DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Komoditas Hortikultura Dorong Inflasi

post-img

JAKARTA - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2022 mengalami inflasi sebesar 0,61 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat 0,40 persen (mtm). 

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan inflasi kelompok volatile food utamanya beberapa komoditas hortikultura, di tengah penurunan inflasi inti dan kelompok administered prices. 

Secara tahunan, inflasi IHK Juni 2022 tercatat 4,35 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya. Pada akhir 2022, inflasi IHK diprakirakan sedikit lebih tinggi dari batas atas kisaran target, dan kembali ke dalam kisaran target 3,0±1 persen pada 2023. 

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono meng­ungkapkan, Bank Indonesia terus mewaspadai risiko tekanan inflasi ke depan, khususnya terkait perkem­bangan harga komoditas global dan pangan. Serta dampaknya pada eks­pektasi inflasi serta menem­puh kebi­ja­kan-kebijakan yang diper­lukan untuk memastikan terkendalinya inflasi. 

“Bank Indonesia juga terus mem­perkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah,” kata Erwin dikutip dari keterangan resmi BI, Jumat (1/7).

Erwin menjelaskan, inflasi inti pada Juni 2022 tercatat 0,19 persen (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi Mei 2022 yang sebesar 0,23 persen (mtm). Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas emas perhiasan seiring dengan pergerakan harga emas global. Penurunan lebih lanjut tertahan oleh inflasi komoditas upah asisten rumah tangga dan kontrak rumah didorong mobilitas masyarakat yang meningkat. 

Secara tahunan, lanjut dia, inflasi inti Juni 2022 mencapai 2,63 persen (year on year/yoy), meningkat diban­dingkan periode bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,58 persen (yoy). Inflasi inti tetap terjaga di tengah permintaan domestik yang meningkat dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi.

Sementara itu, kelompok volatile foods pada Juni 2022 mencatat inflasi 2,51 persen (mtm), meningkat diban­ding­kan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,94 persen (mtm). Perkembangan tersebut ter­utama dipengaruhi oleh inflasi aneka cabai, bawang merah, dan telur ayam ras akibat kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi yang mengganggu produksi dan peningkatan harga pakan. 

Kata Erwin, kenaikan inflasi lebih lanjut tertahan oleh deflasi pada mi­nyak goreng seiring dengan ke­bijakan Pemerintah dalam mengen­dalikan minyak goreng serta deflasi daging sapi. Secara tahunan, kelompok vola­tile foods mengalami inflasi 10,07 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya sebesar 6,05 persen (yoy).

Sedangkan kelompok administered prices pada Juni 2022 mencatat inflasi 0,27 persen (mtm), menurun diban­ding­kan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,48 persen (mtm). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlam­batan inflasi tarif angkutan udara seiring normalisasi pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). 

“Penurunan inflasi lebih lanjut ter­tahan oleh inflasi rokok kretek filter seiring transmisi kenaikan cukai. Secara tahunan, kelompok adminis­tered prices menga­lami inflasi 5,33 persen (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan pada bulan sebelum­nya yang sebesar 4,83 persen (yoy),” jelas Erwin. (bie)