DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Dinkes Obati 1.630 Penderita TBC

post-img

LEBAK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Ka­bupaten Lebak mencatat hingga Agus­­­tus 2022 telah menangani pen­derita Tuberculosis (TBC) sebanyak 1.630 kasus. Ribuan penderita TBC di­minta untuk disiplin dan rutin men­jalani pengobatan.

“Ya, penderita TBC terbanyak berada di kantong-kantong kemiskinan, karena sebagian besar penderita adalah warga miskin. Tahun ini kita mengobati 1.630 orang yang mengidap penyakit TBC. Sedangkan pada 2021, kita temukan 2.257 orang,” kata Kepala Bidang Pem­berantasan Penyakit dan Penyehatan Ling­kungan (P2PL) Dinkes Lebak Firman Rahmatullah, Rabu (31/8).

Kata dia, dari 1.630 penderita, 88 per­sen tertangani karena minum obat se­cara rutin, sedangkan sisanya tidak ter­tangani dengan baik karena putus berobat dan factor lainnya.

“Pengobatan TBC harus dilakukan selama enam bulan secara rutin, namun angka kegagalan (drop out) pengobatan penyakit paru-paru itu masih bisa terjadi, karena pasien putus minum obat,” jelasnya.

Dia mengimbau kepada keluarga pen­derita TBC untuk mendampingi pasien agar patuh berobat, sehingga bisa sembuh total.

“Dinkes juga melakukan program pen­dampingan minum obat (PMO) kepada penderita TBC untuk menekan angka putus berobat. Sehingga ada pen­damping yang bisa mengingatkan pasien untuk mengonsumsi obat selama enam bulan,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, di Lebak juga ter­­bentuk Tim Public Privetemix Tuber­culosis (PPM-TB). “Dengan adanya PPM-TB diharapkan kasus TBC yang kebal obat dapat ditekan, sehingga be­berapa tahun ke depan Lebak diha­rapkan bebas TBC,” harapnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Lebak Triatno Supiyono mengatakan, sebenarnya je­nis penyalit TBC ini dapat disem­buh­­kan. Dengan catatan, penderita men­jalani pengobatan secara rutin se­la­ma enam bulan serta rutin mengon­sumsi obat. Penyakit TBC ini salah saktu faktor penyebabnya adalah karena rendahnya prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kemiskinan, dan tempat tinggal yang kumuh.

“Tentunya, dengan kondisi kurang terjaga kebersihan lingkungan, TBC akan sangat mudah menyerang warga. Karena itu, warga harus terus meng­galakan pola hidup sehat dengan men­jaga kebersihan lingkungam agat terhin­dar dari berbagai penyakit,” katanya.

Dijelaskanya, TBC juga berisiko menular ke warga yang lain. Karena itu, pihaknya terus melakukan upaya pelacakan kasus baru. Langkah tersebut dilakukan agar keberadaan TBC dapat terdeteksi secara lebih baik. Dalam melakukan pelacakan atau pencarian TBC, pihaknya bekerjasama dengan elemen masyarakat.

“Apabila warga ada yang mengalami gang­guan batuk-batuk terus me­nerus dalam jangka waktu tiga ming­gu, hen­dak­nya memerik­sakan diri ke tem­pat pelayanan kese­hatan terdekat. Se­hingga gejala batuk-batuk ini dapat ter­­deteksi lebih dini,” tukasnya. (nce/tur)