DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Cabai Merah Tembus Rp100 Ribu Per Kilogram

post-img

MELAYANI KONSUMEN: Pedagang sayuran di Pasar Rangkasbitung melayani konsumen di lapaknya, kemarin.(Yusuf Permana/Radar Banten)

Imbas Kenaikan Harga BBM

LEBAK - Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berdam­pak terhadap kenaikan harga ke­bu­tuhan pokok di Rangkasbitung. Bah­kan, harga cabai merah yang awal­nya Rp50 ribu naik menjadi Rp100 ribu per kilogram.

Informasi yang dihimpun Radar Ban­ten, harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan, diantara­nya daging ayam Rp32 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Untuk harga cabai merah naik dua kali lipat men­jadi Rp100 ribu per kilogram.

Meti, pedagang sayuran di Pasar Rangkasbitung menyatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok terjadi sejak Minggu (4/9) atau sehari setelah pe­merintah mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi dan non subsidi.

“Harganya naik dua kali lipat sejak hari Minggu. Kan BBM naik Sabtu sore, sedangkan saya belanja itu Sab­­tu malam, harganya sudah naik jadi Rp100 ribu per kilogram,” kata Meti kepada wartawan, Senin (5/9).

Lonjakan harga cabai disebabkan biaya distribusi mengalami kenaikan, karena BBM naik signifikan. Untuk itu, Meti hanya mampu mampu mem­beli cabai 10 kilogram saja. Pa­dahal sebelumnya, dia bisa mem­beli 20 kilogram cabai merah untuk dijual lagi kepada masyarakat.

“Nggak mampu kalau beli dalam jum­lah banyak, karena kenaikan harga BBM mendadak dan modalnya juga kecil,” ujarnya. 

Dikatakan Meti, kenaikan BBM juga akan berhimbas terhadap bahan pa­ng­an lainnya. Oleh karena itu, dirinya ber­harap Pemerintah dapat de­ngan bijak mengkaji ulang ke­putusan menaik­an BBM dan mencari solusi lain yang dapat meringankan beban rakyat kecil.

Sementara itu, belasan pemuda yang tergabung dalam Komite Nasio­nal Pemuda Indonesia (KNPI) Keca­matan Malingping melakukan aksi dengan membentangkan spanduk juga keranda mayat ke Stasiun Pengi­sian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Ma­lingping, pada Minggu (4/9) ma­lam.

Koordinator lapangan (korlap) aksi Alif Ibnu Sina mengatakan, aksi itu dila­kukan sebagai bentuk protes kepada Pemerintah yang tidak me­miliki keber­pihakan terhadap masyarakat. Peme­rin­tah tidak lagi pe­duli terhadap kesu­s­ahan masya­rakat, khususnya dampak domino dari kenaikan harga BBM.

“Baru saja kita terbebas dari pan­demi Covid-19 yang sudah membuat per­ekonomian terpuruk. Tapi, Peme­rin­tah menaikan BBM. Tentunya itu akan me­nambah beban rakyat, sebab ke­naikan harga BBM akan ber­dampak terhadap kenaikan harga bahan pokok,” ujarnya.

Untuk itu, dia mendesak Presiden Jokowi untuk membatalkan kenaikan harga BBM. Karena dampaknya dirasakan masyarakat kecil di daerah.

“Jika kenaikan harga BBM ini tidak dibatalkan, itu artinya pemerintah sudah mati rasa terhadap kesulitan rakyat,” tukasnya.(mg-02/tur)