DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Ekonomi Tumbuh 5,44 Persen

post-img

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) men­catat perekonomian Indonesia ber­dasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II tahun 2022 mencapai Rp4.919,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.923,7 triliun.

Ekonomi Indonesia triwulan II 2022 terhadap triwulan II 2021 tumbuh sebesar 5,44 persen (yoy). Dari sisi produksi, lapa­ngan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,27 persen. Sementara dari sisi penge­luaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 19,74 persen.

Sedangkan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 3,72 persen (qtq). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapa­ngan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 13,15 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 32,00 persen.

Kepala BPS Margo Yuwono dalam pe­maparan di kantor BPS, Jakarta, Jumat (5/8), menjelaskan, penguatan ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II 2022 terlihat pada semua wilayah. Kelompok provinsi di Pulau Jawa menjadi kontributor utama dengan peranan sebesar 56,55 persen dari ekonomi nasional, dengan kinerja ekonomi yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,66 persen (yoy) dibanding triwulan II-2021.

Margo Yuwono mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2022 dipengaruhi faktor global dan domestik. Kondisi ekonomi global dihadapkan sejumlah tantangan, dimana inflasi di beberapa negara sudah cukup tinggi, seperti Uni Eropa (9,6 persen), Amerika Serikat (9,1 persen), Inggris (8,2 persen), Korea Selatan (6,1 persen), dan Tiongkok (2,5 persen).

Demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 dan tahun 2023. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022 direvisi dari semula 3,6 persen menjadi 3,2 persen. Sedangkan untuk tahun depan, direvisi dari semula 3,6 persen menjadi 2,9 persen. “Sebaliknya untuk inflasi, IMF mem­proyeksikan baik inflasi maupun inflasi inti secara global mengalami peningkatan pada tahun 2022 dan 2023,” ujar Margo Yuwono.

Namun, di tengah tekanan global, ekono­mi mitra dagang Indonesia pada triwulan II tetap tumbuh positif. Sebut saja Tiong­kok yang tumbuh tipis 0,4 persen dan Amerika Serikat yang tumbuh 1,6 persen. Eks­por Indonesia ke Tiongkok untuk diketahui men­capai 21,52 persen, sedangkan ke Amerika Serikat mencapai 9,89 persen dari total ekspor.

“Secara umum dapat saya simpulkan bahwa untuk mitra dagang tetap tumbuh meski mengalami perlambatan, kecuali di Vietnam yang pada triwulan II tumbuh impresif 7,7 persen,” imbuh Margo Yuwono.

Dengan kenaikan harga komoditas global dan ekonomi mitra dagang masih tumbuh positif pada triwulan II, Indonesia mendapatkan windfall dari kondisi itu. Tercatat neraca perdagangan triwulan II sebesar USD 15,55 miliar, naik 148,01 persen secara tahunan, dan naik 67,85 persen secara kuartalan.

Dari dalam negeri, karena membaiknya penanganan Covid-19, maka mobilitas makin tinggi. Daya beli masyarakat juga terjaga didorong akselerasi konsumsi dan aktivitas produksi.

Indikator yang menggambarkan mening­katkan mobilitas yakni jumlah penumpang pada triwulan II 2022 yang meningkat untuk seluruh moda transportasi. Sementar itu, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk lewat pintu utama juga tumbuh signifikan sebesar 1.250,65 persen, dengan tingkat penghunian kamar (TPK) sebesar 9,74 persen.

Dari sisi pemerintah dan bank sentral, lanjut dia, berupaya melakukan kebijakan untuk meminimalkan dampak tekanan global, dengan memberikan subsidi dan ban­tuan sosial. Realisasi subsidi energi pada triwulan II 2022 tumbuh 11,4 persen yoy, dan bantuan sosial tumbuh 56,17 persen yoy.

Otoritas moneter atau Bank Indonesia (BI) juga tidak menaikan suku bunga acuan. Ini memberikan dampak kondusif pada pelaku usaha. Kemudian ada insentif pajak untuk mendorong aktivitas bisnis, lewat PMK 3 Tahun 2022.

Indikator lain yakni pendapatan masyarakat yang tecermin dari mening­katkan nilai tukar petani (NTP) pada triwulan II 2022, tumbuh 3,2 persen. Indeks penjualan eceran riil tumbuh 8,67 persen, pinjaman untuk konsumsi naik 6,42 persen, dan transaksi uang elektronik serta kartu debet/kredit tumbuh 10 persen. Adapun penerimaan PPh Pasal 21 juga tumbuh 19,77 persen, berdasarkan laporan Kemen­terian Keuangan.

“Pada triwulan II juga ada pemberian THR bagi ASN dan buruh serta pegawai. Ini menaikkan pendapatan masyarakat,” ujar Margo Yuwono. Kemudian, meski ada kenaikan namun inflasi inti masih terjaga yang tumbuh 2,63 persen secara tahunan pada akhir Juni.

Di sisi lain, aktivitas produksi juga menunjukkan perbaikan dengan PMI indeks yang mencapai 53,61, lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2021 yang di level 51,45. Impor bahan baku naik 27,69 persen, impor barang modal naik 21,34 persen, dan impor barang konsumsi naik 4,97 persen.

“Indikator lain menggambarkan aktivitas produksi tumbuh tinggi dilihat dari indikator konsumsi listrik industri dan bisnis yang masing-masing naik 13,37 persen dan 10,7 persen. Kapasitas produksi terpakai di industri pengolahan tumbuh 0,54 persen poin,” pungkasnya. (jpc/bie)