ANTRE BBM: Warga mengantre BBM di SPBU Mandala, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Sabtu (3/9).(Yusuf Permana/Radar Banten)
LEBAK - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan non subsidi yang diberlakukan sejak Sabtu (3/9) diprotes sopir angkutan kota (angkot). Mereka yakin, kenaikan harga BBM akan berdampak terhadap pendapatan sopir angkot di daerah.
Suryadi, sopir angkot jurusan Aweh-Sudamadik mengaku bingung dengan kenaikan harga BBM. Pasalnya, dengan harga BBM jenis pertalite yang sebelumnya Rp7.650 per liter saja, dirinya dan sopir angkot lainnya sudah kewalahan. Apalagi sekarang, harga pertalite ditetapkan Rp10 ribu per liter. Ini akan membuat sopir angkot makin susah.
“Makin ruwet Pak, BBM harga Rp7 ribuan saja, kita udah susah. Sekarang naik jadi Rp10 ribu, ya makin susah kita,” kata Suryadi saat ditemui di SPBU Mandala, Kecamatan Cibadak, Sabtu (3/9).
Dijelaskannya, dalam sehari bisa menghabiskan BBM 13 liter. BBM tersebut ia gunakan untuk mengantarkan para penumpang dari Terminal Aweh, Kecamatan Kalanganyar menuju Kecamatan Leuwidamar.
“Kemarin itu kita isi Rp100 ribu, tapi sekarang kalau naik jadi Rp10 ribu bisa ngabisin Rp130 ribu,” jelasnya.
Ia pun kebingungan apakah akan menaikan harga tarif angkot atau tidak, karena angkot sendiri saat ini sudah sepi peminat. Masyarakat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan angkutan umum.
“Bingung parah Pak. Kita juga kan nggak bisa naikin harga tarif sembarangan harus sesuai dengan aturan Dinas Perhubungan. Sementara, kalau dinaikin juga pasti bakal nambah sepi penumpangnya,” ujar Suryadi.
Senada disampaikan sopir angkot lainnya Agus. Ia mengungkapkan, kenaikan harga bahan bakar minyak tidak sebanding dengan penghasilan dirinya yang terkadang sepi penumpang.
“Nggak sebanding. Hari ini saja saya cuma dapat 4 penumpang. Jadi, hanya dapat uang Rp40 ribu, padahal buat beli bensin saja udah ngabisin Rp100 ribu lebih,” kata Agus.
Dirinya pun meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk mengkaji kembali dan membatalkan keputusan menaikan harga BBM yang dinilai menyiksa rakyak kecil seperti dirinya.
Dihubungi terpisah, keluhan juga disampaikan Dedi, pengemudi ojek online di Rangkasbitung. Ia berharap pemerintah bijak mencari solusi lain dibandingkan menaikan harga BBM.
Karena menurut Dedi, kenaikan BBM dapat berdampak terhadap harga bahan pangan pokok. Sedangkan, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit.
“Kita ini ngojek kadang ramai, kadang enggak. Kalau lagi apesnya sehari itu paling hanya dapat 2 penumpang. Itu juga nggak seberapa, nggak cukup buat beli makan anak sama orangtua di rumah. Apalagi sekarang, bahan pokok pasti naik lagi. Kalau kaya gini terus kita nyerah Pak,” ungkapnya.(mg-02/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
