DECEMBER 9, 2022
Olahraga

Tragedi Sepak Bola Terbesar di Dunia

post-img

Duka tengah melanda sepak bola Indonesia, serta sepak bola secara global. Ratusan orang meninggal dunia setelah terjadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10) malam.

Suporter melakukan pitch invasion setelah Arema kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya. Situasi yang tidak kondusif memaksa petugas keamanan untuk bertindak. Alhasil, kericuhan dan kepanikan terjadi, terutama di area tribune Stadion Kanjuruhan.

Dari pengamatan di Kanjuruhan, banyak korban yang berjatuhan, baik karena sesak napas maupun karena terinjak-injak. Setiap ruang hingga pintu keluar stadion, banyak korban yang tergeletak. Beberapa di antaranya tidak lagi bernapas.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada Minggu (2/10) malam, mengumumkan jumlah korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan Malang sebanyak 125 orang.

Tragedi sepak bola akibat pitch invasion di Kanjuruhan ini bukan kali pertama terjadi. Tragedi sepak bola di Kanjuruhan ini terbesar ketiga di dunia. 

Tragedi Estadio Nacional adalah tragedi terbesar. Paling kelam dalam sejarah sepak bola dunia. 

Terjadi pada 24 Mei 1964, dalam pertandingan Peru versus Argentina. Peristiwa ini memakan korban 328 jiwa dan 500 lainnya luka-luka.

Hampir sama dengan yang terjadi di Kanjuruhan, pitch invasion. Penyebab kerusuhan di Peru karena suporter kecewa dengan keputusan wasit.

Fans tuan rumah menyerbu lapangan. Polisi lalu menembakkan gas air mata dan menyebabkan kerusuhan parah. Korban meninggal karena pendarahan internal, sesak napas, luka benturan.

Tragedi yang kedua terjadi di Ghana pada 5 Mei 2001 dalam pertandingan Hearts of Oak vs Asante Kotoko. Menurut laporan BBC, saksi mata menyalahkan polisi karena memicu penyerbuan fatal dengan menembakkan gas air mata dalam upaya memadamkan kekerasan.

Pertandingan tersisa sekitar lima menit ketika para penggemar Kotoko, yang timnya kalah 1-2, mmebuat keributan. Polisi menggunakan gas air mata. Kepanikan massal terjadi. Korban meninggal dunia mencapai 126 orang. (BN/don)