DECEMBER 9, 2022
Radar Serang

Festival Keceran Kesti TTKKDH Raih Muri

post-img

FESTIVAL: Ketua Dewan Pembina DPP Kesti TTKKDH Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Ketua Umum DPP Kesti TTKKDH Wahyu Nurjamil didampingi Pj Gubernur Banten pada acara Festival Keceran Tjimande di Stadion Madya Senayan Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu malam (8/10).

SERANG - Festival Keceran Kesenian Ta­ri Indonesia (Kesti) Tjimande Tari Ko­lot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) yang me­libatkan puluhan ribu pendekar men­dapatkan penghargaan dari Museum Re­kor Indonesia (Muri) dan Organisasi Pen­­didikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO. 

Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kesti TTKKDH itu digelar di Stadion Madya Se­nayan Gelora Bung Karno (GBK) Ja­karta, Sabtu malam (8/10). Penghargaan Rekor Muri diserahkan kepada Ketua Dewan Pembina DPP Kesti TTKKDH Jenderal Listyo Sigit Prabowo. 

”Dewan juri memutuskan untuk mem­be­rikan penghargaan kepada Kesti TTKKDH atas festival keceran dengan ka­tegori keceran pendekar terbanyak di dunia dari Muri,” ujar Ketua Umum DPP Kesti TTKKDH Wahyu Nurjamil ke­pada wartawan, Minggu (9/10). 

Selain itu, Kesti TTKKDH juga mendapat peng­hargaan dari UNESCO dengan ka­tegori Lingkup Budaya yang diserahkan lang­sung oleh Bapak Pencak Silat In­donesia Mayjen TNI (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya.

Ketua Umum DPP Kesti TTKKDH Wahyu Nurjamil mengatakan, selain untuk memecahkan rekor dunia, kegiatan itu untuk mempererat silaturahmi, mem­pro­mosikan, dan mengenalkan Kesti TTKKDH di kancah internasional. ”Kami ber­upaya untuk mengangkat Kesti TTKKDH ke level nasional, bahkan inter­nasional. Hal ini memang berbeda dari milad tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Ia mengatakan, Kesti TKKDH yang didirikan 1952. Anggotanya lebih dari enam juta tersebar di wilayah Indonesia dan mancanegara. Kesti TTKKDH me­ru­pakan seni tari bela diri yang saat ini telah diakui di dunia. ”Kami sangat men­jaga tradisi yang diwariskan oleh para kesepuhan tjimande,” katanya. 

”Kami sebagai penerus, hingga saat ini budaya leluhur masih terus terjaga dan lestari. Kelid, tari kolot, urutan, dan keceran,” tambah Wahyu. 

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina DPP Kesti TTKKDH Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam acara tersebut mengatakan, dua penghargaan menjadi bukti, Kesti TTKKDH salah satu seni budaya pencak silat berkembang. ”Kesti TTKKDH telah mendapat dua penghar­gaan dari Muri dan UNESCO dengan kategori lingkup budaya,” katanya. 

”Dalam perjalanannya Kesti TTKKDH saat ini telah terbentuk di delapan provinsi, harapan ke depan bisa terbentuk di 34 provinsi di Indonesia,” tambah pria yang kini menjabat sebagai Kapolri itu. 

Raihan ini, kata Sigit, menjadi tantangan bagi Kesti TTKKDH untuk melestarikan seni budaya sampai kapan pun. Ke de­pan, harus bisa tersebar hingga ke seluruh wilayah Indonesia. ”Ini harus dijaga dan dilatih bahkan bisa tampil di event-event besar, ini akan jadi suatu ke­banggaan,” terang. 

”Dalam perjalanannya Kesti TTKKDH saat ini telah terbentuk di delapan pro­vinsi, harapan ke depan bisa terbentuk di 34 provinsi di Indonesia,” imbuhnya. (fdr/bie)