SERANG–Aksi Aliansi Mahasiswa Pemuda dan Rakyat (Ampera) menuntut pembatalan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dibubarkan paksa oleh Rektor UIN SMH Banten Prof Wawan Wahyudin, Kamis (8/9).
Sebab, aksi yang digelar oleh ratusan mahasiswa itu berlangsung hingga malam hari.
Pantauan Radar Banten, ratusan massa itu mulai berkumpul di Jalan Jenderal Sudirman, Ciceri, Kota Serang, sekira pukul 15.00 WIB. Selain berorasi menolak kenaikan harga BBM, mahasiswa menyanyikan yel-yel, dan membakar ban bekas.
Kerumunan ratusan massa ini melumpuhkan akses jalan. Selama aksi, arus lalu lintas dari arah timur dialihkan ke Bhayangkara. Sementara dari arah barat ada dua penyekatan, sekat pertama dari arah Ramayana dialihkan ke Kebon Jahe Lampu merah, lalu dari arah Sumur Pecung ke Cijawa dan Pasar Rau. Kemudian arus kendaraan dari Bundaran Ciceri diputarbalikan ke arah Cijawa dan Bhayangkara.
Memasuki petang, mahasiswa bergeser ke depan pintu masuk kampus UIN SMH Banten. Hingga pukul 19.30 WIB, ratusan masa akhirnya bisa dibubarkan oleh Rektor UIN SMH Banten Prof Wawan Wahyudin.
Prof Wawan Wahyudin mengaku meminta masa aksi untuk membubarkan diri karena sudah malam. Dia menilai aktivitas mahasiswa mengganggu ketertiban umum. “Saya tidak ingin karena kepentingan sesaat kampus kami rusak. Mohon maaf, terima kasih,” katanya.
“Kampus sudah sekian tahun dibangun, (kami-red) tidak ridho, kampus sampai hancur lebur. Kasihan anak-anak yang mau kuliah, kasian masyarakat yang membiayai, kasian negara,” tambah Wawan.
Menurut Wawan, pembubaran paksa tersebut bukan untuk melarang mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Dia hanya tak ingin niat baik mahasiswa dirusak dengan aksi anarki dan mengganggu ketertiban umum. “Jalanan umum sampai kehalang, yang sakit, ambulans tergantung. Demo silahkan, tapi tolong ke sana tuh ke DPRD. Siapapun hak warga, tapi jangan anarkis tempatnya lega di sana,” katanya.
Sebelumnya, perwakilan massa aksi Fauzul Rohmanul Hakim mengatakan, kebijakan pemerintah dalam menaikan harga BBM akan berdampak buruk terhadap nasib rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, setelah mengalami pandemi Covid-19 selama dua tahun. “Sudah dipastikan, naiknya BBM akan berdampak pada harga kebutuhan pokok rakyat, dan hal ini sangat berdampak buruk pada kehidupan rakyat,” ujarnya kepada Radar Banten.
“Kondisi ini memukul UMKM lantaran daya beli yang menurun, dan tentunya berdampak pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah Jokowi-Maruf Amin tak lagi memperdulikan nasib rakyatnya,” katanya.
Menurut Fauzul, kondisi kenaikan harga BBM ini akan menimbulkan berbagai persoalan. Meskipun, pemerintah menyalurkan bansos melalui berbagai program. “Kami menuntut Presiden Jokowi segera menurunkan harga BBM,” katanya.
Hal senada diungkapkan Ryco Hermawan. Orator massa aksi ini mengatakan, pemerintah menaikkan harga BBM secara sepihak di tengah harga minyak dunia sedang turun. “Turunkan harga BBM. Kenaikan harga BBM sangat menyengsarakan rakyat. BBM naik masyarakat jadi panik,” katanya.
Selain harga BBM diturunkan, massa aksi mendesak pemerintah menurunkan harga bahan pokok. “Kita minta harga bahan pokok diturunkan. Karena akibat BBM naik, harga bahan pokok jadi naik,” katanya. “Ini juga harus jadi perhatian, kami meminta agar pemerintah menindak secara tegas mafia penimbun BBM subsidi,” tambah Ryco. (fdr/nda)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
