DECEMBER 9, 2022
Olahraga

Komnas HAM: Aremania Tak Niat Serang Pemain

post-img

JAKARTA - Komnas HAM mulai merilis temuan awalnya untuk tragedi Kenjuruhan.

Seperti diketahui, 1 Oktober 2022 lalu, terjadi insiden memilukan saat ratusan korban harus meninggal di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, saat pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Laga yang berakhir dengan skor 2-3 ini berjalan lancar hingga peluit akhir dibunyikan wasit.

Namun, setelah laga ada dua suporter Arema FC yang turun dari tribun untuk bertemu dengan pemain. Aksi ini diikuti oleh Aremania lain yang berusaha untuk menyampaikan kekecewaan setelah kekalahan tim kesayangannya tersebut.

Melihat masa yang semakin banyak turun ke lapangan, pihak keamanan berusaha mengendalikan dengan tembakan gas air mata. Hal ini yang diduga kuat menjadi awal kepanikan suporter sebelum akhirnya berusaha mencari pintu keluar stadion yang menyebabkan kericuhan.

Komisioner Komnas HAM Bidang Pemantuan/Penyelidikan Choirul Anam membeberkan temuan awal pada insiden tragedi Kanjuruhan tersebut. Dia menegaskan jika invasi suporter yang turun ke lapangan bukan jadi faktor utama. Pasalnya, beberapa menit setelah pertandingan kondisi stadion masih bisa dikontrol.

“Kalau ada yang bilang eskalasi penanganan itu timbul karena suporter merangsek masuk ke dalam lapangan, sampai sore (5/10) ini, kami mendapat informasi bahwa tidak begitu kejadiannya,” kata Choirul usai melakukan penelusuran dan kesaksikan saksi di lapangan.

“Jadi ada constraint (batasan-red) waktu antara 15 sampai 20 menit pasca-wasit meniup peluit panjang, itu suasana masih terkendali, walaupun banyak suporter yang masuk ke lapangan.,” sambungnya.

Chorul menjelaskan jika suporter tidak berniat menyerang pemain Arema FC. Di sisi pemain, mereka mengaku tidak mendapatkan ancaman dari suporter.

“Kalau ada yang bilang mereka mau menyerang pemain, kami sudah ketemu dengan para pemain dan para pemain ini bilang tidak ada kekerasan terhadap mereka.”

“Para pemain tidak mendapat ancaman dan caci maki, mereka cuma bilang bahwa suporter memberikan semangat kepada para pemain. Ini pemain yang ngomong begitu ke kami,” ujarnya.

Choirul juga mempertanyakan tindakan pihak keamanan yang melepaskan gas air mata. Menurutnya, hal ini masih harus dilakukan penelusuran.

“Pertanyaannya sekarang, kalau dalam 15 sampai 20 menit itu situasinya masih kondusif, apakah diperlukan gas air mata yang membuat semua penonton panik?”

“Harus kalau tata kelola keamanan baik, tidak akan terjadi peristiwa memilukan seperti ini.”

“Jadi ini penting yang untuk meluruskan. Jangan sampai ada lagi yang bilang bahwa tindakan itu gara-gara suporter merangsek ke lapangan dan mengancam pemain, tidak begitu,” ujarnya. (BS/don)