Alek sebenarnya bukanlah lelaki berparas tampan, perekonomian pun tak bisa diandalkan karena pekerja serabutan. Tapi setiap jatuh cinta, wanita yang ia incar pasti berhasil dinikahi.
“Saya cuma modal omongan doang, ngerayu, tapi jadi tuh nikah,” kata Alek saat curhat dengan Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Kamis (7/7).
Alek merupakan warga asli Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, tapi sekarang tinggal di Surabaya, merantau dan bekerja sebagai kuli bangunan proyek perumahan.
Kisah asmara Alek dimulai ketika ia masih bujangan, tapi jatuh cinta dengan janda anak dua di kampungnya, kita panggil saja Odah (39).
Waktu itu Alek masih berusia 25 tahun, sedangkan Odah 29 tahun tapi bodinya masih bagus ditambah parasnya juga cantik. Alek langsung kesemsem saat pertama melihatnya.
Dengan modus rayuan gombalnya Alek mendekati Odah. Awalnya Odah tak merespon dan menganggap Alek hanya remaja galau yang iseng mendekatinya.
Tapi Alek terus berusaha bahkan sampai berani mengajak menikah, padahal waktu itu ia belum punya pekerjaan. Tapi berkat keberaniannya itu, Odah pun luluh, mereka menikah dengan pesta sederhana.
Rumah tangga mereka awalnya baik-baik saja, bahkan dikarunai anak dan membuat Alek jadi sosok suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab. “Saya kerja apa aja tuh, kuli bangunanlah, tukang angkut sampah, semua saya kerjain,” katanya.
Tapi rumah tangga mereka cuma bertahan dua tahun, Alek tak tahan dengan sikap Odah yang mulai banyak menuntut, terlebih tanggungan biaya anak-anaknya yang tak sedikit.
Alek menduda dan jadi pemuda yang tak jelas di kampungnya. Ia malah sering main ke teman-temannya di luar kota. Saat main ke Pandeglang, Alek dikenalkan dengan Ida (23), janda ditinggal mati suami.
Sejak itu Alek makin sering bulak balik Cikande Pandeglang, hanya untuk bertemu dengan Ida, biasa, rayuan gombalnya jadi andalan. Satu tahun kemudian Alek menikah dengan gadis asal Malingping, Pandeglang itu.
“Saya pindah tinggal di Pandeglang, di sana kerja menggarap kebun mertua,” katanya.
Tapi lagi-lagi, pernikahan Alek hanya bertahan setahun lantaran masalah ekonomi. Alek kembali menduda dan pulang ke Cikande.
“Pusing saya, sudah mah duda, pengangguran lagi,” keluhnya.
Sampai akhirnya Alek diajak bekerja ke Surabaya oleh mandor proyek kuli bangunannya. Alek diminta berangkat sendirian naik kereta ke Surabaya.
“Pas di kereta itu tuh, saya ketemu sama Ijem, dia janda juga tapi belum punya anak, cantik,” katanya
Dengan kemampuan ngomongnya yang gombal, sepanjang perjalanan itu Alek berhasil memikat hati Ijem. Sebulan kemudian mereka menikah dan tinggal di Surabaya.
“Tapi kami baru saja cerai bulan lalu, orangtuanya emosi aja ke saya karena saya cuma kuli,” katanya.
Ya ampun, sabar ya Kang. (drp)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
