Aktivitas GAK Menurun, Ancaman Belum Hilang
SERANG – Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menunjukkan penurunan aktivitas. Namun, kabar itu belum menjadi alasan untuk lengah. PVMBG memastikan potensi erupsi masih ada, sementara pasokan magma dan gas serta dinamika gunung api terus dipantau selama 24 jam.
Kondisi inilah yang membuat Pemerintah Provinsi Banten memilih untuk tidak mengambil risiko.
Gubernur Banten, Andra Soni langsung memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9) sore. Bukan sekadar kunjungan lapangan, pemantauan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi pemerintah untuk memastikan skenario mitigasi benar-benar siap apabila aktivitas GAK kembali meningkat.
Andra mengatakan, hasil pemantauan PVMBG memang menunjukkan aktivitas gunung api mulai menurun. Tetapi, penurunan aktivitas tidak bisa dimaknai sebagai berakhirnya erupsi.
“Penurunan aktivitas bukan berarti aktivitasnya akan berhenti. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi, sehingga kita harus terus melakukan pemantauan,” ujar Andra.
Pernyataan itu menjadi penting di tengah catatan Badan Geologi bahwa Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi berulang dan menerus. Aktivitas tersebut menunjukkan masih adanya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung. Pemantauan seismograf juga mendeteksi tremor menerus dengan aktivitas tinggi.
Kondisi tersebut mengindikasikan pergerakan fluida dan pasokan magma baru dari dalam bumi menuju kawah masih berlangsung. Artinya, meski aktivitas saat ini menurun, gunung api tersebut belum sepenuhnya tenang.
Andra meminta pemerintah kabupaten/kota tidak hanya mengandalkan informasi pusat. Kesiapsiagaan harus dipastikan sampai ke tingkat paling bawah, termasuk jalur evakuasi dan lokasi pengungsian.
“Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegasnya.
Pemprov Banten juga mulai mengantisipasi salah satu dampak yang paling mungkin dirasakan masyarakat, yakni abu vulkanik. Sebanyak 5.000 box masker disiapkan untuk didistribusikan melalui Dinas Kesehatan ke wilayah prioritas.
“Sekarang lima ribu box masker kita distribusikan melalui dinas kesehatan ke wilayah prioritas,” kata Andra.
Langkah tersebut dilakukan karena sebaran abu tidak selalu mengikuti satu arah. Kepala PVMBG, Rita Susilawati menjelaskan, arah abu sangat bergantung pada kondisi angin dan dapat berubah dari hari ke hari.
Berdasarkan pemantauan 6 September, abu vulkanik bergerak ke arah barat menuju Selat Sunda dan Samudera Indonesia. “Arah abu ini akan sangat tergantung kepada arah angin, jadi bisa berubah-ubah setiap hari,” kata Rita.
Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto juga menjelaskan bahwa arah pergerakan abu dapat berbeda pada setiap lapisan atmosfer. Analisis VAAC Darwin menunjukkan abu pada ketinggian sekitar 6 kilometer bergerak ke arah timur laut hingga selatan, sedangkan pada ketinggian sekira 15 kilometer bergerak ke barat daya hingga barat laut. Potensi sebarannya bahkan dapat mencapai sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu. Meski demikian, keberadaan abu di atmosfer tidak otomatis berarti seluruh wilayah tersebut akan mengalami hujan abu di permukaan.
Di tengah aktivitas yang belum sepenuhnya stabil, PVMBG tetap mempertahankan rekomendasi agar masyarakat, nelayan dan wisatawan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Rekomendasi itu bukan tanpa alasan. Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga dan sebelumnya tercatat mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh serta fenomena menyerupai lava fountain.
Rita mengatakan, aktivitas gunung api tidak selalu bisa dilihat dengan mata. Karena itu, besar kecilnya letusan bukan satu-satunya dasar dalam menentukan tingkat ancaman. “Untuk gunung api, kita tidak bisa memastikan kapan erupsi akan terjadi maupun kapan aktivitasnya akan berhenti. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya,” jelas Rita.
PVMBG pun tetap melakukan pengamatan selama 24 jam. Sejumlah peralatan memang mengalami kerusakan, tetapi stasiun pengamatan lainnya masih saling menunjang. Perbaikan belum dilakukan karena beberapa peralatan berada di tubuh GAK yang kondisinya masih berbahaya bagi petugas. Bagi masyarakat Banten, pesan pemerintah sederhana: tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Aktivitas yang menurun bukan berarti ancaman sudah berakhir. (suf/air)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
