DECEMBER 9, 2022
Utama

Jualan Sate Bebek hingga Buka Pangkas Rambut

post-img

USAHA: Fauzi Desviandy membuka usaha kuliner satu bebek di kawasan Kemang, Jakarta. (Bayu/Radar Banten)

Kisah Ian, Anak Kedua Walikota Cilegon, Rintis Bisnis di Jakarta

Memiliki ayah sebagai Walikota Cilegon tidak membuat Fauzi Desviandy ongkang-ongkang kaki menikmati fasilitas dan kemudahan sebagai anak nomor satu di “kota industri”. Pemuda yang akrab disapa Ian itu justru memilih jauh dari keluarga untuk berbisnis.

“SATE bebek karena punya cita rasa yang unik, khas, serta simpel meng­olahnya,” kata Ia memulai cerita ten­tang bisnis Sate Bebek Khas Cilegon yang saat ini sedang ia rintis di Jakarta.

Bisnis kuliner itu belum lama ia bu­ka. Pada Kamis (6/7), usaha makanan Cilegon itu resmi ia buka.

Anak kedua dari Walikota Cilegon Helldy Agustian itu menjajakan sate bebek khas Cilegon di daerah Kemang, Jakarta, tepatnya di kemang foodcourt 68.

“Warung kecil-kecilan saja bentuknya,” tutur Ian.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran itu mengaku memilih bisnis Sate Bebek Khas Cilegon karena makanan tersebut memiliki cita rasa yang unik, khas serta simpel pengo­lahannya. 

Sebelum membuka bisnis, pria kelahiran Jakarta 05 Desember 1997 itu melakukan survei ke sejumlah orang di Jakarta.

“Saya survei bawa sampling ke temen-temen dari jaman SMA tinggal di asrama Bogor dulu. Semua pada doyan. Kemarin kita juga survei di Jakarta, tawarin orang-orang secara acak dan minta masukan penilaian, alhamdulillah responnya bagus,” tutur Ian.

Jebolan SMA Dwiwarna Boarding School Bogor itu mengaku dalam waktu kurang lebih lima jam mampu menjual hingga 200 tusuk sate.

“Semoga terus berkembang,” tuturnya memohon doa.

Bisnis diakui Ian menjadi fashionnya. Sejak masih kuliah, ia sudah memulai bisnis dengan menjual kaos sablon, payung, gelas dan jaket.

Bahkan saat ini selain jualan sate, ia juga masih merintis bisnis pangkas rambut serta bekerja di Astra.

“Hobi aja sih kang seneng kalo usaha mah,” ujar Ian menjawab saat ditanya motivasinya soal bekerja sekeras itu.

Konsekuensi dari rentetan bisnis itu adalah hari-hari Ian yang habis oleh serba serbi urusan mencari “cuan”.

Kendati seperti itu, ia masih me­nyem­patkan hadir di kegiatan-kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh kalangan milenial.

“Harus pinter-pinter bagi waktu kang, belum lagi kan kadang undangan dari temen-temen milenial atau masyarakat,” ujarnya sambil diselingi tawa ringan.

Disinggung soal keinginan mengikuti jejak sang ayah untuk jadi seorang politisi, alumni SD dan SMP Al Azhar Cilegon itu mengaku belum terpikirkan.

Ia mengaku sampai saat ini masih fokus kepada bisnis yang sedang ia jalani. (*)