DECEMBER 9, 2022
Tangerang - Viral

16 Pelaku UMKM Finalis Pamerkan Produk di Aeon Mall, BSD

post-img

PAGEDANGAN--Sebanyak 16 pelaku UMKM finalis Apresiasi Kreatif Indonesia (AKI) berkesempatan me­ma­merkan produk mereka di Tangerang. Tepatnya, di Aeon Mall, BSD City, Pa­ge­dangan, Kabupaten Ta­nge­rang.

Mereka berasal dari 16 Kota se-Indonesia. Di antaranya Ta­sikmalaya, Cirebon, Yogya­karta, Tegal, Banjarmasin, Padang, Tangerang, Cilegon, Banda Aceh, Kendari, Jember, Jambi, Sidoarjo, Ambon dan Pekanbaru.

Direktur Kuliner Kriya dan Desain Kementerian Pari­wisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI Yuke Sri Rahayu, me­nga­takan 16 finalis ini ter­diri dari pelaku eko­nomi kreatif dari sektor kuliner, kriya dan fashion.

“Mereka adalah yang terbaik mewakili daerah mereka ma­sing-masing. Lalu kita ke­nalkan produk mereka di­sini,” ujar Yuke di Aeon Mall, BSD City, Pagedangan, Kamis (6/10).

Menurut Yuke, tujuan di­se­­lenggarakannya AKI ada­lah untuk memberikan ke­­­sem­patan kepada para pe­laku UMKM dan ekonomi kre­atif di daerah untuk unjuk karya melalui fasilitas pa­meran.

“Sehingga produk mereka bisa dikenal di daerahnya dan nasional, agar mereka terus berkembang,” ujarnya. 

Menurut Yuke, keberadaan pelaku UMKM di Indonesia sa­ngat berpengaruh meno­pang ekonomi dan penyum­bang lapangan kerja. Oleh sebab itu pihaknya akan terus mendukung tumbuh kem­bang UMKM.

“Karena pelaku UMKM me­mainkan peran penting se­bagai tulang punggung perekonomian bangsa, de­ngan 60 persen di­kontri­busikan oleh sub sektor ku­liner, kriya dan fashion,” je­lasnya.

Menurutnya saat ini, Ke­men­parekraf tengah fokus pada sejumlah program dan ke­giatan yang mem­bang­kitkan semangat dan ke­mam­puan untuk memulihkan sek­tor Parekraf.

Di tempat yang sama pelaku UMKM asal Banda Aceh, Ratu Nur Anisah yang me­ma­merkan produk kuliner asli Aceh mengaku terbantu dengan kegiatan ini.

Menurutnya, kesempatan me­mamerkan produknya ke luar daerahnya seperti ini membantunya mengenal­kan produknya secara luas. 

“Di pameran ini pembelinya tidak berhenti, ada saja yang datang belanja. Berbeda ke­tika saya buka stand di daerah saya, tidak sebanyak ini,” ujarnya.

Menurut Nur Anisah, bah­wa produknya oleh masya­rakat di luar daerahnya lebih di­terima karena belum ba­nyak yang tau. “Nah, ini jadi kesempatan saya mengenal­kan produk saya kepada masya­rakat yang belum tahu,” ujarnya. 

Nur Anisah sendiri men­jual ber­bagai makanan olah­an asli khas Aceh, se­perti nasi lemak Aceh dan ce­milan yang dibuat dari sing­kong dan bawang yang diolah dengan rempah-rempah asli Aceh. 

Menurutnya, omzet yang ia terima dari berjualan ku­liner ini mencapai Rp 100 juta-130 juta per bulan. (ful/asp)