KUNJUNGI BADUY: Menkes melakukan kunjungan kerja ke Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kemarin. (Dok Dinkes Lebak)
LEBAK-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Rumah Sakit (RS) Universitas Indonesia dalam penanganan stunting di wilayah suku Baduy. MoU ditandai dengan launching program telemonitoring pemeriksaan ibu hamil dan dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Lebak Nurul mengatakan, penanganan stunting di wilayah suku Baduy perlu melibatkan semua elemen masyarakat. Mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), masyarakat, dan pihak swasta.
“Penanganan stunting di Baduy perlu perhatian semua pihak, tidak bisa dilakukan Pemkab Lebak saja. Namun semua pihak harus terlibat. Untuk itu, kita menyambut baik adanya MoU dengan RS UI ini,” kata Nurul kepada Radar Banten, kemarin.
Ia menjelaskan, dalam MoU tersebut RS UI memberikan alat USG untuk ibu hamil kepada Puskesmas Cisimeut. Alat itu bisa dibawa para bidan untuk melakukan kontrol saat Posyandu. Juga akan terhubung secara langsung ke dokter spesialis kehamilan di RS UI.
“Para bidan ini sebelumnya sudah melakukan pelatihan untuk mengoperasionalkan alat USG yang terhubung dengan dokter spesialis di RS UI. Nantinya, bidan itu bisa menyambungkan sarana konsultasi bagi ibu hamil di kawasan adat Baduy,” jelasnya.
Menurutnya, USG itu nantinya akan mencegah terjadinya stunting. Karena nantinya ibu hamil akan dipantau kesehatannya secara langsung oleh dokter spesialis di RS UI. Meski demikian, kata Nurul, masih terdapat permasalahan lainnya dalam penanganan stunting di Baduy, salah satunya keterbatasan yang disebabkan oleh aturan adat.
“Baduy ini kan spesial dengan aturan adatnya, jadi ada aturan yang mesti diikuti seperti tidak boleh memakan binatang kaki empat dan lain-lainnya. Sementara, salah satu faktor stunting di sana itu kan disebabkan kurangnya asupan protein. Makanya nanti kita akan mengusulkan untuk pemberian bantuan berupa nugget kepada ibu hamil ataupun anak yang masih berusia 1.000 hari kehidupan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Cisimeut Dede Herdiansyah mengatakan, di Baduy ditemukan adanya 94 bayi di bawah usia lima tahun (balita) yang menderita stunting. Menurutnya, penanganan stunting di Baduy tidak mudah mengingat kondisi geografi di sana.
“Data itu kita peroleh dari hasil pemeriksaan kesehatan dikala melakukan Posyandu di beberapa kampung di Baduy,” kata Dede.
Dikatakannya, pihak Puskesmas sendiri sudah membentuk tim yang bertugas untuk melakukan Posyandu secara door to door secara rutin setiap bulan.
“Alhamdulillah program Posyandu selalu kita rutinkan setiap bulannya dan itu kita lakukan dari satu kampung ke kampung lainnya. Walaupun kita harus naik turun gunung, tapi Insyaallah kita akan selalu diberikan kesehatan dan semangat untuk melayani masyarakat,” pungkasnya.(mg-02/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
- NUSANTARA metro disway
- FOKUS DISWAY
- TRAVELISTA
