DECEMBER 9, 2022
Utama

Banten Diproyeksikan  Jadi Lumbung Jagung

post-img

MENUMPANGI: Wamentan RI Harvick Hasnul Qolbi (ketiga kanan) bersama Pj Gubernur Banten Al Muktabar (kedua kiri), Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kunto Arief (ketiga kanan), Danrem 064/MY Brigjen TNI Yunianto (ketiga kiri), Walikota Serang Syafrudin (kiri) dan Ketua Umum MAJ Eman Suryaman (ketiga kiri) menumpangi Corn Harvester saat memanen jagung, di Curugmanis, Curug, Kota Serang, Rabu (3/8). (qodrat/radar banten)


SERANG–Provinsi Banten diproyek­sikan menjadi salah satu lumbung jagung nasional. Potensi ini dimiliki Banten lantaran keberadaan lahan tidur cukup luas dan dekat dengan DKI Jakarta serta memiliki pelabuhan.

Demikian diungkapkan Wakil Men­teri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi usai membuka program Gerakan Bersatu untuk Ketahanan Pangan bertajuk ‘Panen Raya dan Gerakan Santri Tanam Jagung’ di Curug Manis, Kecamatan Cu­rug, Kota Serang, Rabu (3/8).

Menurut Harvick, persoalan pertanian bukan semata-mata tugas pemerintah, melainkan tugas bersama semua stakeholder. Dia juga mendorong agar Banten menjadi lumbung padi karena memiliki lokasi yang strategis. “Salah satu program kita (lumbung jagung-red) Banten ini, karena penyangga Ibukota Indonesia,” kata Marvick.

Acara tersebut dihadiri Panglima Kodam (Pangdam) III/ Siliwangi Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo, Penjabat Guber­nur Banten Al Muktabar, Danrem 064 Mau­lana Yusuf Serang Brigjen TNI Yu­nianto, Walikota Serang Syafrudin, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten M Agus Tauchid, dan sejumlah pejabat lain.

Marvick mengajak semua pihak, ter­utama petani, agar memanfaatkan la­han yang nganggur untuk ditanami ja­gung. 

Selama beberapa tahun ke belakang, Indonesia tidak lagi mengimpor jagung dari negara lain karena produksi di dalam negeri selalu surplus. Bukan tidak mung­kin, Indonesia ke depan bisa mengekspor komoditas jagung ke negara lain. “Kita sudah enggak impor jagung lagi, karena memang sudah surplus,” ungkap lelaki yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) itu.

Menurut Marvick, jagung adalah salah satu tanaman idola para petani, karena dianggap perawatannya mudah diban­ding­kan jenis tanaman lain. Sehingga, wajar jika tiap tahun petani jagung di In­donesia jumlahnya terus bertambah. 

“Jagung jadi idola, karena mudah, hamanya enggak banyak, menanamnya enggak sulit, tinggal panen,” katanya. 

Harvick mengaku pihaknya secara na­sional menargetkan produksi jagung dua juta ton hingga tiga juta ton per bulan. Target tersebut akan tercapai mengingat

hampir 40 persen petani di Indonesia adalah petani muda atau petani milenial. 

“Ada tiga juta petani baru di tahun 2020. Sementara tahun 2021 ada enam juta petani baru,” katanya.

Sementara itu, Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo me­ngatakan, pihaknya mengupayakan pem­bukaan lahan untuk tanaman ja­gung demi suksesnya program pe­me­rintah. 

“Ada 15 hektar sedang kita buka dan akan kita tanami jagung perdana. Di sini panen, di sana (Sajira Kabupaten Lebak-red) tanam,” katanya.

Dijelaskan Wibowo, dibutuhkan tiga tahapan untuk menanam jagung. Yakni, mem­perbaiki struktur lahan, membuka lahan, dan proses menanam jagung. Pa­ling utama tahapan tersebut adalah pem­bukaan lahan dan penataan lahan yang sudah rusak agar layak tanam. “Sam­pai saat ini, Kodam III/ Siliwangi masih terus mencari lahan lain yang bisa ditanami jagung,” terangnya.

Terkait program Kementan ini, 

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Pro­vinsi Banten, M Agus Tauchid mengaku masih melakukan pendataan keberadaan lahan-lahan kosong di wilayah Provinsi Banten. Salah satu yang menjadi fokus pihaknya bagaimana memanfaatkan lahan terlantar menjadi produktif. “Iya, salah satu tanaman­nya itu tanaman Jagung,” katanya.

