DECEMBER 9, 2022
Utama

Stok Bahan Pokok Diklaim Aman

post-img

Pemprov Datangkan Cabai dari Jateng 


Pemprov Banten melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan mendatangkan cabe dari Temanggung Jawa Tengah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Idul Adha.


Hal itu terungkap dalam diskusi ketersediaan bahan pangan jelang Idul Adha 2022, yang diselenggarakan jurnalis bekerja sama dengan Biro Adpim Setda Provinsi Banten.

Menurut Kepala Disperindag Banten, Babar Suharso, komoditas bahan po­kok yang mengalami kenaikan harga paling signifikan adalah aneka cabai dalam sebulan terakhir.

“Idul Fitri lalu, bahan pokok yang me­ngalami kenaikan harga paling signif­ikan adalah minyak goreng. Se­karang harga minyak goreng sudah mulai normal, justru harga cabai yang naik hingga Rp120 ribu per kilogram,” kata Babar saat menjadi narasumber diskusi di Sekretariat Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Kamis (7/7).

Ia melanjutkan, satu pekan jelang Idul Adha, bahan pokok yang mengalami ke­naik­an harga memang tidak hanya cabai. Komoditas bawang merah, telur, daging ayam, daging sapi juga naik, na­mun kenaikannya tidak separah harga cabai.

“Hasil pantauan kami di lapangan, harga cabai ini yang kenaikannya tidak nor­mal. Makanya Banten butuh pasokan dari luar daerah,” tuturnya.

Masih dikatakan Babar, dari semua jenis rumpun cabai, kenaikan harga yang paling parah yaitu cabai rawit merah dan cabai merah keriting. Selain harganya tinggi, pasokannya juga minim.

“Banyak hal yang menyebabkan harga cabai di pasaran sangat mahal, di antara­nya curah hujan tinggi yang diikuti de­ngan bencana banjir sehingga menganggu stabilitas produksi cabai di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung,” bebernya.

Lantaran mengandalkan pasokan cabai dari provinsi lain, tambah Babar, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI).

“Hari ini (kemarin) informasi dari AACI, petani cabe di Temanggung, Jawa Tengah se­dang panen raya. Makanya Pemprov akan memasok cabe untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Idul Adha dari Jawa Tengah,” ungkapnya.

Secara teknis, cabai dari Jawa Tengah akan didatangkan ke Banten melalui Badan Usaha Milik Daerah, baik yang ada di provinsi maupun kabupaten/kota se- Banten.

“BUMD di Kabupaten Tangerang yang pa­ling siap mengeksekusi hasil panen raya cabai di Temanggung, untuk dida­tangkan ke Banten secepatnya,” tegasnya.

Terkait pasokan cabai dari petani lokal di Banten, Babar menyebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Hasil panen raya petani cabai di Banten hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat delapan hingga sembilan per­sen, artinya kita membutuhkan pa­sokan dari luar Banten yang cukup besar,” urainya.

Minimnya pasokan cabai lokal diakui Babar lantaran berkurangnya jumlah petani yang melakukan penanaman ca­bai, akibat curah hujan tinggi selama akhir tahun 2021 hingga awal 2022. Hal itu membuat petani Banten lebih fokus me­nanam padi.

“Faktor lainnya tentu keterbatasan lahan serta dampak ekonomi akibat pan­demi. Dimana petani cabai di tahun 2020 mengalami kerugian akibat harga cabai anjlok sampai Rp5.000 per kilogram yang berimbas pada minimnya modal petani untuk kembali melakukan kegiatan pertanaman,” tegasnya.

Selain melakukan pemantauan harga cabe di pasaran, Babar mengaku pihaknya juga meninjau langsung ke lokasi perkebunan cabe yang ada di Banten.

“Tingginya harga cabai di pasaran ter­nyata tidak terlalu menguntungkan petani lokal. Sebab harga cabai di petani hanya di kisaran Rp82 ribu sementara di pasaran Rp120 ribu,” jelasnya.

Untuk bahan pokok lainnya, Babar me­ngaku ketersediaan stok masih aman untuk Idul Adha. Hanya saja untuk harga bahan pokok yang mengandalkan pasokan impor, pemerintah daerah tidak punya kewenangan mengendalikan harganya.

