DECEMBER 9, 2022
Utama

Waspada Erupsi Lebih Besar

post-img

Aktivitas GAK Menurun, Ancaman Belum Hilang

SERANG – Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menunjukkan penurunan aktivitas. Namun, kabar itu belum menjadi alasan untuk lengah. PVMBG memastikan potensi erupsi masih ada, sementara pasokan magma dan gas serta dinamika gunung api terus dipantau selama 24 jam.

Kondisi inilah yang membuat Pemerintah Provinsi Banten memilih untuk tidak meng­ambil risiko. 

Gubernur Banten, Andra Soni langsung memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9) sore. Bukan sekadar kunjungan lapangan, pemantauan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi pemerintah untuk memastikan skenario mitigasi benar-benar siap apabila aktivitas GAK kembali meningkat.

Andra mengatakan, hasil pemantauan PVMBG memang menunjukkan aktivitas gunung api mulai menurun. Tetapi, pe­nurunan aktivitas tidak bisa dimaknai sebagai berakhirnya erupsi. 

“Penurunan aktivitas bukan berarti akti­vitasnya akan berhenti. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi, sehingga kita harus terus melakukan pemantauan,” ujar Andra.

Pernyataan itu menjadi penting di tengah catatan Badan Geologi bahwa Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi berulang dan menerus. Aktivitas tersebut menunjukkan masih adanya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung. Pemantauan seismograf juga mendeteksi tremor menerus dengan aktivitas tinggi.

Kondisi tersebut mengindikasikan per­gerakan fluida dan pasokan magma baru dari dalam bumi menuju kawah masih berlangsung. Artinya, meski aktivitas saat ini menurun, gunung api tersebut belum sepenuhnya tenang.

Andra meminta pemerintah kabupaten/kota tidak hanya mengandalkan informasi pusat. Kesiapsiagaan harus dipastikan sampai ke tingkat paling bawah, termasuk jalur evakuasi dan lokasi pengungsian.

“Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegasnya.

Pemprov Banten juga mulai mengantisipasi salah satu dampak yang paling mungkin dirasakan masyarakat, yakni abu vulkanik. Sebanyak 5.000 box masker disiapkan untuk didistribusikan melalui Dinas Kesehatan ke wilayah prioritas.

“Sekarang lima ribu box masker kita distribusikan melalui dinas kesehatan ke wilayah prioritas,” kata Andra.

Langkah tersebut dilakukan karena sebaran abu tidak selalu mengikuti satu arah. Kepala PVMBG, Rita Susilawati menjelaskan, arah abu sangat bergantung pada kondisi angin dan dapat berubah dari hari ke hari.

Berdasarkan pemantauan 6 September, abu vulkanik bergerak ke arah barat menuju Selat Sunda dan Samudera Indonesia. “Arah abu ini akan sangat tergantung kepada arah angin, jadi bisa berubah-ubah setiap hari,” kata Rita.

Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto juga menjelaskan bahwa arah pergerakan abu dapat berbeda pada setiap lapisan atmosfer. Analisis VAAC Darwin me­nunjukkan abu pada ketinggian sekitar 6 kilometer bergerak ke arah timur laut hingga selatan, sedangkan pada ketinggian sekira 15 kilometer bergerak ke barat da­ya hingga barat laut. Potensi sebarannya bahkan dapat mencapai sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu. Meski demikian, kebera­daan abu di atmosfer tidak otomatis berarti seluruh wilayah tersebut akan mengalami hujan abu di permukaan.

Di tengah aktivitas yang belum sepe­nuhnya stabil, PVMBG tetap memper­tahankan rekomendasi agar masyarakat, nelayan dan wisatawan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Rekomendasi itu bukan tanpa alasan. Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga dan sebelumnya tercatat mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh serta fenomena menyerupai lava fountain.

Rita mengatakan, aktivitas gunung api tidak selalu bisa dilihat dengan mata. Karena itu, besar kecilnya letusan bukan satu-satunya dasar dalam menentukan tingkat ancaman. “Untuk gunung api, kita tidak bisa memastikan kapan erupsi akan terjadi maupun kapan aktivitasnya akan berhenti. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya,” jelas Rita.

PVMBG pun tetap melakukan penga­matan selama 24 jam. Sejumlah per­alatan memang mengalami kerusa­kan, tetapi stasiun pengamatan lainnya masih saling menunjang. Perbaikan belum dilakukan karena beberapa peralatan berada di tubuh GAK yang kondisinya masih berbahaya bagi petugas. Bagi masyarakat Banten, pesan pemerintah sederhana: tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Aktivitas yang menurun bukan berarti ancaman sudah berakhir. (suf/air)