DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Optimalkan Potensi Ekonomi Digital

post-img

JAKARTA - Kementerian Perdagangan terus mengoptimalkan potensi sektor eko­nomi digital Indonesia yang tumbuh dengan pesat. Diperkirakan, pada 2030, kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional akan meningkat menjadi 18 persen dari total produk domestik bruto(PDB).

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam aca­ra World Cloud Show Indonesia Edition 2022 yang diselenggarakanoleh The Trescon Global Business Solutiondi Jakarta, Selasa (4/10). 

“Dalam mengoptimalkan potensi ekonomi digital Indonesia, saat ini Kementerian Perdagangan fokus pada pengaturan, pembinaan, dan pemantauan niaga elektronik (niaga-el), peningkatan ekspor melalui platform digital, perdaga­ngan fisik aset kripto, digitalisasi pasar tradisional dan usaha mikro, kecil, dan me­nengah (UMKM), sistem peman­tauan dan pelaporan harga dan stok ba­rang; serta negosiasi perdagangan digital,” ung­kap Wamendag dikutip dari siaran pers.

Wamendag menjelaskan,  sebagai  im­plementasi  transformasi  digital di  bi­­dang  perdagangan, Kementerian Perda­gangan menargetkan digitalisasi 1.000 pasar rakyat dan 1.000.000 UMKM di seluruh Indonesia.  

Saat ini sudah  terdapat  2.047 pasar  rak­yat menggunakan situs web pasar melalui Sistem Informasi Sarana Perda­gangan (SISP), 10 pasar rakyat on-boar­ding pemasaran secara digital, dan 51 pasar rakyat telah melakukan transaksi nontunai melalui QRIS.

Untuk UMKM dan pedagang tradisional, 326 tradisional pasar di 42 kecamatan dengan 106.702 pedagang lokal telah me­nerapkan e-retribusi dan 9,7 juta pe­dagang UMKM telah melakukan tran­saksi  nontunai  melalui  QRIS.  Jum­lah  ini  akan  terus  meningkat  se­iring  ber­­­­­kem­­bang­­­nya program. 

Menurut Wamendag, berdasarkan Gross Merchandise Value (GMV), nilai transaksi niaga-eldi Indonesia pada 2022 diproyeksikan mencapai Rp526 triliun atau tumbuh 31,1 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didu­kungoleh meningkatnya penetrasi internet dan meningkatnya konsumen digital di Indonesia.

Wamendag  menambahkan,  pertum­buhan  ekonomi  digital  Indonesia  juga  ber­dampak  pada perdagangan aset digital. Nilai transaksi aset kripto pada 2021 tercatat sebesar Rp859,4 triliun atau tumbuh lebih dari 1.200 persenpada 2020.Sedangkan, total nilai transaksi pada Januari—Agustus 2022 tercatat sebesar Rp249,3 triliun.

Di sisi lain, jumlah pelanggan aset kripto terdaftar di Indonesia sampai dengan Agustus 2022 tercatat sebesar 16,1 juta pelanggan dengan rata-rata kenaikan jum­lah pelanggan terdaftar sebesar 725 ribu pelanggan per bulan.

 “Ke depan, Kementerian Perdagangan terus bersinergi dengan seluruh pe­mangku kepentingan demi terciptanya eko­sistem ekonomi digital yang solid. Dengan begitu, sektor ekonomi digital Indonesia nantinya  dapat  memberikan  dampak  yang  lebih  optimal dan ber­­manfaatbagi masyarakat,” pungkas Wamendag. (bie)