DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Krisis Pangan dan Energi Jadi Tantangan Industri

post-img

JAKARTA - Krisis pangan dan krisis energi menjadi tantangan bagi industri nasional saat ini. Hal itu di antaranya bersumber dari dampak perang Rusia dan Ukraina, yang juga menjadi tantangan global. 

“Terkait dengan krisis pangan, perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan munculnya tiga isu, yaitu berkurangnya pasokan komoditi pangan seperti gandum dan minyak nabati,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (31/8), dikutip dari siaran pers.

Menperin mengungkapkan, isu kedua adalah munculnya fenomena proteksio­nisme negara-negara di dunia untuk mengamankan stok pangan domestik. Contohnya, India menghentikan ekspor gandum. Ketiga, peningkatan konversi komoditas pangan menjadi bahan baku energi. Ketiga isu tersebut meng­akibatkan kenaikan index harga komoditi pangan global sebesar 32,5 persen (YoY) berdasatkan laporan World Bank Juni 2022.

Menperin menyampaikan bahwa pasokan bahan baku industri pangan dalam negeri akan terjamin. “Ke depan, kami mengupayakan agar lebih banyak lagi bahan baku lokal yang dikembang­kan, seperti tepung singkong, porang, sorgum, sagu, ganyong, hanjeli, hotong, pisang, sukun, talas, ubi jalar, dan lainnya untuk diversifikasi produk olahan pangan,” ungkapnya.

Sementara itu, krisis energi terjadi dengan harga energi terus mengalami kenaikan. Pemerintah saat ini sedang menggodok rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). 

“Berdasarkan data yang kami miliki, pengeluaran IBS (industri besar, sedang) untuk bahan bakar dan pelumas pada tahun 2019 mencapai Rp58,7 triliun dan berperan sebesar 1,3 persen ter­hadap total biaya produksi,” sebut Agus.

Bila menggunakan angka pada tahun 2019 tersebut, untuk memproyeksi angka tahun 2021 dengan asumsi pertumbuhan sebesar 5 persen, maka pada tahun 2021 pengeluaran bahan bakar dan pelumas mencapai Rp60 triliun dan berperan sebesar 1,4 persen.

“Dengan angka tersebut, saya ber­pendapat bahwa secara umum kenaikan harga Pertalite tidak berdampak siginifikan terhadap sektor industri manufaktur, tetapitentu akan ber­dampak pada karyawan pengguna Pertalite,” imbuhnya. (bie)