DECEMBER 9, 2022
Proud

Sukses Padukan Anggrek dengan Budaya Betawi

post-img

MATRA Studio terpilih sebagai peme­nang sayembara desain Bundaran Ma­ruga, Ciater, Kota Tangerang Selatan pada Jumat, 30 September 2022 lalu. Perusahaan arsitektur yang berafiliasi dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN), BSD Serpong ini dipercaya mendesain Bundaran Maruga dan kawasan di sekitarnya menjadi sebuah trademark (ikon) baru Kota Tangsel. 

Di tangan arsitektur-arsitektur muda ini, wajah Kota Tangsel mulai diubah. Perempuan berambut pendek menge­nakan celana kebaya ini bernama Rizki Tridamayanti Siregar. Dia adalah ketua tim Matra Studio. 

Ia bersama empat orang rekannya yakni, Yasser Hafizs, Sy. Hafizs Shahab dan Zulkifli Suradin selama sebulan memutar otak mencari sumber-sumber inspirasi. Tugas mereka satu, membuat sebuah Trademark Kota Tangsel yang belum ada sebelumnya. 

“Sebenarnya proses desain itu yang sulit.  Pemkot Tangsel meminta kami membuat Trademark Kota Tangsel yang katanya belum ada. Jadi kita ditugaskan mencari ikon Kota Tangsel itu apa?” ujarnya kepada Radar Banten di kampus UMN, BSD Serpong, Kota Tangsel, Senin 3 Oktober 2022. 

Menurut Rizki, setelah melakukan riset dan membaca berbagai sumber artikel, ia bersama tim kemudian sepakat memilih bunga Anggrek sebagai ikon Kota Tangsel. Bunga Anggrek ini juga yang akan menyatukan berbagai ornamen pada desain Bundaran Maruga dan kawasan disekitarnya. “Kalau di Jakarta ada Monas, di Surabaya ada buaya dan hiu, maka di Kota Tangsel ada bunga Anggrek,” ujar Rizki yang juga seorang dosen mengajar ilmu arsitektur di UMN ini. 

Rizki melanjutkan, Walikota Tangsel Benyamin Davnie juga menekankan pentingnya unsur budaya dalam pembuatan desain Bundaran Maruga, sehingga selain dari bunga Anggrek, ia dan tim juga kemudian merumuskan budaya Betawi ke dalam desain arsitektur. 

Ia kemudian menyadari rumah asli Suku Betawi Kota Tangsel sendiri arsitekturnya kental dengan berbagai ornamen dari suku-suku di Indonesia, seperti Melayu, Tionghoa dan Arab. Nuansa multi-etnis ini melambangkan kemajemukan di Indonesia. 

“Jadi sebenarnya arsitektur dari Suku Betawi Kota Tangsel itu sudah menjadi satu kesatuan. Dan kita jadi tidak sulit memadukan seluruh unsur budaya,” ucap wanita murah senyum ini. 

Rizki melanjutkan, setelah tercipta berbagai unsur budaya, ia dan tim kemu­dian merancang desain secara keseluru­han. Bahwa secara keseluruhan desainnya kemudian dipilih nama Blandongan Kota. 

Kata Blandongan sendiri merupakan adopsi dari nama Betawi yang artinya pelataran, teras atau serambi dari rumah suku Betawi Tangsel. Pihaknya mengingin­kan setiap orang yang datang dan me­masuki Bundaran Maruga beserta kawasannya akan merasa dijamu, karena sedang berada di area pelataran atau teras dari rumah besar Kota Tangsel. 

“Jadi pas orang masuk ke Kota Tangsel, eh ketemu blandongan Kotanya. Tempat kita pertama bertamu ke Tangsel, terus kita ngobrol-ngobrol di sana, kenalan dengan Kota Tangsel di sana, silahturahmi di sana,” jelasnya. 

Rizki kemudian sedikit bercerita bahwa mendesain sebuah bundaran bukan kali ini dilakukan. Rupanya sebelum memenangi Sayembara Desain Tugu Maruga, ia dan tim juga telah memenangi sayembara bundaran untuk Kota Batam. Bundaran Hang Nadim, Batam. 

Bahkan sebelum-sebelumnya pun sama. Selalu memenangi sayembara untuk desain bundaran. “Di akhir tahun 2019 kami juga memenangi sayembara untuk Bundaran Hang Nadim, Batam. Jadi, kita dibilang sama banyak orang spesialis desain bundaran, haha,” ucapnya tersenyum. 

Terpisah, Ketua panitia Sayembara sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Wahyunoto Lukman menjelaskan, pembangunan Bundaran Maruga akan dikerjakan tahun depan. Kendati demikian, proses pembangu­nannya sendiri dilakukan bertahap, tidak sekaligus jadi. “Pembangunannya ber­tahap, nanti misalnya pedestriannya (fasilitas penjalan kaki-red) dulu, skybridge (jembatan-red)-nya dulu atau mengarah pemba­ngunan tugu-nya dulu,” ujar Wahyu di Kantor Walikota Tangsel, Ciater, Senin 3 Oktober 2022. 

Wahyu mengatakan, pembangunan Bundaran Maruga juga akan disesuaikan dengan keuangan daerah. Oleh karena itu pembangunannya dilakukan bertahap. Karena bukan hanya sekadar membangun bundaran, melainkan membangun satu kawasan yang terintegrasi ke Pusat Pemerintahan Kota Tangsel. 

“Nanti disesuaikan dengan keuangan daerah. Kan pembangunannya bukan seperti membangun taman, ada gedung, SD, Puskesmas, belum perawatannya dan sebagainya,” jelasnya. 

Wahyu menambahkan pembangunan Bundaran Maruga tidak menggunakan anggaran multi years. 

“Kalau multi years itu satu paket gak dilelang lagi, tapi pembangunannya bertahap. Kalau ini nggak, jika kemam­puan­nya sekarang ini dulu, ya ini dulu dilelang, besok ada lagi. Itu dulu dilelang,” jelasnya. 

Menurut Wahyu, pembangunan Bundaran Maruga dipastikan tidak akan selesai 1 atau 2 tahun ke depan, sebab pihaknya lebih mementingkan kualitas bangunan itu sendiri. “Kalau DED-nya lebih efesien kenapa tidak. Tapi ibarat membangun rumah, kan beda kualitas barangnya,” ujarnya.(ful/asp)