DECEMBER 9, 2022
Utama

Egaliterianisme Haji

post-img

Oleh: Lukman Hakim

Setiap agama (misi profetik) dan peradaban senantiasa berupaya membangun struktur masya­rakat ideal. Struk­tural ideal ter­sebut se­bagai­mana di­maksud oleh para so­siolog, seperti Karl Manheim dan Peter L. Berger, di­ba­ngun atas gagasan-ga­gasan utopia yang coba di­bu­mikan da­lam ke­rang­k­a budaya dan pe­radaban yang tum­buh di tengah-te­­ngah masyarakat.

Hal yang dimaksud di atas oleh Karl Marx ada­lah terbitnya masya­­rakat tanpa kelas (sosialisme). Hanya saja masyarakat tanpa kelas a la Marxisme akan terkendala ketika masyarakat dihadapkan pada upaya mekanisme pembagian kerja dan distribusi kewenangan. Dalam ke­rangka yang demikian itu, untuk me­wujudkan masyarakat tanpa kelas sudah ba­rang tentu akan menem­ukan kebun­tuan, atau bisa dibilang gagal. 

Bagaimanapun masyarakat tanpa kelas mustahil terwujud, karena stratifikasi sosial adalah keniscayaan. Auguste Comte coba menengahi kebuntuan itu dengan altruisme. Altruisme digagas untuk membangun kepedulian dan membantu terhadap sesama dengan kerelaan hati. Altruisme meniscayakan distribusi kapital dari kelas borjuasi kepada kaum proletar tanpa harus ada perubahan sosial yang radikal (revolusi). Di sisi lain, altruisme menjadi pengisi kekosongan gap antara kelas borjuasi dan proletar dalam perspektif Marxisme. 

Sementara itu, masyarakat ideal dalam ke­rangka Islam, disebut dengan masya­rakat madinah. Kata madinah secara ge­nerik berarti sama dengan al-dîn yang berarti agama. Hanya saja al-dîn di sini dapat juga dimaknai sebagai keterikatan masyarakat dengan sebuah perjanjian spiritual dan tunduk atas aturan-aturan yang digariskan oleh ajaran-ajaran agama Islam. Madinah, sebagaimana dimaksud oleh Nurcholish Madjid, adalah masya­rakat berperadaban yang disinari oleh ca­haya Ilahiah. Dengan demikian masya­rakat madinah dibangun berdasarkan prinsip-prinsip egaliterianisme. Dalam masyarakat madinah, stratifikasi sosial bersifat fungsional, sama sekali tidak me­nentukan derajat dan kehormatan se­seorang di hadapan orang lain. Nabi ber­sabda, “kemuliaan seseorang diten­tukan oleh derajat ketakwaannya.” 

Tentu ada jalan menuju masyarakat ideal tersebut. Yang utopis tentu saja dapat menjadi aktual. Agama menuntun manusia dengan beragam ritual yang tidak hanya merefleksikan ketundukan ma­nusia atas perintah Tuhan, tapi juga sebagai sarana pembentukan infrastruktur me­nuju masyarakat ideal tadi. Salah satu aspek dari ritualisme dalam Islam yang dimaksud adalah ibadah haji. Lalu bagaimana nilai-nilai ritual haji itu dapat membangun kesalehan pribadi, sekaligus kesalehan sosial guna membangun masyarakat yang egaliter? 


Peleburan Individu

Para sosiolog, seperti Durkheim, menye­but­kan bahwa masyarakat terbentuk aki­bat peleburan individu. Peleburan itu disebabkan, di antaranya oleh faktor-faktor agama melalui beragam ritual. Ba­nyak doktrin menyebutkan bahwa aktivitas berjamaah dalam ibadah lebih utama dibandingkan dilaksanakan secara in­dividual. Misalnya fiqh menyebutkan, bahwa shalat berjamaah itu pahalanya 27 derajat dibandingkan shalat sendiri.

Marx menandai peleburan sosial itu melalui revolusi. Individualisme men­cip­takan masyarakat industri yang pada ujungnya melahirkan kelas borjuis dan proletar. Dalam perspektif Marxisme, keduanya menciptakan konflik untuk saling mengeliminasi satu dengan lainnya. Konflik itu hanya dapat dihapuskan de­ngan peleburan setiap individu dalam masyarakat tanpa kelas melalui revolusi.

Namun revolusi membutuhkan effort yang besar, butuh kekuasaan yang kuat, bahkan tidak jarang membuat jatuh korban yang banyak. Oleh sebab itu ba­nyak il­muwan yang tidak menyarankan pe­leburan individu itu melalui cara ter­sebut. 

Memang altruisme Comte memiliki kesan kesukarelaan di dalam upaya pe­leburan individual ke dalam masya­rakat. Hanya saja altruisme mungkin terjadi terhadap individu-individu yang tercerahkan, yang rela menurunkan ego dan menyediakan dirinya untuk ber­gabung bersama lainnya. Pada ke­nyataannya peleburan tetap mem­bu­tuh­kan unsur paksa agar setiap in­dividu yang terikat ke dalam masyarakat itu dapat berjalan secara efektif.

