DECEMBER 9, 2022
Utama

Penuhi Kebutuhan Dalam dan Luar Negeri, Pemerintah Genjot Produksi Jagung Nasional

post-img

Airlangga Hartarto, Men­teri Koor­­dinator Bidang Pereko­nomian.

JAKARTA - Dalam rangka penguatan eko­sistem pangan dan penguatan pangan nasional, Pemerintah terus mencari so­lusi untuk meningkatkan produksi ja­gung guna memenuhi kebutuhan ja­gung dalam negeri, sekaligus juga un­tuk memenuhi permintaan pasar eks­por. Pemerintah telah menyiapkan ke­bijakan terkait percepatan pengem­ba­­ngan jagung dengan menetapkan stra­tegi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024.

Saat ini, beberapa negara pengekspor jagung menerapkan pembatasan ekspor guna memprioritaskan pemenuhan ke­butuhan dalam negerinya. Kebijakan ter­sebut mengakibatkan terjadinya kenaikan harga jagung dunia, selain juga sebagai dampak dari kondisi geo­politik global saat ini akibat konflik Ru­sia - Ukraina.

Rata-rata harga jagung mengalami pening­katan, dengan update rata-rata harga pada bulan Juni 2022 mencapai USD 335,71/Ton. Harga jagung inter­nasional mencapai harga tertinggi pada April 2022 sebesar USD 348,17/Ton dan cenderung mengalami sedikit pe­nurunan hingga Juni 2022.

Kecenderungan harga jagung dunia yang membaik pada Januari-Juni 2022, yang naik sebesar 21,53% dibanding periode sama 2021, menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor ja­gung. Melalui intensifikasi berupa pe­ningkatan produktivitas dan eksten­si­fikasi berupa perluasan areal tanam baru. Pemerintah berharap dapat mela­kukan peningkatan produksi jagung, baik untuk memenuhi ketersediaan di dalam negeri maupun memenuhi de­mand dari negara lain.

“Dengan harga global yang sekarang di angka USD335 per ton atau setara Rp5.000 per kg, Bapak Presiden mem­berikan arahan agar dilakukan pening­katan produksi, termasuk ekstensifikasi dari lahan yang ada,” ujar Men­teri Koor­­dinator Bidang Pereko­nomian Airlangga Hartarto dalam Keterangan Pers usai Rapat Internal Terbatas terkait Peningkatan Produksi dan Ekspor Jagung di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/08).

Menko Airlangga menambahkan “Perlu mendorong penggunaan bibit/ benih unggul (benih varietas hibrida jagung), ada 14 varietas yang diharapkan bisa meningkatkan prosuksi menjadi 10,68 – 13,70 Ton/ Ha. Pak Menteri Pertanian akan menyelesaikan regulasi dan ke­bijakan yang diperlukan.”

Untuk meningkatkan produksi Jagung nasional, sesuai dengan hasil Ra­pat Koordinasi Teknis di Kemenko Per­ekonomian dan Setkab, Ke­mentan telah menentukan 6 (enam) lokasi untuk peningkatan produksi jagung nasional, yaitu di Provinsi: (1) Papua; (2) Papua Barat; (3) NTT; (4) Maluku; (5) Maluku Utara; (6) Kalimantan Utara, dengan total luas lahan 141.000 Ha, di mana yang seluas 86.000 Ha merupakan areal tanam baru.

Perkiraan produksi jagung dengan Kadar Air (KA) 27,81%(Jagung Pipilan Basah di Petani), hingga akhir tahun bisa men­capai 25,3 juta ton. 

Sedangkan perkiraan produksi jagung dengan KA 14% (Jagung Simpan di Gudang) mencapai 18,7 juta ton. Se­dang­kan ke­bu­tuhan untuk industri, ter­utama in­dustri pakan ternak sekitar 15 juta ton, se­hingga masih ada cadangan jagung na­sional sekitar 3 juta ton, yang diprio­ritaskan un­tuk cadangan kebutuhan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga juga menyampaikan beberapa kebijakan dan program Pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi jagung nasional, diantaranya dengan memenuhi kebutuhan Alsintan untuk percepatan olah tanah, tanam dan panen, pasca panen (perontokan, pengeringan). Selain itu juga dengan penyediaan Silo dan Dryer di Sentra Produsen, atau penyediaan Mobile Dryer untuk menjangkau wilayah remote dan tersebar.

“Sesuai dengan yang diharapkan Bapak Presiden, dengan adanya intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi, khususnya melalui perluasan lahan baru, maka kita bisa meningkatkan produksi. Dan produksi ini tentu dipersiapkan sesuai dengan de­mand di dalam negeri dan juga bisa me­menuhi demand di negara lain,” pung­kas Menko Airlangga. (*)