DECEMBER 9, 2022
Utama

Ramai-ramai Tolak Kenaikan BBM

post-img

TOLAK: Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gempur Banten berunjukrasa menolak kenaikan harga BBM, di DPRD Banten, Kota Serang, Senin (5/9).  (qodrat/radar banten)

SERANG – Gelombang demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terjadi di sejumlah daerah, kemarin. Sejumlah elemen mahasiswa menyuarakan agar kenaikan harga BBM dibatalkan.

Di Banten sendiri, ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan aliansi Gerakan Mahasiswa Pe­duli Rakyat Banten (Gempur Banten) menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPRD Banten.

Pantauan di lapangan, unjuk rasa mahasiswa di­mulai sore hari, yang difokuskan di depan ge­dung wakil rakyat Banten, di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Dalam aksinya, aktivis mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Kota Serang membawa spanduk yang bertuliskan aspirasi mahasiswa.

“Batalkan kenaikan harga BBM, atau mahasiswa akan turun ke jalan setiap hari,” kata salah seorang pengunjuk rasa di depan gedung DPRD Banten, Senin (5/9).

Koordinator aksi, Nur Latif kepada wartawan mengatakan, kenaikan harga BBM telah berdampak pada sektor lainnya, terutama pada harga komoditas pangan dan angkutan umum.

“Harga BBM belum naik saja, pemerintah gagal mengendalikan harga pangan, apalagi sekarang setelah harga BBM resmi dinaikkan pemerintah. Ujung-ujungnya rakyat kecil yang menderita,” kata Latif di sela-sela aksi.

Ia melanjutkan, kenaikan harga BBM lebih menakutkan dari Covid-19, karena tidak ada vaksinnya. “Seharusnya pemerintah lebih kreatif dalam mengimbangi ekonomi yang hari ini terjadi, ekonomi harus dikede­pankan untuk kepentingan rakyat,” katanya.

Oleh karena itu, tambah Latif, aliansi Gempur Banten menuntut tiga hal kepada pemerintah, yang menjadi isu utama dari semua gerakan mahasiswa menolak kenaikan harga BBM.

“Batalkan kenaikan harga BBM, turunkan har­ga bahan pokok, dan berantas mafia pe­nimbun BBM,” tegasnya. 

Di akhir paparannya, Latif meminta pimpinan dan anggota DPRD Banten ikut menolak kenaikan harga BBM bersama mahasiswa, guna melindungi rakyat yang tidak mampu yang terdampak besar akibat kenaikan harga BBM.

“Kami minta para wakil rakyat membela na­sib rakyat, dengan ikut menyuarakan penolakan kenaikan harga BBM,” pungkas Latif.

Hingga pukul 17.00 WIB, tidak ada satupun anggota DPRD Banten yang mendukung aksi mahasiswa, hal itu membuat para pengunjuk rasa memaksa masuk ke dalam gedung dewan. Namun upaya mahasiswa gagal lantaran ketatnya penjagaan aparat kepolisian.

Akhirnya mahasiswa memilih untuk mela­kukan aksi bakar ban sebelum mengakhiri aksinya, dan mengancam akan melakukan unjukrasa kembali hingga kenaikan harga BBM dibatalkan pemerintah. 

Penolakan kenaikan harga BBM juga disuarakan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pandeglang. Mereka menilai, kebijakan tersebut dinilai akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat dan meningkatkan angka kemiskinan. 

Untuk itu, aktivis PMII Cabang Pandeglang bakal bergabung dengan suluruh kader PMII di Indonesia untuk menyuarakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Apalagi, saat ini harga minyak dunia meng­alami penurunan.

Ketua Pengurus Cabang (PC) PMII Kabu­paten Pandeglang Hendri Syahadi menga­takan, menginstruksikan kepada pengurus dan anggota di semua daerah di Indonesia untuk menggelar aksi demonstrasi. Aksi tersebut diharapkan dapat didengar Presiden Jokwi, sehingga kebijakan menaikan harga BBM dibatalkan. 

“PMII Cabang Pandeglang akan ikut unjuk rasa, aksi mahasiswa di sana (Jakarta-red) dengan adanya surat dari PB untuk menolak kenaikan harga BBM,” kata Hendri kepada Radar Banten, kemarin.

Dia mengatakan, bakal menyuarakan berbagai tuntutan yang diharapkan bisa me­rubah keputusan pemerintah. “Menolak ke­naikan BBM dan meminta agar pe­merintah membongkar mafia yang ada di pertamina dan beberapa tuntutan lainnya,” jelasnya.

