Zaenal Abidin, Koordinator LAKIP Pandeglang
HAMPIR sebulan ini, berita soal pengadaan sepeda listrik bagi RT dan RW di Kabupaten Pandeglang nyaris muncul tanpa henti. Baik di media online maupun di media cetak. Kegaduhan ini muncul lantaran proyek borong sepeda listrik ini akan menyedot dana Rp38 Miliar dalam APBD 2023 mendatang. Sejumlah kalangan menilai, rencana memborong sepeda listrik tidaklah terlalu urgen.
Mereka menilai alangkah baiknya uang sebesar itu dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting. Untuk perbaikan jalan rusak misalnya. Apalagi, saat ini masih ada 200 kilometer jalan yang menjadi kewenangan Pemkab Pandeglang dalam kondisi rusak berat.
Jika anggaran Rp38 miliar digunakan untuk pembangunan jalan, maka dapat membangun jalan beton sepanjang 10,8 kilometer dengan asumsi Rp3,5 miliar untuk pembangunan 1 kilometer jalan beton. Lalu, jika dipakai untuk membangun jalan dengan konstruksi hotmix, maka panjang jalan yang akan dibangun kurang lebih 25 kilometer. Karena anggaran untuk pembangunan satu kilometer jalan hotmix kurang lebih Rp1,5 miliar.
Tak heran jika menyeruak tudingan, rencana aksi borong sepeda listrik dikaitkan dengan ambisi politik menjelang tahun 2024 mendatang. Koordinator Lembaga Analisis Anggaran dan Kebijakan Publik (LAKIP) Pandeglang, Zaenal Abidin mengatakan, pengadaan sepeda listrik Rp38 Miliar yang diusulkan Bupati Irna Narulita membuat geger bumi Pandeglang. Itu ditandai dengan aksi demo baik dari pihak yang pro dan kontra. Yang agak menghebohkan, demo yang dilakukan sejumlah pengurus RT dan RW, belum lama ini.
“Pesannya saklek. Tanpa tedeng aling-aling, jangan pilih empat parpol yang tidak mendukung pengadaan sepeda listrik pada Pemilu 2024,” kata Zaenal Abidin, kepada Radar Banten, belum lama ini.
Abidin menduga, aksi demo mendukung pengadaan sepeda listrik itu muncul, karena ada yang berharap mendapat “insentif”. Dia menilai aksi demo itu berpotensi mengganggu komunikasi politik antara Parpol dengan Bupati Irna. Apalagi ketika anak Bupati Irna Narulita yakni Rizki Natakusumah, nanti didorong maju pada Pilkada 2024 mendatang.
Diketahui, empat parpol yang menolak pengadaan sepeda listrik itu adalah Partai Golkar, Gerindra, PKB, dan PPP. Jika semua kekuatan kursi mereka digabung jumlahnya separuh jumlah kursi yang ada di DPRD Pandeglang. Empat parpol ini mengusulkan lebih baik menaikkan insentif RT dan RW ketimbang memberikan “hadiah’ sepeda listrik.
Menurut Abidin, aksi demo yang menyuarakan jangan pilih empat parpol yang tidak mendukung pengadaan sepeda listrik itu dapat menimbulkan blunder bagi kekuatan politik Bupati Irna dan keluarganya. Soalnya, demo itu menyiratkan pesan, empat parpol itu seakan tak dibutuhkan dalam koalisi partai pada Pilkada 2024 mendatang.
“Jika empat parpol ini mampu menangkap sinyal ada upaya delegitimasi politik, besar kemungkinan empat parpol ini membuat poros baru memunculkan satu nama menjadi lawan berat Rizki Natakusumah di pilkada nanti,” katanya.
Mahasiswa Pandeglang Anggi Triana menambahkan usulan bupati soal pengadaan sepeda listrik ini sarat kepentingan politik. “Karena kalau memang usulan ini sebagai bentuk apresiasi atas kinerja para RT dan RW, seharusnya ada tahapan-tahapan yang lebih dulu dilakukan oleh Pemkab Pandeglang. Di antaranya, menganalisis sejauh mana terkait pemerataan soal insfrastruktur jalan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Aliansi Lembaga Independen Peduli Publik (ALIPP) Uday Suhada mengaku heran dengan sikap Bupati Irna Narulita yang tetap keukeuh menganggarkan pembelian sepeda listrik senilai Rp38 miliar.
“Apa alasan logis Bupati Pandeglang beserta enam fraksi di DPRD Pandeglang yang menyetujui pembelian sepeda listrik itu? Sebab di tengah kondisi infrastruktur jalan di Kabupaten Pandeglang yang masih memprihatikan, eksekutif dan sebagian anggota legislatif malah menganggarkan kebutuhan yang tidak terlalu penting,” katanya.
Lalu, diungkapkan Uday, logika apa yang dipakai oleh Bupati Pandeglang dan enam fraksi di DPRD Kabupaten Pandeglang yang menyetujui pembelian sepeda listrik untuk RT dan RW itu, di saat kondisi jalan masih banyak yang rusak.
Sementara itu, anggota DPRD Banten Dapil Kabupaten Pandeglang Ida Hamidah menilai, kebijakan Bupati Irna telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Bila isu ini terus bergulir tentu akan mengganggu jalannya pemerintahan di Kabupaten Pandeglang.
“Alangkah lebih baik ditunda dulu, sampai pembangunan jalan rusak yang menjadi kewenangan Pemkab Pandeglang rampung,” kata Ida kepada Radar Banten, Selasa (30/8) lalu.
Politikus PPP ini melanjutkan, sebagai wakil rakyat, tentu dirinya menerima banyak pengaduan dari masyarakat Pandeglang. “Tentu kami menghormati kewenangan Pemkab Pandeglang. Namun sebagai anggota DPRD Banten asal Kabupaten Pandeglang, tidak ada salahnya memberikan saran agar kebijakan pengadaan sepeda listrik ditunda dulu. Jangan dipaksakan tahun depan khawatir memicu konflik yang lebih besar di tengah masyarakat,” pungkasnya. (tim)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
