderita, 88 persen tertangani karena minum obat secara rutin, sedangkan sisanya tidak tertangani dengan baik karena putus berobat dan factor lainnya.
“Pengobatan TBC harus dilakukan selama enam bulan secara rutin, namun angka kegagalan (drop out) pengobatan penyakit paru-paru itu masih bisa terjadi, karena pasien putus minum obat,” jelasnya.
Dia mengimbau kepada keluarga penderita TBC untuk mendampingi pasien agar patuh berobat, sehingga bisa sembuh total.
“Dinkes juga melakukan program pendampingan minum obat (PMO) kepada penderita TBC untuk menekan angka putus berobat. Sehingga ada pendamping yang bisa mengingatkan pasien untuk mengonsumsi obat selama enam bulan,” ucapnya.
Selain itu, kata dia, di Lebak juga terbentuk Tim Public Privetemix Tuberculosis (PPM-TB). “Dengan adanya PPM-TB diharapkan kasus TBC yang kebal obat dapat ditekan, sehingga beberapa tahun ke depan Lebak diharapkan bebas TBC,” harapnya.
Terpisah, Kepala Dinkes Lebak Triatno Supiyono mengatakan, sebenarnya jenis penyalit TBC ini dapat disembuhkan. Dengan catatan, penderita menjalani pengobatan secara rutin selama enam bulan serta rutin mengonsumsi obat. Penyakit TBC ini salah saktu faktor penyebabnya adalah karena rendahnya prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kemiskinan, dan tempat tinggal yang kumuh.
“Tentunya, dengan kondisi kurang terjaga kebersihan lingkungan, TBC akan sangat mudah menyerang warga. Karena itu, warga harus terus menggalakan pola hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungam agat terhindar dari berbagai penyakit,” katanya.
Dijelaskanya, TBC juga berisiko menular ke warga yang lain. Karena itu, pihaknya terus melakukan upaya pelacakan kasus baru. Langkah tersebut dilakukan agar keberadaan TBC dapat terdeteksi secara lebih baik. Dalam melakukan pelacakan atau pencarian TBC, pihaknya bekerjasama dengan elemen masyarakat.
“Apabila warga ada yang mengalami gangguan batuk-batuk terus menerus dalam jangka waktu tiga minggu, hendaknya memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Sehingga gejala batuk-batuk ini dapat terdeteksi lebih dini,” tukasnya. (nce/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
- NUSANTARA metro disway
- FOKUS DISWAY
- TRAVELISTA
