Pemprov Datangkan Cabai dari Jateng
Pemprov Banten melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan mendatangkan cabe dari Temanggung Jawa Tengah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Idul Adha.
Hal itu terungkap dalam diskusi ketersediaan bahan pangan jelang Idul Adha 2022, yang diselenggarakan jurnalis bekerja sama dengan Biro Adpim Setda Provinsi Banten.
Menurut Kepala Disperindag Banten, Babar Suharso, komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga paling signifikan adalah aneka cabai dalam sebulan terakhir.
“Idul Fitri lalu, bahan pokok yang mengalami kenaikan harga paling signifikan adalah minyak goreng. Sekarang harga minyak goreng sudah mulai normal, justru harga cabai yang naik hingga Rp120 ribu per kilogram,” kata Babar saat menjadi narasumber diskusi di Sekretariat Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Kamis (7/7).
Ia melanjutkan, satu pekan jelang Idul Adha, bahan pokok yang mengalami kenaikan harga memang tidak hanya cabai. Komoditas bawang merah, telur, daging ayam, daging sapi juga naik, namun kenaikannya tidak separah harga cabai.
“Hasil pantauan kami di lapangan, harga cabai ini yang kenaikannya tidak normal. Makanya Banten butuh pasokan dari luar daerah,” tuturnya.
Masih dikatakan Babar, dari semua jenis rumpun cabai, kenaikan harga yang paling parah yaitu cabai rawit merah dan cabai merah keriting. Selain harganya tinggi, pasokannya juga minim.
“Banyak hal yang menyebabkan harga cabai di pasaran sangat mahal, di antaranya curah hujan tinggi yang diikuti dengan bencana banjir sehingga menganggu stabilitas produksi cabai di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung,” bebernya.
Lantaran mengandalkan pasokan cabai dari provinsi lain, tambah Babar, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI).
“Hari ini (kemarin) informasi dari AACI, petani cabe di Temanggung, Jawa Tengah sedang panen raya. Makanya Pemprov akan memasok cabe untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Idul Adha dari Jawa Tengah,” ungkapnya.
Secara teknis, cabai dari Jawa Tengah akan didatangkan ke Banten melalui Badan Usaha Milik Daerah, baik yang ada di provinsi maupun kabupaten/kota se- Banten.
“BUMD di Kabupaten Tangerang yang paling siap mengeksekusi hasil panen raya cabai di Temanggung, untuk didatangkan ke Banten secepatnya,” tegasnya.
Terkait pasokan cabai dari petani lokal di Banten, Babar menyebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Hasil panen raya petani cabai di Banten hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat delapan hingga sembilan persen, artinya kita membutuhkan pasokan dari luar Banten yang cukup besar,” urainya.
Minimnya pasokan cabai lokal diakui Babar lantaran berkurangnya jumlah petani yang melakukan penanaman cabai, akibat curah hujan tinggi selama akhir tahun 2021 hingga awal 2022. Hal itu membuat petani Banten lebih fokus menanam padi.
“Faktor lainnya tentu keterbatasan lahan serta dampak ekonomi akibat pandemi. Dimana petani cabai di tahun 2020 mengalami kerugian akibat harga cabai anjlok sampai Rp5.000 per kilogram yang berimbas pada minimnya modal petani untuk kembali melakukan kegiatan pertanaman,” tegasnya.
Selain melakukan pemantauan harga cabe di pasaran, Babar mengaku pihaknya juga meninjau langsung ke lokasi perkebunan cabe yang ada di Banten.
“Tingginya harga cabai di pasaran ternyata tidak terlalu menguntungkan petani lokal. Sebab harga cabai di petani hanya di kisaran Rp82 ribu sementara di pasaran Rp120 ribu,” jelasnya.
Untuk bahan pokok lainnya, Babar mengaku ketersediaan stok masih aman untuk Idul Adha. Hanya saja untuk harga bahan pokok yang mengandalkan pasokan impor, pemerintah daerah tidak punya kewenangan mengendalikan harganya.