“Misalnya daging sapi yang diimpor Australia, termasuk juga kedelai. Itu harga­nya tidak bisa diintervensi oleh pemerintah,” tambah Babar.

Di akhir paparannya, Babar mengaku akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan pa­sokan dan menstabilkan harga bahan pokok, karena kenaikan harga bahan po­kok menjadi penyebab naiknya inflasi di daerah. “Misalnya ketika minyak go­reng, gula, telur, cabai dan ayam naik, maka pasti akan dilakukan treatment yang berbeda. Langkah-langkah dari ren­cana yang akan dilakukan tim inflasi daerah. Contohnya ketika dalam satu minggu naik, maka tim inflasi daerah lang­sung merumuskan kebijakan, karena harga sembako berpengaruh terhadap naiknya inflasi,” pungkas Babar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Banten, Agus Tauchid yang juga menjadi narasumber diskusi mengungkapkan, dalam satu bulan terakhir harga bahan pangan mengalami kenaikan namun dalam tahap yang wajar. Terlebih jelang hari raya keagamaan, kebutuhan masyara­kat meningkat sehingga berimbas pada kenaikan harga.

“Tapi memang harga komoditas cabe yang paling dikeluhkan masyarakat. Se­perti halnya minyak goreng yang sempat mengalami kenaikan harga yang tak wajar,” tuturnya.

Untuk mengendalikan harga cabai, lanjut Tauchid, semua dinas di Pemprov dan di kabupaten/kota harus sinergi dan kolaborasi, terutama dengan Dis­pe­rindag.

“Banten ini sentra beras bukan sentra komoditas cabai, jadi harus mengandalkan pasokan cabai dari daerah lain. Adapun harga beras masih normal di Banten jelang Idul Adha,” katanya.

Kendati begitu, persoalan harga bukan kewenangan Dinas Pertanian, sehingga pihaknya terus melakukan kolaborasi dari hulu hingga hilir.

“Kami justru fokusnya ke persoalan pencegahan Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sebab Banten termasuk pro­vinsi 10 besar dengan jumlah kasus PMK tertinggi di Indonesia,” bebernya.

Kendati begitu, Agus memastikan ke­tersediaan hewan kurban di Banten sangat cukup dan semuanya aman dari PMK.

“Kami telah melakukan vaksinasi kepada sejumlah hewan ternak terutama di enam kabupaten/kota yang ditemukan kasus PMK. Sementara di Kota Serang dan Kota Cilegon belum ditemukan kasus PMK, semoga ini bisa kita per­ta­hankan. Sementara di daerah lain terus ditekan penyebarannya seiring dengan gencarnya vaksinasi PMK,” tegasnya.

Narasumber lainnya, Kepala Bidang Keterjangkauan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Banten, Wiwi Yulyani Saptawianti me­­nambahkan, dari sisi stok bahan pa­­ngan jelang Idul Adha adanya sejumlah pasar Induk di Banten membuat stok ke­­butuhan pangan di Banten relatif aman. Sehingga diharapkan tidak terjadi kenaikan harga bahan pokok terhadap semua ke­butuhan pangan di Banten. “Stoknya masih aman, semoga saat le­baran nanti tidak signifikan kenaikan harga­­nya. Meskipun dari 12 komoditas bahan pokok, lima komoditas telah naik harga­nya dalam satu bulan terakhir. Yang paling signifikan tentunya harga cabai,” katanya.

Wiwi melanjutkan, untuk memantau stok dan kebutuhan pangan pihaknya terus berkoodinasi dengan Pemkab/Pemkot Serta pengelola pasar di Banten. Dengan upaya tersebut diharapkan dapat mengetahui jumlah stok pangan dan cara penanggulangannya ketika ditemu­kan gejolak harga sembako di Banten.

“Untuk menstabilkan harga, kami menggelar pasar murah hingga 8 Juli mendatang di dua kabupaten/kota. Semoga ini bisa membantu menekan kenaikan harga jelang Idul Adha,” tutupnya. (den/air)