DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Biaya Perbaikan Jembatan Ditaksir Rp200 Juta

post-img

MENYEBERANGI SUNGAI: Masyarakat menyeberangi Sungai Ciberang menggunakan perahu karet di Cipanas, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)

LEBAK - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Lebak saat ini tengah menghitung biaya perbaikan jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Cuping dan Nagerang di Desa Haur Gajrug, Kecamatan Cipanas. Tim Dinas PUPR Lebak sudah turun ke lapangan untuk menginventarisir kerusakan jembatan dan biaya yang dibutuhkan ditaksir Rp200 juta.

“Alhamdulillah, kemarin tim sudah turun dengan melakukan survei secara lang­sung di lokasi jembatan,” kata Kepala Dinas PUPR Lebak Irvan Suyatupika kepada Radar Banten, Rabu (3/8).

Berdasarkan hasil survei, kerusakan hanya pada sling jembatan yang terputus akibat kondisinya sudah berkarat. Sedangkan bagian jembatan yang lain masih baik.

“Kalau kita lihat yang rusak itu hanya kawat slingnya saja. Semen­tara, pondasi dan lantai jembatan masih bagus dan masih bisa dipakai,” jelasnya.

Menurutnya, kerusakan pada jem­batan disebabkan kurangnya pe­me­liharaan dari Pemerintah Desa (Pem­des). Untuk itu, dirinya berharap kepada Kades Haur Gajrug dan pe­me­rintah desa yang lain untuk me­rawat aset infrastruktur di desanya masing-masing.

“Kalau kita lihat itu kerusakannya hanya di kawat sling yang sudah ber­karat saja. Padahal seharusnya Pemdes bisa memelihara jembatan itu yang sudah dihibahkan Pemkab ke desa. Paling cuma habis Rp20 juta per tahun untuk pemeliharaannya,” ungkap Irvan.

Untuk biaya perbaikan, dirinya mem­perkirakan akan menghabiskan anggaran kurang lebih Rp200 juta.

“Kalau estimasi sementara itu sekitar Rp200 juta untuk perbaikan kawat sling. Nanti perbaikannya akan kita ajukan melalui Biaya Tidak Terduga (BTT),” jelasnya.

Sementara itu, Indah salah seorang anak sekolah asal Kampung Cuping berharap agar jembatan penghubung di kampungnya itu dapat segera diperbaiki. Karena, ia takut jika harus be­rangkat sekolah dengan menye­berangi Sungai Ciberang menggu­nakan rakit atau perahu karet.

“Takut Pak kalau pakai rakit atau perahu karet. Kita harap jembatannya bisa diperbaiki supaya berangkat sekolah bisa diantar orangtua pakai motor lagi,” harap Indah. (mg-02/tur)