Di lokasi yang sama, Ketua Umum Masya­rakat Agribisnis Jagung (MAJ) Eman Suryaman mengungkapkan, In­donesia dapat lolos dari krisis pangan dunia yang disebabkan perang Rusia dan Ukraina karena luasnya lahan per­tanian. “Kalau semua turun ke ladang, tidak ada tanah yang nganggur, tidak ada bukit yang gundul, Insya Allah pa­ngan kita akan melimpah, salah sa­tunya tanaman jagung,” katanya.

Menurut Eman, jagung dapat menjadi ma­kanan pokok seperti sebelum bangsa asing mengenalkan padi kepada masya­rakat Indonesia. “Di tanah apa saja, mau kering, gembur, bisa ditanami ja­­­gung. Bahkan tanah eks galian saja bisa ditanami jagung,” katanya.

Sementara Walikota Serang Syafrudin me­ngaku sempat disarankan oleh Wa­mentan agar lahan pertanian di Kota Se­rang ditanami Jagung. “Tanaman ja­­gung belum secara keseluruhan di­ta­nam di Kota Serang hanya ada di Curug, Wa­lantaka, dan Kasemen,” kata Syafrudin.

Na­mun, menurut Syafrudin, Kota Se­rang tidak dapat menjadi lumbung jagung ka­rena keterbatasan lahan. Saat ini hanya ada 4.000 hektare lahan per­tanian. Ta­naman jagung dapat dijadikan tanaman sela. “Kita menanam jagung hanya di 33 hektare lahan yang ada di Cipocokjaya, Taktakan, dan Curug,” katanya.


100 HEKTARE JAGUNG

Kodam III/Siliwangi melakukan pe­na­naman jagung jenis hibrida di lahan seluas 15 haktare di Kampung Cipahit, Desa Mekarsari, Kecamatan Sajira, Ka­bupaten Lebak. Secara keseluruhan ada 100 hektare lahan di wilayah Kodam III/ Siliwangi yang ditanami jagung.

Kemarin, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Wamen­tan Harvick Hasnul Qolbi, Pj Gubernur Banten Al Muktabar, dan Wakil Bupati Ade Sumardi melakukan penanaman ja­gung hibrida di atas lahan kritis.

“Hari ini (kemarin-red) kita lakukan pe­nanaman jagung secara serentak di seluruh wilayah Kodam III/Siliwangi de­ngan total luas lahan 100 hektare,” kata Pangdam kepada wartawan.

Penanaman jagung, kata Pangdam, untuk menjaga ketahanan pangan na­sional dan juga membantu warga khu­sus­nya mereka yang memiliki lahan kritis agar bisa menjadi tanah yang produktif.

“Seperti di tempat ini yang dulunya la­han kritis dengan hanya ada semak be­lukar, kita ubah menjadi ladang per­tanian jagung yang nantinya dapat ber­guna bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain penanaman jagung, Pangdam juga memberikan penyuluhan pertanian tentang penggunaan dan manfaat dari pupuk bios 44 yang dikembangkan TNI. 

“Sebelum penanaman jagung, kita su­dah melakukan penyemprotan pupuk bios 44. Pupuk ini merupakan jenis pu­puk cair yang dapat meningkatkan pro­duksi hasil pertanian, perikanan, dan peningkatan unsur hara tanah,” jelasnya.

Dia berharap tanaman jagung ini dapat menjadi kedaulatan pangan na­sional dan meningkatkan kesejahteraan petani.

”Kita berharap masyarakat paham me­ngenai kondisi tanah dan memanfaat­kan­nya, sehingga pertanian jagung ini da­pat secara langsung dirasakan man­faatnya,” harapnya

Keterlibatan TNI menurut Wamentan Harvick Hasnul Qolbi sangat mem­bantu suksesnya program pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. 

“Presiden juga berharap bisa tercipta kedaulatan pangan. Maka dengan begitu, permasalahan-permasalahan dan isu internasional, yakni resesi yang tengah menjadi permasalahan di negara-negara lain bisa terjawab,» ujarnya.

“Insya Allah Indonesia kuat. Sampai saat ini produksi kita masih surplus,” tambahnya.

Dia berharap masyarakat bisa maksimal memanfaatkan program pe­nanaman jagung yang diinisiasi oleh Kodam III/Siliwangi.

”Saya berpesan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan produktivitas. Jangan sampai masyarakat khususnya kelompok tani bermalas-malasan. Karena pemerintah saat ini sangat terbuka, silahkan ajukan atau kasih masukan secara langsung kepada kami di Kementrian Pertanian,” pungkasnya.(fdr-mg-02/tur/nda)