Agama memiliki keduanya: unsur memaksa (revolusi) dan kerelaan atau anjur­an (altruisme). Ada beberapa ritual yang dikerjakan karena agama me­maksanya (wajib) untuk dilaksanakan. Di sisi lain ada juga beberapa ritual yang dikerjakan karena disarankan ka­rena mengandung kebaikan untuk in­dividu dan sosial. Agama memberikan funish dan reward bagi yang taat (muslim) dan lalai (ingkar). Di samping itu di da­lam praktek ritual ada beberapa per­syaratan dan rukun yang mesti dipenuhi. Misalnya shalat hanya sah dilaksanakan bagi yang telah ber-wudlu dan memenuhi rukun dari shalat itu sendiri.


Ihram dan Wuquf

Prototype masyarakat ideal yang dicita-citakan Islam terdeskripsikan di dalam praktek ibadah haji. Setiap Jemaah haji di­haruskan melaksanakan rukun haji, yaitu mengenakan kain ihram dan wuquf di pada Arafah pada 9 Dzulhijjah. 

Kedua rukun itu menggambarkan pro­totype masyarakat muslim yang ideal, yaitu masyarakat yang egaliter. Ihram, dua lembar kain putih yang hanya di­li­litkan ke tubuh menggambarkan bahwa ma­nusia di hadapan Tuhan wajib me­nu­runkan ego dan derajat (pangkat) sosial yang melekat pada dirinya. Tidak peduli rakyat jelata atau penguasa, kaya-miskin, semua diwajibkan mengenakan­nya. Di hadapan Tuhan semua atribut so­sial yang disematkan dari pakaian yang dikenakan harus ditanggalkan. Tidak ada keagungan dan kepapaan, se­mua itu fana di dalam ihram, karena yang Agung itu milik Tuhan.

Sementara wuquf di padang Arafah ada­lah proses pembauran dan peleburan set­iap individu di hadapan Tuhan untuk ber­kumpul secara berjamaah dengan lainnya. Tidak ada keistimewaan untuk setiap individu dalam wuquf berdasarkan strata sosial. Semua orang mengambil tempat yang sama, di padang Arafah. Setiap orang di Arafah diperintahkan untuk merenungi “egonya” (kediriannya) sebagai makhluk Tuhan. 

Arafah menjadi tempat perjumpaan atau peleburan individu-individu yang sebelumnya terceraikan oleh kepentingan duniawi yang fana. Sebagaimana dikata­kan dalam berbagai kitab, bahwa Arafah adalah juga tempat perjumpaan dan pe­nyatuan kembali moyang manusia, Adam-Hawa, yang sempat terpisahkan sekian lama karena tergoda bujuk rayu dunia.

Para sufi mengatakan, ego dan nafsu duniawi pangkal dari nelangsa manusia. Terkadang itu juga dibalut dalam kerangka stratifikasi sosial yang membutakan, melahirkan keserakahan manusia. Dalam kerangka Marxisme sering kali konflik terjadi karena stratifikasi sosial tadi. Kaum borjuis yang enggan mengulurkan tangan pasti akan melahirkan konflik sosial yang keras. Tidakkah dalam kehidupan dikatakan bahwa satu sama lainnya saling membutuhkan. Itulah sejatinya makna manusia sebagai zoon politicon.

Ihram mengajarkan tentang cara melepaskan semua ego dan meletakkan stratifikasi sosial sebagai kemuliaan. Stratifikasi itu mesti difahami dalam konteks fungsional sebagai bagian dari mekanisme pembagian kerja. dengan demikian cita-cita altruisme dalam masyarakat dapat terwujud. Sedangkan dalam wuquf dilukiskan sebagai upaya individu untuk melebur ke dalam masyarakat. Arafah menjadi saksi bahwa ego meluruh di hadapan Tuhan.

Dengan demikian menciptakan masyarakat ideal tidak harus memilih jalan revolusi. Agama menyediakan perangkat normatif untuk proses peleburan individu ke dalam sosial. Melalui haji, setelah ego ditanggalkan melalui ihram dan wuquf berjamaah di Arafah, hendaknya melahirkan para Jemaah haji yang tercerahkan untuk membangun masyarakat yang egaliter. Stratifikasi sosial tetap berlaku, tapi harus disadari sebagai fungsi-fungsi sosial. Ulama sebagai penyuluh umat, umara yang memimpin menuju masyarakat yang diberkahi Tuhan. Fungsi itu tidak boleh menjadi aksesoris kemuliaan seseorang di hadapan lainnya. Egaliterianisme tetap meniscayakan adanya stratifikasi sosial itu, tapi kesadaran untuk turun membantu kepada yang lemah lebih diutamakan. Namun semua itu harus diikat dalam sebuah kontrak sosial yang membebaskan satu dengan lainnya. Itulah ciri dari masyarakat madinah yang pernah dibangun oleh Nabi, di Madinah. Masihkah itu utopis? (*)

Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang