DECEMBER 9, 2022
Utama

Kasus PMK di Banten Meluas

post-img


 

SERANG – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Banten semakin meluas. Kini ada lima daerah di Banten yang dilaporkan terdapat temuan penyakit tersebut. Bahkan, totalnya kini mencapai ratusan kasus.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengatakan, berdasarkan data kumulatif kemarin, ada 418 kasus se-Banten. “Itu ada yang proses penyembuhan, sembuh hingga potong paksa,” ujar Agus, kemarin.

Agus mengatakan, jumlah kasus PMK di lima daerah bervariatif. Rinciannya, Kota Tangerang Selatan dua kasus, Kabupaten Serang 11 kasus, Kabupaten Pandeglang 28 kasus, Kabupaten Tangerang 124 kasus, dan tertinggi di Kota Tangerang sebanyak 253 kasus.

Jumlah tersebut naik cukup signifikan dibanding pada 30 Mei 2022 lalu. Saat itu, jumlah kasus PMK tercatat hanya ada 42 kasus yang tersebar Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Serang.

Di Banten, lanjutnya, hanya ada tiga kabupaten/kota yang masuk zona hijau karena hingga kemarin belum ditemukan kasus hewan ternak yang positif terkena virus tersebut. “Perkembangan kasus di Banten, di tiga kabupaten/kota zona hijau atau zero yaitu Kabupaten Lebak, Kota Serang, dan Kota Cilegon,” ujarnya.

Agus menegaskan, untuk mencegah penyebaran PMK, pihaknya telah melakukan pengetatan jalur keluar masuk hewan ternak. Untuk saat ini, Banten tak menerima hewan ternak yang berasal dari daerah endemis seperti Aceh dan Jawa Timur.   

Kata dia, pihaknya akan prioritaskan hewan ternak dari provinsi yang bukan merupakan endemis PMK. Dengan catatan, harus melakukan karantina 14 hari disertai (surat keterangan kesehatan hewan), pas masuk Banten sudah clear dalam keadaan bebas PMK,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik terkait PMK yang meluas karena pada dasarnya penyakit tersebut cukup mudah untuk disembuhkan. “Lalu yang terpenting, PMK tak bersifat zoonosis atau menularkan ke manusia,” tegasnya.

Agus menerangkan, jika dilakukan pemberian obat dan vitamin dengan benar, maka dalam masa 10 hari akan sembuh. PMK tidak zoonosis dan hewan ternak yang terkena aman untuk dikonsumsi selama proses pemotongan dan pemasakan sesuai protokol kesehatan.

Kata dia, PMK merupakan penyakit yang mudah untuk disembuhkan dengan berbagai catatan, baik dengan menggunakan obat kimiawi yang pihaknya berikan dari kementerian dan obat herbal yang disediakan peternakan di Banten.

Kemudian, lanjutnya, peranan pengawasan dari dokter hewan dari delapan kabupaten/kota di Banten ini sangat penting untuk ditingkatkan. Ditambah lagi dengan pengawasan keluar masuk

Kata dia, H-14 sebelum Idul Adha, beberapa pintu masuk baik di Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang sudah sepakat untuk menyetop. “Karena sesuai SOP-nya hewan ternak sebelum masuk di daerah pengiriman harus sudah karantina,” tegas Agus.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Distan Provinsi Banten Ari Mardiana membenarkan, kasus PMK di Banten mengalami kenaikan terutama dalam dua hari terakhir ini. Daerah yang mengalami peningkatan cukup tinggi terjadi di Kota Tangerang. “Kota Tangerang yang lumayan signifikan mungkin karena salah satunya mereka menyuplai untuk Jakarta,” ujarnya. 

Ia menambahkan, saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat untuk mengaktifkan pengetatan di daerah perbatasan, seperti di daerah Gunung Sindur, Bogor. Selain itu, pihaknya telah menyiagakan personel untuk berjaga.

Kata dia, stok obat-obatan terbatas, sehingga pihaknya meminta bantuan Asosiasi Obat Hewan Indonesia. “Alhamdulillah mendapat sedikit bantuan dari mereka dan bisa dimanfaatkan dibagikan ke kabupaten/kota,” ungkap Ari.

Walikota Tangerang Arief Wismansyah mengatakan, tingginya kasus PMK di Kota Tangerang lantaran banyak peternak yang mendatangi sapi dari luar daerah tapi tidak tahu kalau ada PMK. “Akhirnya kami karantina jadi mereka tahu,” ujarnya.

Ia mengatakan, rata-rata hewan itu didatangi untuk Hari Raya Idul Adha yang masih satu bulan lagi. Namun penyembuhan diperkirakan 10 sampai 15 hari.

Kata dia, PMK ini mudah menular ke sesama hewan seperti Covid-19. “Kena satu kena semua. Arahan dari Kementerian Pertanian, satu kena, seolah-olah semua. Makanya angkanya agak tinggi. Kami terus obati dan sosialisasi,” ujarnya. (nna/air)