DECEMBER 9, 2022
Radar Serang

Urugan Tanah Baitul Quran Meluap

post-img

BERLUMPUR: Warga lingkungan Ciputri RT 002/008 membersihkan tanah, di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Jumat (9/9). Warga mengeluhkan keberadaan lumpur tanah merah meluber ke jalan dan pemukiman warga karena adanya pembangunan Baitul Qur’an. 


*Genangi Jalan dan Rumah Warga Ciputri

 SERANG–Urugan tanah merah di proyek pembangunan Baitul Quran di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang meluap ke jalan dan pemukiman warga. Tanah merah itu pun berubah menjadi lumpur saat hujan turun.

Proyek senilai Rp78 miliar itu diketahui telah dua pekan berlangsung. Selama proses pekerjaan berlangsung, urugan tanah di bagian pinggir lokasi proyek yang berbatasan dengan jalan lingkungan, tumpah. Kondisi tersebut membuat warga lingkungan Ciputri RT 002 RW 008, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, mengeluh.

“Minggu kemarin sempat hujan. Jalan tergenang lumpur tanah dari proyek tumpah ke jalan. Kami khawatir Kalau nanti bisa semakin parah,” kata warga sekitar bernama Sanuri kepada wartawan, Jumat (9/9).

Menurut Sanuri, sebelum proyek dari program revitalisasi Kawasan Kesultanan Banten itu dilaksanakan, wilayahnya tidak pernah ditemui genangan lumpur.

Namun, saat proyek pembangunan di atas lahan seluas 6,2 hektar itu berjalan, halaman rumahnya selalu tergenang air bercampur lumpur. “Saya merasa setelah adanya pembangunan ini, di depan rumah jadi seperti ini, apalagi kalau hujan,” tuturnya.

Kata Sanuri, dampak proyek bangunan empat lantai dengan parkir di lantai dasarnya itu juga dirasakan warga lainnya. “Rumah warga lainnya yang ada di Kampung Ciputri (juga-red) terdampak. Kami minta tolong untuk agar tidak terjadi lagi,” kata Sanuri.

Warga lain, Uyung, merasa khawatir halaman rumahnya terus dipenuhi dengan genangan air bercampur lumpur saat turun hujan. “Banyak (rumah-red) mungkin puluhan rumah warga di Ciputri. Air lumpur itu sampai masuk ke halaman rumah, ke teras juga,” ungkap Uyung.

Bahkan, sambung Uyung, beberapa warga kerap terpeleset karena licin akibat lumpur dari proyek bangunan Baitul Quran tersebut.

“Warga yang lewat juga sering terpeleset karena kondisi jalan coran licin campur lumpur tanah merah,” kata Uyung.

Dia menuding proyek bangunan untuk tempat pertemuan, museum, dan tempat pelatihan tahfidz itu sebagai biang keladi kondisi tersebut. Sebab, saat hujan deras, tanah merah dari urugan proyek hanyut terbawa air. “Kurang lebih 400 meter pagar panel yang berdiri sudah dibangun. Tapi kalau kami lihat tidak ada saluran irigasi, makanya jadi banjir ke rumah warga,” terangnya.

Uyung meminta Pemkot Serang dan Pemprov Banten memperhatikan dan membenahi hal tersebut sebelum semakin parah. "Apalagi curah hujan tinggi, harusnya ada antisipasi, makanya kami minta kepada pemerintah supaya mencarikan solusi,” katanya.

Beberapa waktu lalu, dia menuturkan, warga telah berkirim surat kepada sejumlah pihak, terutama kontraktor pembangunan agar lebih hati-hati dan tidak merugikan masyarakat. “Kami juga menerima balasan surat dari salah satu instansi pemerintah. Tapi jawabannya tidak memuaskan. Jadi, tolong kami harap bisa segera dibenahi lagi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Banten M Rachmat Rogianto mengaku telah menerima laporan, dan menindaklanjuti terkait dengan keluhan warga lingkungan Ciputri. “Itu sudah ada laporan ke saya. Sudah ditindaklanjuti,” katanya kepada wartawan di sela acara Launching Penyaluran BLT BBM Provinsi Banten di Cikande, Kabupaten Serang, Kamis (8/9).

Kata dia, tanah yang kini tengah dalam proses landscaping di bagian samping akan diturunkan dan memperhatikan kemiringan sesuai kemiringan drainase dan bangunan lainnya. “Sebetulnya ada pekerjaan landscaping-nya, tapi kan pengurugannya nanti dilanjutkan dengan pemadatan. Karena baru diurug. Nanti ada pemadatan,” terangnya.

Rachmat mengaku telah meminta pihak ketiga yang mengerjakan pembangunan untuk memperhatikan dampak proses pembangunan dengan lingkungan sekitar termasuk yang berada di pinggir pemukiman warga. “Itu lebih kesadaran kontraktor. Kalau masih ada yang seperti itu akan dikasih tahu kontraktornya,” katanya. (fdr/nda)