DECEMBER 9, 2022
Pandeglang

Angkot Mogok, Ribuan Pelajar Terlantar

post-img

TERLANTAR: Ribuan siswa di Pandeglang terlantar akibat aksi mogok angkot yang menolak kenaikan harga BBM, kemarin. (Dok Warga Untuk Radar Banten)

PANDEGLANG -Ratusan sopir ang­kutan kota (Angkot) di Pandeglang meng­gelar aksi mogok narik di Ter­minal Mengger. Akibatnya, ribuan pe­lajar di jalur Pandeglang-Labuan ter­lantar saat akan pulang ke sekolah, se­hingga sebagian pelajar harus jalan kaki.

Informasi yang dihimpun Radar Ban­­ten, aksi mogok tersebut meru­pa­kan bentuk protes kenaikan harga ba­han bakar minyak (BBM) yang dite­tapkan Presiden Joko Widodo. Pa­da pagi hari, para sopir angkot ma­­sih beroperasi. Namun, sekira pu­kul 10.00 WIB, para sopir angkot me­milih untuk mogok narik di Ter­minal Mengger.

“Siswa yang pulang sekolah sempat ke­bingungan dan terlantar karena ang­kot yang biasa ditumpanginya menghilang. Hingga membuat mereka ada yang memilih berjalan kaki dan me­nunggu datangnya jemputan dari ang­gota keluarganya,” kata Yusef war­ga Pandeglang kepada Radar Banten, Senin (5/9).

Dijelaskannya, angkot menghilang da­ri Jalan Raya Pandeglang-Labuan ka­rena menggelar aksi mogok narik. Ke­naikan harga BBM ini membuat biaya operasi membengkak. Akibatnya, pendapatan sopir angkot menurun drastis.

“Angkot yang tidak beroperasi ini biasa melayani trayek Pandeglang, Labuan, Mandalawangi, dan Banjar. Sementara untuk trayek lain, seperti trayek Pandeglang-Rangkasbitung tetap beroperasi,” jelasnya.

Yusef berharap, pemerintah bisa se­­gera mencarikan solusi karena im­bas dari kenaikan BBM ini tidak hanya mem­buat sopir angkot menderita tetapi juga berdampak terhadap dunia pendidikan. “Kalau BBM tak turun, ya pastinya akan ada kenaikan tarif angkutan. Pastinya kita selaku orangtua kena imbas juga,” jelasnya.

Rehana, siswi SMA Negeri 2 Pande­glang membenarkan, angkot meng­hilang dari jalan raya. Kondisi tersebut membuat para siswa tidak bisa pulang. Karena itu, siswa yang rumahnya de­kat, terpaksa jalan kaki. Sedangkan yang jauh menunggu dijemput ke­luarga. “Gak tahunya mereka lagi mo­gok. Ya terpaksa jalan kaki pulang ke rumah,” ungkapnya.

Ia berharap, angkot sudah kembali ber­operasi. Soalnya angkutan yang mu­rah dan terjangkau oleh para pela­jar saat ini naik angkot. “Kalau naik ojek kan lebih mahal. Makanya kalau angkot nggak ada, ya jalan kaki,” katanya. 

Salah seorang sopir angkot, Ahmad Fazarudin mengatakan, dirinya melakukan aksi mogok narik angkot karena harga BBM naik. “Aksi ini se­bagai bentuk protes karena kesal pada kebijakan pemerintah yang seenaknya naikin BBM jenis Pertalite. Dari harga Rp 7.650 menjadi Rp10.000 per liter,” ujarnya.

Imbas kenaikan ini terasa berat karena kalau menghitung per liter naiknya Rp 2.350. Akan tetapi kalau menghitung kebutuhan sehari-hari mencapai puluhan liter, maka penge­luaran untuk biaya operasi membeng­kak. Beban menjadi berat, bukan ka­rena harus menambah uang buat beli BBM tetapi sulitnya mencari penumpang. Jika ong­kos dinaikan maka imbasnya jum­lah penumpang akan berkurang.

“Karena sama-sama merasakan beban berat atas kenaikan BBM. Belum lagi proses pembelian diatur juga harus pakai aplikasi, sementara kita jarang yang pakai android,” tegasnya.

Banyaknya aturan dan kenaikan BBM membuat para sopir kecewa atas kebijakan pemerintah. Sedikitnya sebanyak 120 unit angkot melakukan aksi mogok di Pandeglang. “Kami me­nolak kenaikan BBM dan kami ha­rap tidak dipersulit saat beli BBM. Rencana aksi tiga hari,” ujarnya.

Kepala Bidang Angkutan Umum Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, Yat Hidayat menjelaskan, aksi mogok dipicu adanya kenaikan harga BBM. “Mereka menggelar aksi mogok untuk menyampaikan tuntutan menolak kenaikan BBM. Kita juga meminta kepada para sopir agar tidak mogok beroperasi,” harapnya.

Bupati Irna Narulita mengatakan, su­dah melakukan antisipasi dan me­ner­junkan semua tim untuk mengatasi persoalan tersebut di hari berikutnya. “Saya sudah perintahkan Dinas Perhubungan, Satpol PP serta OPD lain untuk menyiapkan kendaraan ba­gi anak-anak sekolah. Karena kha­watir kendaraan angkutan umum mogok beroperasi lagi,” kata Irna.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pandeglang Atang Suhana mengatakan pihaknya akan menyediakan angkutan bagi anak sekolah di Pandeglang. “Kita komunikasikan dengan dinas lain, kita bisa menggunkan mobil BUMDes untuk digunakan sementara,” jelasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masya­ra­kat dan Pemerintahan Desa (DP­MPD) Kabupaten Pandeglang Doni Hermawan mengatakan, dirinya telah meng­hubungi semua kades di Pande­glang agar mengeluarkan mobil BUMDes untuk digunakan sebagai angkutan anak sekolah. “Sudah diins­truk­sikan kepada para kades. Agr mobil BUMDes digunakan untuk mengangkut anak sekolah,” katanya. (mg-01-dib/tur)