DECEMBER 9, 2022
Utama

Nego Bangkrut

post-img

“Kita bangkrut”.

Dua kata bernada menyerah itu diucapkan secara resmi kemarin. Yakni di depan sidang pleno DPR Sri Lanka.

Yang mengucapkan adalah perdana menteri yang nama belakangnya sulit diucapkan itu: RanilWickremesinghe.

Presiden Sri Lanka GotabayaRajapaksa hadir. Ketika Gota masuk ke gedung parlemen teriakan keras terdengar dari kursi oposisi: pulang! Pulang! Pulang!

Yang diteriaki tetap melangkah ke kursi terhormatnya. 

Sang presiden mendengarkan apa saja yang diucapkan Ranil–yang juga merang­kap jabatan menteri keuangan itu.

“Pembicaraan kita dengan IMF gagal. Sudah buntu,” ujar Ranil. “Kita dalam status bangkrut,” tambahnya. Ranil belum lama diangkat jadi perdana menteri. Misi utamanya menyelamatkan ekonomi Sri Lanka. Ini kali kelima ia jadi perdana menteri.

Gagal. 

Lantas?

“Kita akan bertemu IMF lagi bulan depan sebagai negara bangkrut,” ujar Ranil. “Bukan lagi sebagai negara miskin atau negara berkembang,” lanjutnya.

Tentu sebuah negara tidak sama dengan satu perusahaan. Negara tidak bisa benar-benar bangkrut. Tapi prinsipnya 11-12 saja. 

Garuda Indonesia, setelah dinyatakan bangkrut malah dapat jalan keluar –sampai jalan itu tidak buntu lagi.

Anda masih ingat: setelah dinyatakan bangkrut Garuda diminta bikin usulan. Yang minta pengadilan. 

Dalam usulan itu Garuda minta po­tongan utang, potongan bunga, potongan cicilan, minta jangka waktu pembayaran yang panjang, dan banyak lagi. 

Garuda juga mengajukan program kerja: apa yang dilakukan agar bisa berlaba. Lalu pelan-pelan membayar utang yang sudah ringan itu.

Usulan Garuda itu diajukan ke para pe­nagih. Dilakukan voting. Mereka ter­nyata menyetujui permintaan Garuda itu. Garuda menang. Ia bangkrut tapi menang.

Sri Lanka pun akan mengajukan usulan ke IMF. Sama. Akan minta potongan uta­ng dan cicilan. Minta perpanjangan waktu pembayaran. Bahkan minta uta­ngan baru.

Usulan itulah yang akan dibawa Ranil ke Washington DC, markas besar IMF, bulan depan.

Tergantung IMF. Usulan itu akan dikaji di sana. Lalu didiskusikan. IMF tentu juga punya keinginan. Yang harus di­tampung di proposal itu. IMF tidak mau ban­tuannya tidak menyelesaikan masalah. Apalagi ini bukan baru sekali. Sri Lanka sudah 16 kali menyerah ke IMF –kali yang ke 17 ini sebagai negara bangkrut. 

Permintaan IMF Anda sudah hafal. Bahkan hafal urutannya. Kurangi belanja negara. Kurangi subsidi. Devaluasi. Liberalisasi. Jual aset negara. Naikkan pajak. 

Maka negosiasi akan berjalan amat alot. Panjang. Apalagi kalau parlemennya juga kuat. Ikut campur.

Tapi Gota adalah Presiden yang kuat. Diguncang kebangkrutan seperti ini pun ia tidak jatuh. Ia lebih kuat dari Pre­siden Soeharto di krisis 1998 –mungkin karena tidak ada Harmoko di sana.

Sambil menunggu usulan pemerintah Sri Lanka disusun, rakyat harus sabar. Ketika menunggu jalannya negosiasi rakyat harus lebih sabar lagi.

Sulit. 

Bahan bakar yang sudah dibatasi itu tinggal cukup untuk satu hari besok. Per­nah ada sedikit angin surga. Pekan lalu. Sebuah perusahaan swasta di­ka­barkan berhasil akan impor BBM. Se­banyak 3.700 ton. Tidak seberapa. Tapi tetap surga. Itu akan tiba tanggal 8 besok.

Ternyata berita itu diralat kemarin. Kedatangannya belum bisa ditentukan. Mungkin lebih baik tidak datang daripada jadi rebutan.

Tapi dokter perlu pergi ke rumah sakit. Tidak mungkin jalan kaki. Polisi juga perlu menjaga ketertiban. Semuanya perlu bensin. Dokter pun ikut demo dua hari lalu: minta jatah khusus bensin.

Sebenarnya nilai bail outSri Lanka tidak besar. Apalagi bagi Tiongkok. Utang USD 35 miliar tidak ada artinya. Tapi Tiongkok pilih jaga nama. Niatnya mem­bantu belum tentu menghasilkan ucapan terima kasih. Selama ini Tiongkok babak belur di dunia. Dituduh sebagai penyebab utama kebangkrutan Sri Lanka. Padahal pinjaman Sri Lanka ke Tiongkok hanya 10 persen dari seluruh pinjaman luar negerinya. Toh Tiongkok masih bisa mem­bantu lewat IMF.

Kebangkrutan Argentina dulu –tahun 2011– lebih mengerikan. Besarnya USD 81 miliar. Jumlah pinjamannya itu ditukar dengan performing security. Mirip performance bond. Sampai hari ini baru 25 persen pinjaman yang sudah dipotong itu bisa diselesaikan. Yang 75 persen lagi masih akan lama.

Bahkan kebangkrutanJamaica di tahun 2010 masih lebih berat dari Sri Lanka. Yang terbaru adalah kebangkrutan Yunani di tahun 2015. Tapi Yunani beruntung. Ia sudah tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa. EU pun menyelamatkan­nya. Sebagian asetnya dijual ke Tiongkok: pelabuhan besarnya itu.

Sri Lanka bukan Yunani. Yang sudah pasti tingkat kemiskinan di Sri Lanka akan meroket. Tahun ini saja, menurut statis­tik di sana, kemiskinan akan ber­tam­bah paling tidak 500.000 jiwa –dari 25 juta penduduknya.

Begitu sulit usaha mengentas ke­mis­kinan. Selama lima tahun terakhir kemis­kinan hanya berkurang 500.000. Kini, dalam sekejap, angka 500.000 itu kembali miskin. Begitu mudah membuat mereka miskin.

Apalagi, bulan-bulan ke depan ini, in­flasi akan mencapai 60 persen. Be­gitulah perhitungan para ahli ekonomi di IMF. Harga-harga akan melonjak. Angka 500.000 itu akan bertambahnol­nya.

Bank di Sri Lanka sudah tutup. Secara resmi. Belum tahu sampai kapan. Di Yunani dulu bank tutup sampai 20 hari. Agar tidak terjadi rush. Setelah itu bank dibuka lagi dengan batasan: nasabah hanya boleh ambil uang EUR 50 sehari. Hanya cukup untuk makan.

Bangkrutnya Yunani dan Argentina tidak akan sama dengan Sri Lanka. Me­reka bangkrut dari posisi kelas menengah. Sri Lanka bangkrut dari posisi miskin. Maka lembaga-lembaga keagamaan in­ternasional menjadi lebih penting di Sri Lanka. Terutama dalam menyalurkan bantuan darurat pangan dan kesehatan.

Memang ada kesulitan besar di sana. Kardinal Sri Lanka, Malcolm Ranjith, bisa menggambarkannya dengan sangat tepat. “Kesulitan terbesar di sini adalah ke­luarga GotabayaRajapaksa”. (*)