DECEMBER 9, 2022
Utama

Lestarikan Tradisi Silat Asli Wong Banten

post-img

SILAT: Ketua Umum DPP PSSTB Yadi Sufiyadi (kanan) berbincang dengan Redaktur pelaksana Radar Banten Aditya Ramadhan, di Graha Pena Radar Banten, Kota Serang, Jumat (26/7).  (Qodrat/Radar Banten)

Sejarah Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten

Perguruan pencak silat Terumbu Banten merupakan silat tertua dan asli silat orang Banten. Jurus silat Terumbu ini menjadi media dakwah para ulama dalam menyiarkan agama Islam di Banten.

DALAM acara podcas Radar Banten yang tayang di Kanal YouTube Radar Banten Official, Ketua Umum DPP Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten Yadi Sufiyadi menceritakan sejarah dan perkembangan silat Te­rumbu Banten. 

Silat Terumbu Banten muncul sekira pada tahun1900-an yang dibawa oleh Ki Terumbu, seorang ulama dari Timur Tengah. Ki Terumbu datang menye­barkan Islam sebelum masa Sultan Maulana Hasanuddin.

Saat itu, setiap ulama pasti memiliki ilmu kanuragan dan menguasai silat Te­rumbu. Selain untuk menjaga diri, juga sebagai media dakwah menyiarkan agama Islam.

Yadi mengungkapkan, pada masa itu, belum ada nama Terumbu pada ju­rus-jurus silat yang diajarkan. Para ula­ma mengajak warga hanya untuk be­lajar silat dengan menyebutnya se­bagai silat kampung dan belajarnya pun masih sembunyi-sembunyi, belum di­tam­pilkan secara terbuka sebagai wa­hana hiburan kebudayaan seperti saat ini.

Pada tahun 1955, salah satu keturunan dari Ki Terumbu yakni Jaro Murid me­lakukan pembinaan untuk silat Terumbu hingga akhir hayatnya. Ajaran silat ini dilanjutkan lagi oleh putranya yang bernama Haji Madrais.

Di tahun 1992, barulah dibentuk wadah perguruan pencak silat Terumbu Serang Banten. Saat itu juga dibuat logo yang memiliki simbol dan filosofi tersendiri, seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

Kemudian rantai merupakan simbol persatuan baik antar pesilat Terumbu maupun pesilat lainnya, harus saling ber­gandengan tangan. Dan yang ter­penting adalah menjaga kesatuan dan persatuan NKRI

“Di setiap perguruan Terumbu saya selalu menegaskan bahwa NKRI itu harga mati,” ucapnya dalam acara yang dipandu oleh Redaktur Pelaksana Radar Banten Aditya Ramadhan.

Seiring berjalannya waktu, bermun­culan peguron-peguron yang menga­jar­kan silat Terumbu dan jurus lainnya. Na­mun, bagi peguron yang mengerti se­jarah, pasti akan mengakui jika silat Terumbu merupakan silat tertua.

Oleh karena itu, di peguron silat yang lainnya pun ketika mengajarkan silat Terumbu saat ini banyak perbedaan dari segi gerakan. Untuk menjaga keles­tarian budaya silat Terumbu, Per­guruan Pencak Silat Terumbu Banten su­dah mengadakan dua kali Diklat silat Terumbu se Provinsi Banten.

Diklat tersebut bertujuan menyatukan dan menyamakan sembilan jurus dasar silat Terumbu yang wajib diajarkan kepada generasi muda.

“Namun dengan catatan, tidak boleh meninggalkan jurus yang sudah ada di padepokannya masing-masing,” tegas Yadi.

Di Kota Serang saja, ada 30 padepokan yang terdata dan sudah memiliki legalitas. Itu juga masih banyak peguron lain yang belum terdata. Maka dari itu, saat ini pihaknya berupaya melengkapi administrasi data semua peguron.

“Hal itulah yang kini tengah dilakukan oleh pengurus Peguron Terumbu baik di DPP Kota Serang dan Kabupaten Serang yakni pemutihan SK,” ujarnya.

Selain di Banten, Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten juga ada di Jawa Barat, Lampung, dan Kali­mantan.

Bahkan, banyak warga asli Banten di Lampung, yang sebelumnya belajar silat Terumbu, menyebarkan ajaran silat tersebut.

Untuk bisa menguasai satu jurus dari sembilan jurus dasar Terumbu, bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun.

“Saat ini, peminat silat Terumbu sangatlah banyak baik dari kaum lelaki maupun wanita,” ungkapnya.

Bagi murid yang telah me­nguasai sembilan jurus Terumbu, di­adakan sebuah acara syukuran atau se­lamatan jurus. Nah, momen tersebut akan digunakan mengundang Abah Yadi untuk silaturahmi. “Dari para sesepuh di setiap perguruan selalu ber­­pesan agar silat Terumbu terus diles­tarikan, apalagi jika mengingat dahulu ketika melawan penjajah, silat Terumbu ini menjadi ilmu yang sangatlah penting dan wajib dikuasai,” jelasnya.

Selain merawat tradisi silat Terumbu, perguruan ini juga aktif melakukan sosial, seperti mega santunan yatim piatu pada Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.”Ada seribu anak yatim piatu yang kami beri san­tunan,” jelasnya.

Peguron ini juga aktif membantu korban banjir di Kota Serang pada Maret 2022 lalu.

Selain itu, Yadi mengingatkan, untuk melestarikan sebuah kebudayaan tidak bisa hanya dengan kepedulian dari para pelestari budaya. Karena, pelestari budaya butuh dukungan dari pemerintah daerah. “Kehadiran pemerintah daerah sangat kami butuhkan. Bukan Terumbu saja, peguron-peguron yang lain juga butuh dukungan dari pemerintah daerah,” tegas Yadi. (drp/nda)