DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

KBM di SDN Bojongleles Diungsikan

post-img

DIKOSONGKAN: Ruang kelas 5 SDN Bojongleles dikosongkan karena terganggu aktivitas kendaraan proyek Jalan Tol Serang-Panimbang, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)


Terdampak Pembangunan Jalan Tol Serpan

LEBAK-Kegiatan belajar mengajar (KBM) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Bojongleles, Kecamatan Cibadak, diungsikan ke ruang perpustakan. Karena ruang belajar yang biasa digunakan dilalui kendaraan pe­ngangkut material untuk pembangunan Jalan Tol Serang-Panimbang (Serpan).

Kepala SD Negeri 1 Bojongleles Suheri me­ngatakan, kendaraan proyek tiap hari lalu lalang di depan ruang belajar. Akibatnya, KBM terganggu dan keselamatan para siswa juga terancam. Untuk itu, kegiatan pem­belajaran diungsikan ke ruangan lain yang lebih aman dan nyaman.

“Ruang kelas itu posisinya pas di pinggir jalan yang menjadi akses ke lokasi proyek. Jadi kalau ada mobil melintas KBM ter­ganggu. Jalan itu setiap hari dilalui ken­da­raan proyek yang besar, seperti truk yang membawa paku bumi dan material lainnya,” kata Suheri saat ditemui di ruang ker­janya, Kamis (6/10).

Dijelaskannya, aktivitas lalu lalang ken­daraan proyek membahayakan para siswa. Apalagi, saat istirahat mereka bermain di luar ruangan. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti kendaraan yang terbalik dan menimpa ruangan tempat siswa belajar. 

“Selain berbahaya, aktivitas lalu lalang kendaraan proyek menganggu aktivitas KBM, karena menimbulkan suara bising. Bahkan jika ada mobil yang membawa paku bumi, kadang kerasa getarannya. Jadi siswa dan guru merasa tidak nyaman,” ujarnya. 

Untuk melanjutkan aktivitas belajar dan memberikan jaminan keamanan bagi para siswa maupun guru yang mengajar, pihaknya terpaksa mengungsikan 34 siswa ke ruang per­pustakaan. Walaupun dinilai tidak layak, karena tempatnya sempit, Heri mengaku tidak punya pilihan lain. 

“Para siswa ini pindah belajar ke ruang per­­pustakaan sejak Agustus. Awalnya me­reka sempat belajar di ruangan selama 3 bu­lanan. Tapi melihat resiko keamanan dan kenyamanan para siswa, kita terpaksa pindahkan,” ucapnya. 

Heri mengungkap, pihak sekolah se­be­lumnya didatangi perwakilan PT Wika se­­bagai pelaksana proyek Tol Serang-Pa­nimbang. Mereka meminta sekolah memberikan izin untuk menggunakan jalan poros desa sebagai jalan untuk lalu lalang kendaraan proyek. PT Wika pun membuat berita acara per­setujuan pemakaian lahan untuk akses proyek dengan pihak sekolah.  

Dalam berita acara yang dibuat pada 15 Juni 2022 itu tertulis PT Wika yang di­wakili Punto Bangun Wicaksono se­bagai Manager Kontruksi Jalan Tol Serang-Panimbang dan pihak sekolah yang diwakili Suheri. Adapun isi berita acaranya, yakni bidang lahan yang di­gunakan untuk akses sementara ke­ndaraan proyek berada di tepi jalan di dekat sekolah. Pihak kedua, yakni Suheri mengizinkan penggunaan jalan itu sebagai akses kendaraan pro­yek. Terdapat bangunan ter­beng­kalai yang akan dibongkar atas seizin pihak kedua.

Dalam berita acara itu juga disebutkan adanya biaya kerahiman Rp500 ribu yang ditanggung PT Wika untuk sekali pembayaran hingga periode 30 De­sember 2022. Dan juga disebutkan bahwa pihak pelaksana proyek akan segera melakukan perbaikan jalan yang dimaksud akses kendaraan proyek dan pemilik tidak akan menuntut kepada kontraktor proyek Jalan Tol Serang-Panimbang baik secara hukum maupun bentuk lainnya. 

“Saya nggak tahu akan seperti ini. Soalnya dulu bilangnya kalau yang le­wat itu hanya kendaraan kecil saja. Tapi sekarang kok ada mobil yang ba­wa paku bumi segala macam. Tahu kayak gini mah saya nggak bakal tanda tangan berita acara atau memberikan izin. Uang Rp500 ribu yang katanya se­bagai biaya kerahiman juga masih saya simpan, nggak saya gunakan sama sekali,” ungkapnya. 

Ia menceritakan, gegara adanya pro­­yek jalan tol, sekolahnya tidak per­­nah mendapatkan bantuan per­baikan atau rehabilitasi dari pe­me­rintah. Karena sekolah ini akan tergusur pembangunan jalan tol dan akan di­bangunkan kembali. 

“Rencana awalnya sekolah ini mau di­gusur dan sudah diberikan patok sebagai tanda bahwa lahan sekolah ini juga akan digunakan untuk jalan tol. Itu patok dipasang pada 2018 dan gegara itu sekolah kita nggak dapat ban­tuan. Makanya sekarang banyak ruang kelas, termasuk ruang per­pustakaan yang kondisinya rusak,” te­rangnya. 

Heri mengaku, sebelumnya pihak sekolah sudah mengirimkan surat kepada manajemen PT Wika untuk mem­bangun turap di sisi jalan yang digunakan untuk akses keluar masuk kendaraan proyek. Karena selain me­nye­babkan gangguan, rusaknya jalan akibat aktivitas kendaraan proyek itu juga kerap menyebabkan banjir dari jalan turun ke sekolah. 

“Kita sudah ajukan proposal dan langsung ditinjau sama pihak PT Wika. Tapi turap bakal dibangun jika proyek­nya selesai. Ya kita nggak bisa berbuat ba­nyak, sekarang kita cuma berharap adanya solusi. Karena kasihan anak harus sempit-sempitan belajar di ruang perpusatakaan,” terangnya.

Salah seorang siswa kelas 5 SD Negeri 1 Bojongleles, Galih mengaku tidak nya­man jika harus terus belajar di dalam ruang perpustakaan. Sebab, ruangan itu sangat sempit. 

“Nggak nyaman belajar di sini. Ja­dinya nggak fokus belajar. Kita pe­ngen­nya balik lagi belajar ke ruang kelas seperti dulu,” pungkasnya.(mg-02/tur)