DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Bakteri Jadi Penyebab Keracunan Puluhan Siswa

post-img

MONITORING: Puskesmas Kalanganyar melakukan monitoring ke kantin SMPN 3 Kalanganyar, kemarin.  (Yusuf Permana/Radar Banten)

LEBAK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak mengungkap penyebab keracunan 21 siswa SMP Negeri 3 Kalanganyar akibat bak­teri Escherichia Coli (E.Coli) yang ter­kandung dalam sambal dan nasi uduk. Akibat bakteri tersebut, para siswa mengalami gejala mual, muntah-muntah dan pusing.

Kepala Puskesmas Kalanganyar Yopi Yulianti mengatalan, bakteri itu ditemukan pada dua dari empat sampel makanan yang dikirimkan ke Labkesda Lebak. Ke­dua sampel itu, yakni nasi dan sambal. Se­dang­kan, dua sampel lainnya, yakni bihun dan kerupuk negatif dari paparan bakteri.

“Jadi dari hasil pemeriksaan Labkesda, tidak ditemukan zat kimia beracun. Dari dua sampel ganya ditemukan bakteri,” kata Yopi kepada Radar Banten, Jum’at (2/9).

Yopi mengatakan, bakteri itu diduga berasal dari lingkungan kantin yang kurang sehat. Sehingga, menyebabkan orang yang mengonsumsi makanan mengalami gejala mual, pusing hingga muntah-muntah.

“Dilihat dari lokasinya memang dekat de­ngan kebun. Jadi kemungkinan di sana ma­sih ada prilaku kurang baik seperti buang air besar sembarangan. Nah lalat yang membawa bakteri dari kotoran ma­nusia menempel ke makanan, yang akhir­nya menyebabkan para siswa kera­cunan,” jelasnya.

Sekretaris DPD Persatuan Perawat Na­sional Indonesia (PPNI) Lebak ini meng­ung­kapkan, ketika peristiwa keracunan ma­kanan itu terjadi dan menyebabkan pu­luhan siswa sakit, pihaknya langsung melakukan monitoring dan pemeriksaan ke kantin yang menjual nasi uduk.

Pada kesempatan itu, Yopi meminta ke­pada pemilik kantin untuk meningkatkan kebersihan lingkungan. Juga meminta kepada siswa sekolah untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mengon­sumsi makanan.

“Untuk langkah ke depan kita akan mela­kukan MoU alias kerja sama dengan Korwil Pendidikan Kalanganyar melalui program Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Yang mana pada program itu kita akan secara aktif memantau kondisi kesehatan dan kebersihan di lingkungan sekolah,” ungkapnya.

Untuk 21 siswa yang sakit akibat kera­cu­nan nasi uduk, kata Yopi, kini sudah da­lam keadaan sehat dan telah beraktivitas seperti biasanya.

“Alhamdulillah semuanya sudah sehat, sudah bisa sekolah lagi. Bahkan sudah pada lari-larian lagi, kita tetap ingatkan ke­pada para siswa untuk selalu jaga ke­bersihan dan kesehatan,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Lebak Dian Wahyudi mengatakan, untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, pihak sekolah harus memaksimalkan peranan UKS di lingkungan sekolah.

“Kita lihat kasus kemarin itu disebabkan adanya bakteri. Ini menandakan bahwa ling­kungan sekolah tidak sehat. Makanya kami minta agar sekolah lebih memper­hatikan kebersihan dan kesehatan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara memaksi­malkan peranan UKS di sekolah,” kata Dian.

Dian menuturkan, UKS merupakan pro­gram yang dirancang untuk me­ning­katkan kesehatan di lingkungan sekolah. Se­hingga dapat mencegah keracunan maupun penyakit lainnya di lingkungan sekolah.

“Pengelola diharap memperhatikan ke­bersihan agar kejadian ini tidak terulang lagi. Pihak sekolah senantiasa melakukan pengawasan agar pemilik atau pengelola warung terus menjaga kebersihan dan kualitas makanan,” katanya.

Anggota Fraksi PKS ini pun meminta ke­pada Dinas Pendidikan dan Dinas Kese­hatan Lebak untuk berkoordinasi dengan baik guna menjaga kesehatan anak sekolah.

“Anak-anak ini merupakan penerus bangsa. Tentunya mereka harus menda­pat­kan hak untuk mendapatkan pendi­dikan di lingkungan yang sehat,” pung­kasnya. (mg-02/tur)