Ketua Komisariat PMII Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babunajah, Bagus me­ngatakan, pemerintah harus memper­timbangkan kembali penyesuaian harga BBM tersebut. Kata dia, kebijakan itu bisa menambah penderitaan masyarakat di semua daerah di Indonesia.

“Kenaikan harga BBM ini kan kurang tepat. Harusnya dipertimbangkan kembali, per­ekonomian kita sedang terpuruk, masya­rakat akan terus menjadi korban kalau seperti ini. Jadi kita akan satukan persepsi agar BBM diturunkan kembali,” tegasnya.


BERDAMPAK

Pasca pemerintah menetapkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pengusaha truk melalui Asosiasi Pengusaha Truk In­donesia (Aptrindo) pun mengumumkan ke­naikan tarif.

Secara umum, kenaikan tarif yang dite­tap­kan oleh Aptrindo mencapai 25 persen dari tarif yang selama ini telah berlaku.

Informasi penetapan kenaikan tarif tersebut disampaikan oleh Ketua Aptrindo provinsi Banten Syaiful Bahri.

“Sesuai hasil rapat pleno, setelah melalui perhitungan dan analisa, mengacu pada beberapa aspek, tidak hanya karena kenaikan harga BBM,” ujar Syaiful, Senin (5/9).

Dikatakan Syaiful, untuk truk kenaikan bervariasi, sedangkan untuk kendaraan besar secara umum 25 persen.

“Contoh kenaikan tarif ke Jakarta untuk ban enam ke atas dari Rp3 juta jadi Rp3.750.000 jadi kenaikannya 25 persen,” papar Syaiful.

Diakui Syaiful, kenaikan harga BBM yang belum lama ini terjadi menjadi salah satu faktor naiknya tarif truk.

Namun selain karena itu, ada beberapa faktor lainnya yang membuat para pengusaha terpaksa menetapkan kenaikan tarif.

Selain harga BBM telah naik, faktor lainnya ada­lah ikut naiknya harga sejumlah kom­ponen seperti harga truk, suku cadang, dan ban.

“Selama ini harga truk empat kali naik, spare­part sering naik, harga ban naik, ke­mudian inflasi,” ujar Syaiful.

Di sisi lain, sudah lima tahun pengusaha tidak melakukan kenaikan tarif truk 

“Itu yang jadi dasar kami melakukan penyesuaian harga. Ini bagian kita untuk ber­tahan. Kita sangat merasa kenaikan BBM,” tegasnya. 


SEMBAKO

Sementara itu, di Kota Serang, kenaikan har­ga BBM diperkirakan berdampak besar terhadap kenaikan harga sembako. Untuk itu, Pemkot Serang memantau perkembangan harga di sejumlah pasar. “Memang keliha­tannya kecil tapi bisa semua item, karena im­pact-nya cukup besar kenaikan BBM ini,” ujar Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Per­dagangan (DinkopUKMperindag) Kota Serang Wasis Dewanto saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Kata Wasis, kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan perdagangan juga bukan ha­nya dipengaruhi oleh BBM. Tapi, keter­sediaan serta supply cukup berpengaruh besar terhadap sektor perdagangan. “Apalagi ditambah dengan adanya kenaikan harga BBM. Nanti kami akan kerja sama dengan dinas ketahanan pangan. Pemantauan harga juga kami memang melakukannya setiap hari,” terangnya.

Hingga, kemarin. Kata Wasis, pihaknya belum bisa memastikan dampak langsung kenaikan harga BBM pada sektor perdagangan. Seperti, harga telur ayam negeri yang saat ini harganya cukup tinggi, termasuk bawang merah dan cabai. “Karena kalau telur sudah naik sebelum BBM naik, telur kan banyak faktor, salah satunya ketersediaan hingga iklim,” katanya.

Wasis menjelaskan, kenaikan harga BBM bisa berpengaruh terhadap harga-harga kebutuhan pangan. Sebab, dalam pemenuhan ketersediaan membutuhkan moda transportasi, sehingga akan ber­pengaruh terhadap harga. “Ya im­pact-nya luas. Telur dan beras juga kan memang sudah naik, mudah-mudahan tidak terlalu naik,” terangnya.

Wasis mengaku pihaknya saat ini tengah memperhatikan kestabilan harga beras yang menjadi bahan pokok masyarakat. Menurutnya, dalam dua tahun terakhir, kenaikan harga beras cukup signifikan. “Kalau beras stabil, kami agak tenang, karena belum ada substitusinya. Kemudian daging sapi dan kerbau juga kan naik,” katanya. (den-dib-fdr-bam/tur/air)