DECEMBER 9, 2022
Trendy

Biar Bekas Asal Berkelas.

post-img

Fashion menjadi bagian yang penting bagi kaum muda. 

Selain memperindah penampilan, 

juga dapat meningkatkan kepercayaan diri.


Tingkat fashion anak muda saat ini nampaknya ada peningkatan. Salah satunya terlihat dari viralnya fenomena Citayam Fashion Week di Jakarta. Banyak anak muda berlomba-lomba tampil dengan gaya beda.

Untuk tampil keren salah satunya dengan memakai barang branded. Namun tidak semua orang dapat memilikinya karena harus mengocek kantong yang lumayan.

Akan tetapi, bagi orang yang mengutamakan kualitas, barang preloved atau barang bekas menjadi salah satu pilihannya. Apalagi kalau barangnya original dan punya kualitas yang bagus. Sebagian orang lebih memilih barang bekas tapi branded ketimbang barang baru tapi KW. 

Konsumen preloved selama beberapa tahun ini memang mengalami peningkatan, khususnya di wilayah perkotaan yang rata-rata masyarakatnya mengutamakan gaya dan paham soal branded.

Berdasarkan data Boston Consulting Group (BCG) yang dilansir CNBC Indonesia, pasar barang mewah bekas memiliki nilai US$ 40 miliar secara global.

Survei yang melibatkan 7.000 responden yang dilakukan pada 2020, BCG mengungkapkan bahwa pasar barang mewah bekas akan terus naik dalam lima tahun ke depan, dengan kenaikan rata-rata 15 sampai 20 persen per tahun.

Alasan keberlanjutan diyakini sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan tren barang bekas mewah dalam tiga tahun terakhir. Menurut data BCG, saat ini 70 persen konsumen menyukai aspek berkelanjutan dari konsumsi barang bekas, dibandingkan tahun 2018 lalu yang hanya 62 persen konsumen.

Setidaknya ada empat faktor yang menjadi motivasi konsumen saat memutuskan membeli luxury preloved, yakni harga yang terjangkau, ketersediaan pilihan, keunikan barang, dan aspek sustainability.

Seperti yang disampaikan Penjual Pakaian Preloved asal Desa Sindanglaya, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang Evi Nisfi. Setiap bulannya ia dapat menjual 50 sampai 100 pakaian preloved branded.

Pasarnya, tentu anak-anak muda yang ngerti soal brand pakaian dan ingin tampil kece dengan harga terjangkau, seperti anak sekolahan dan mahasiswa.

Larisnya barang preloved ini terbilang wajar saja. Karena barang branded yang biasa dibandrol di atas Rp500 ribu, bisa dibeli di bawah Rp100 ribu. Terkadang, kualitasnya juga tidak jauh beda dengan barang baru. “Walaupun bekas, banyak juga barang yang like new,” ujar Evi.

Sebagian orang juga lebih mengutamakan gengsi kalau memakai barang KW. Orang tidak akan tau kalau pakaian original yang dikenakan ternyata second, yang penting branded.

Selain itu ada juga konsumen preloved yang beralasan lebih nyaman menggunakan barang preloved. Karena barang branded tentu punya kualitas yang bagus, meskipun tidak baru. 

Barang preloved ini biasanya didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar. Di wilayah Banten, juga sudah banyak bermunculan toko khusus jualan barang bekas berkualitas ini. 

Jadi, barang preloved bisa menjadi salah satu pilihan alternatif bagi kalian kaum mendang-mending tapi ingin tampil beken. (jek)