DECEMBER 9, 2022
Cover Story

Tiga Warga Baduy Terjangkit Campak

post-img

Tiga warga suku Baduy di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, dilaporkan terinfeksi virus Campak. Hal itu diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan dari sampel darah yang diambil tenaga kesehatan (nakes) di Lebak pada September 2022 lalu. 

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan pada Dinkes Lebak Firman Rahmatullah mengatakan, pihaknya bulan lalu melakukan pemeriksaan dan mengirimkan lima sampel darah warga Baduy. Pemeriksaan sampel darah dilakukan, karena ada beberapa warga Baduy yang sebelumnya meninggal dunia.

“Bulan September lalu kita turun langsung ke wilayah pemukiman di Baduy untuk melakukan pemeriksaan. Dari 5 sampel yang kita periksa ke laboratorium di Jakarta, 3 diantara positif terinfeksi Campak, “ kata Firman kepada Radar Banten, Senin (3/10).

Firman menjelaskan, ketiga orang warga Baduy yang terkena Campak masih berusia anak-anak, yakni rentang usia 4-14 tahun. Ketiga anak itu saat ini sudah ditangani dengan diberikan pengobatan dan pemeriksaan intensif dari tenaga kesehatan.

“Karena Campak ini merupakan virus, maka kita lakukan penanganan dengan pemberian obat dan vitamin, kita tidak suntik. Karena suntik sendiri hanya untuk orang sehat saja dan alhamdulillah sekarang kondisinya sudah mulai membaik,” ujar Firman. 

Ia mengungkapkan, awal mula Dinkes Lebak turun tangan melakukan pemeriksaan ke wilayah pemukiman Baduy adalah untuk menindaklanjuti ramainya pemberitaan tentang 6 warga Baduy yang dilaporkan meninggal dunia dalam satu bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihaknya tidak menemukan adanya warga yang terinpeksi penyakit menular. Hanya ada 3 warga saja yang terkena Campak.

“Untuk yang meninggal kemarin itu kita belum tahu penyebabnya apa, karena kita hanya bisa melakukan pemeriksaan kepada orang-orang sekitarnya saja. Dan mungkin indikasinya sama, yaitu Campak, karena gejala yang dialami orang yang meninggal dunia sama dengan yang terinfeksi Campak tersebut,” ungkapnya.

Firman menerangkan, kasus Campak yang diderita warga Baduy merupakan kasus pertama. Untuk penanganannya sendiri, ia mengakui tenaga kesehatan mengalami kesulitan, karena selain medan yang berat, aturan adat juga turut membatasi tim untuk melakukan vaksinasi atau imunisasi Campak terhadap warga Baduy, khususnya Baduy Dalam.

“Kalau dari luar Baduy itu tidak ada kasus dan jika pun ada penanganannya dapat dilakukan dengan cepat. Sedangkan di Baduy kan ada aturan adat, apalagi Baduy Dalam yang sangat ketat dengan hukum adatnya. Karena Baduy sendiri tidak boleh divaksin,” terangnya. 

Tiga warga Baduy yang terinfeksi Campak diduga disebabkan penularan virus yang berasal dari pengunjung luar Baduy. Sebab, warga Baduy sendiri hanya beraktifitas di rumah atau di kebun saja. 

“Baduy kan nggak kemana-mana. Mereka cuma beraktivitas dari rumah ke kebun saja. Adapun mereka yang terkena campak, menurut saya itu berasal dari pengunjung yang sakit,” tukasnya.(mg-02/tur)