KIRISIS air bersih bak menjadi kawan bagi masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan di Kota Cilegon.
Kondisi itu sudah terjadi puluhan tahun. Mereka selalu sulit untuk mendapatkan air bersih terutama di musim kemarau.
Saat hujan, air bersih bisa didapatkan dengan menadah hujan. Kemudian sumber mata air pun banyak.
Sedangkan saat kemarau, sumber air mengecil, masyarakat bertumpu pada air rembesan akar pohon.
Seperti yang dialamibWarga di Lingkungan Watulawang, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.
Ada sekitar 167 KK atau 600 orang yang tinggal di lingkungan dengan kontur datar tinggi tersebut.
Di musim panas ini, warga bahkan harus mencari air di malam hari. Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa kebagian air.
Bahkan tak jarang, air yang didapatkan oleh masyarakat dalam keadaan keruh lantaran telah tercampur dengan tanah.
"Saya hampir setiap hari ambil air malam-malam," ujar salah satu warga, Maesaroh.
Maesaroh nekat ambil air malam hari karena khawatir tidak mendapatkan jatah air bersih saat waktu siang.
Selain malam hari, titik lokasi mata air yang menjadi lokasi pengambilan air pun berada di dalam hutan.
Air yang diambil oleh masyarakat adalah air rembesan tumbuhan yang keruh di sumur penampungan.
Warga biasanya secara bergantian mengisi jerigen penampung air untuk memenuhi kebutuhan.
Air keruh yang sudah diambil dari hutan yang berjarak satu kilometer itu, lanjut Maesaroh, kemudian di simpan untuk diendapkan dan disaring sebelum dipakai untuk konsumsi maupun mandi.
"Buat masak, buat mandi segala, dan buat minum juga. Jadi di rumah juga air keruh ini yang saya ambil disaring sama kain," katanya.
Ketua RT 01 Lingkungan Watulawang, Rusdi Safe'i menjelaskan, masyarakat sempat mendapatkan air bersih, namun saat ibu sudah tidak ada lagi.
"Bantuan dari pemerintah kalau dulu memang ada, dari PDAM itu mas ngajuin proposal paling seminggu di kirim dua tangki. Itupun tidak mencukupi kebutuhan masyarakat di sini," ujar Rusdi.
Apabila sudah tidak ada sumber air di hutan, Rusdi menambahkan, warga biasanya harus membeli air di wilayah yang lebih rendah dengan harga Rp15 ribu per tiga jeriken.
"Belinya cuman Rp500 per jerigen isi 20 liter ini mas, kalau di ongkosin sama tukang ojeg, Kan di sini warga banyak yang tidak mempunyai motor itu dalam tiga jerigen itu Rp15 ribu. Artinya alternatif nyari di hutan walaupun airnya keruh, ya gimana lagi wong adanya ini geh," ujarnya.
Rusdi berharap, ada upaya dari Pemerintah Kota Cilegon untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di daerah ini.
"Yang diinginkan yah dapat perhatian dari pemerintahlah, seenggaknya yah gimana lah bisa mungkin ada solusinya lah. Sekiranya bisa dibantu sama pemerintah atau pedulilah kira-kira sama warga saya di sini karena sangat dibutuhkan," pungkasnya.
Watu Lawang bukan saty-satunya daerah yang menjadi langganan kekeringan saat kemarau. Daerah rawan tersebar di dua Kecamatan. Yaitu Kecamatan Grogol dan Pulomerak.
Adapun lingkungan lain yang selalu mengalami kesulitan air adalah Lingkungan Buah Dodol, Lingkungan Kopi, dan Lingkungan Cisuru di Kelurahan Suralaya. Kemudian, Lingkungan Batu Payung, Lingkungan Batu Penawen, dan Lingkungan Cipala di Kelurahan Lebak Gede. Selanjutnya adalah Lingkungan Ciporong di Kelurahan Tamansari, dan Lingkungan Tembulun di Kelurahan Mekarsari. (Bam)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