“Misalnya daging sapi yang diimpor Australia, termasuk juga kedelai. Itu harganya tidak bisa diintervensi oleh pemerintah,” tambah Babar.
Di akhir paparannya, Babar mengaku akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan pasokan dan menstabilkan harga bahan pokok, karena kenaikan harga bahan pokok menjadi penyebab naiknya inflasi di daerah. “Misalnya ketika minyak goreng, gula, telur, cabai dan ayam naik, maka pasti akan dilakukan treatment yang berbeda. Langkah-langkah dari rencana yang akan dilakukan tim inflasi daerah. Contohnya ketika dalam satu minggu naik, maka tim inflasi daerah langsung merumuskan kebijakan, karena harga sembako berpengaruh terhadap naiknya inflasi,” pungkas Babar.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Banten, Agus Tauchid yang juga menjadi narasumber diskusi mengungkapkan, dalam satu bulan terakhir harga bahan pangan mengalami kenaikan namun dalam tahap yang wajar. Terlebih jelang hari raya keagamaan, kebutuhan masyarakat meningkat sehingga berimbas pada kenaikan harga.
“Tapi memang harga komoditas cabe yang paling dikeluhkan masyarakat. Seperti halnya minyak goreng yang sempat mengalami kenaikan harga yang tak wajar,” tuturnya.
Untuk mengendalikan harga cabai, lanjut Tauchid, semua dinas di Pemprov dan di kabupaten/kota harus sinergi dan kolaborasi, terutama dengan Disperindag.
“Banten ini sentra beras bukan sentra komoditas cabai, jadi harus mengandalkan pasokan cabai dari daerah lain. Adapun harga beras masih normal di Banten jelang Idul Adha,” katanya.
Kendati begitu, persoalan harga bukan kewenangan Dinas Pertanian, sehingga pihaknya terus melakukan kolaborasi dari hulu hingga hilir.
“Kami justru fokusnya ke persoalan pencegahan Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sebab Banten termasuk provinsi 10 besar dengan jumlah kasus PMK tertinggi di Indonesia,” bebernya.
Kendati begitu, Agus memastikan ketersediaan hewan kurban di Banten sangat cukup dan semuanya aman dari PMK.
“Kami telah melakukan vaksinasi kepada sejumlah hewan ternak terutama di enam kabupaten/kota yang ditemukan kasus PMK. Sementara di Kota Serang dan Kota Cilegon belum ditemukan kasus PMK, semoga ini bisa kita pertahankan. Sementara di daerah lain terus ditekan penyebarannya seiring dengan gencarnya vaksinasi PMK,” tegasnya.
Narasumber lainnya, Kepala Bidang Keterjangkauan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Banten, Wiwi Yulyani Saptawianti menambahkan, dari sisi stok bahan pangan jelang Idul Adha adanya sejumlah pasar Induk di Banten membuat stok kebutuhan pangan di Banten relatif aman. Sehingga diharapkan tidak terjadi kenaikan harga bahan pokok terhadap semua kebutuhan pangan di Banten. “Stoknya masih aman, semoga saat lebaran nanti tidak signifikan kenaikan harganya. Meskipun dari 12 komoditas bahan pokok, lima komoditas telah naik harganya dalam satu bulan terakhir. Yang paling signifikan tentunya harga cabai,” katanya.
Wiwi melanjutkan, untuk memantau stok dan kebutuhan pangan pihaknya terus berkoodinasi dengan Pemkab/Pemkot Serta pengelola pasar di Banten. Dengan upaya tersebut diharapkan dapat mengetahui jumlah stok pangan dan cara penanggulangannya ketika ditemukan gejolak harga sembako di Banten.
“Untuk menstabilkan harga, kami menggelar pasar murah hingga 8 Juli mendatang di dua kabupaten/kota. Semoga ini bisa membantu menekan kenaikan harga jelang Idul Adha,” tutupnya. (den/air)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
