DECEMBER 9, 2022
Cilegon

Biaya Pandu dan Tunda Kapal Bertambah

post-img

CILEGON - Badan Usaha Pelabuhan (BUP) di Banten mengusulkan penam­bahan biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) atau fuel surcharge.

 Salah satu BUP yang mengajukan hal itu adalah Badan Usaha Milil Daerah (BUMD) Kota Cilegon yakni PT Pelabu­han Cilegon Mandiri (PCM).

Usulan itu pun sudah mendapatkan persetujuan dari Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Banten.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) INSA Banten, Agus Sutanto mengatakan, tiga badan usaha pelabuhan (BUP) di Kota Provinsi Banten mengajukan pe­nam­bahan biaya BBM kapal. Penam­bahan biaya tersebut, dampak dari naiknya harga minyak dunia pasca perang Rusia dan Ukraina.

“Sudah disetujui INSA (Penambahan biaya BBM kapal). Sudah kita sepakati fuel surcharges untuk semua operator pemanduan penundaan baik PCM, KBS (Krakatau Bandar Samudera) mau­pun Pelindo,” kata Agus, Selasa (2/8).

Agus mengatakan, proses pengajuan yang diusulkan tiga BUP terkait penam­bahan biaya BBM telah melalui meka­nisme. Usulan yang diajukan BUP awal­nya ditelaah oleh DPC INSA Banten. Setelah ditelaah usulan tersebut disam­paikan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) INSA untuk dikaji. Hingga akhirnya nilai tambahan biaya BBM disepakati. “Sudah kita tentukan berdasarkan guidance dari DPP INSA,” katanya.

Agus mengungkapkan, alasan INSA Banten menyepakati fuel surcharge ope­rasional jasa pandu tunda kapal tugboat karena memertimbangkan kenaikan harga BBM yang saat ini dinilai tidak rasional. “Karena situasi harga bahan bakar minyak yang sudah tidak rasional. Jadi fuel surcharges ini murni untuk meng-cover kenaikan BBM,” ucapnya.

Agus menerangkan, DPC INSA Banten bersama tiga BUP telah menyepakati bersama yang dituangkan dalam surat berita acara. Di mana hal tersebut dike­tahui oleh Kantor Syahbandar dan Oto­ritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten. 

“Berita acara kesepakatan yang sudah diketahui juga oleh KSOP Kelas 1 Banten sebagai Regulator di Pelabuhan Banten,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT PCM, Muhammad Willy mengatakan, pihaknya sejak awal 2022 telah membuat estimasi pendapatan dan biaya. Biaya BBM untuk operasional kapal tugboat PCM, pihaknya menganggarkan Rp 10 ribu per liter. Saat Rusia dan Ukraina pecah, harga BBM melambung, bahkan saay ini di angka Rp 22.900 per liternya.

“Saat kita membuat estimasi budget diawal itu per liternya Rp 10.000. Sekarang akibat perang Rusia-Ukraina menjadi Rp 22.900 per liter. Biayanya lebih dua kali lipat,” keluhnya.

Willy tetap berusaha melakukan eks­pansi bisnis baru memberikan pelayanan pemanduan kapal tugboat di Perairan Utara Banten. Potensi kunjungan kapal mencapao 270 unit setiap bulannya. PCM melakukan kerjasama operasi (KSO) dengan berbagai pemilik kapal tugboat. Saat ini sudah ada delapan kapal tugboat yang di kerjasamakan untuk melayani pandu tunda di Perairan Banten Utara.

“Selama KSO berjalan, pada bulan April, kita sudah melayani 28 kapal, Mei 39 kapal, Juni 50 kapal, Juli perkiraan saya bisa 70 kapal. Memang itu tidak mudah, karena harus kerja sama dengan banyak pihak,” tuturnya.

Memang kata Willy terdapat penam­bahan pendapatan dari kerja sama KSO. Namun dari 8 kapal tugboat, biaya yang dikeluarkan untuk 3 kapal milik PCM begitu besar. Besaran penambahan biaya yakni biaya BBM inilah membuat estimasi yang direncanakan tidak sesuai ekspektasi. (bam/air)