DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Batik Lebak Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat

post-img

BATIK LEBAK: Bupati Iti Octavia Jayabaya menunjukan Batik Lebak kepada peserta pelatihan membatik di Imah Batik Sahate.(Dok Radar Banten)

LEBAK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menyatakan batik Lebak telah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, batik Lebak bisa dian­dal­kan dalam menumbuhkan per­ekonomian masyarakat di daerah.

Kini batik Lebak yang memiliki 12 motif batik telah terdaftar menjadi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM Wilayah Provinsi Banten Januari 2016 menjadi salah satu batik di Banten yang paling dicari dan diminati. 

12 motif batik Lebak tersebut, yaitu motif Seren Taun, Sawarna, Gula Sakojor, Pare Sapocong, Kahuripan Baduy, Leuit Sijimat, Rangkasbitung, Caruluk Saruntuy, Lebak Bertauhid, Angklung Buhun, Kalimaya, dan Motif Sadulur.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Lebak Imam Suangsa mengatakan, menu­runnya kasus Covid-19 berdampak ter­hadap usaha kerajinan batik Lebak. Ka­renanya, peme­rintah daerah terus men­dorong kerajinan batik Lebak dapat men­jadi andalan bagi perekonomian masyarakat.

“Alhamdulilah, batik Lebak sudah men­jadi incaran para pencinta batik. Orderan di pengrajin batik hampir semua­nya me­ningkat. Ini tentunya dapat meng­hi­dupkan perekonomian masyarakat karena mampu menyerap tenaga kerja lokal,” kata mantan Sekretaris Dinas Pen­didikan Lebak ini, Minggu (11/9).

Menurutnya, salah satu keunggulan batik Lebak memiliki kekhasan melalui warna yang didominasi hitam dan biru. Warna ter­sebut tentu memiliki makna dan arti bagi warga Baduy untuk mencintai alam karena kehidupan mereka dari ber­cocok tanam. Sebab masyarakat Baduy yang tinggal di hutan ulayat adat di Kecamatan Leuwidamar hingga kini ter­jaga pelestarian alam.

“Kini, bukan hanya masyarakat Lebak saja yang bangga penggunaan pakaian batik produk Lebak, tapi masyarakat luar Lebak juga banyak yang menggunakannya,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, masyarakat Banten kini sudah banyak yang menggunakan batik Baduy untuk aktivitas sehari-hari mau­pun acara resepsi pernikahan dan acara penting lainnya. Di samping itu, ASN di Lebak diwajibkan setiap Kamis me­makai pakaian batik Lebak.

“Kualitas batik Baduy tidak kalah dengan batik-batik lainnya yang ada di Jawa Tengah yang telah terlebih dahulu dikenal,” ungkapnya.

Sementara itu, Umsaroh pemilik batik canting Pradana di Desa Bojongleles, Ke­camatan Cibadak mengatakan, per­mintaan batik Lebak bukan hanya untuk aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan sekretariat pemerintah daerah, BUMN, dan pelajar. Namun, saat ini batik Lebak diminati masya­ra­kat, karena sangat cocok untuk dijadikan pakaian resmi, seperti pesta pernikahan.

“Ya, tingginya permintaan batik bukan hanya kita sebagai pengrajin yang terus gencar mempromosikan melalui berbagai media sosial. Juga berkat promosi yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Lebak,” jelasnya.

Katanya, proses pembuatan kain batik ini sama seperti pembuatan kain batik pada umumnya. Kain batik dibuat dengan mencetak motif dan kemudian diberi pewarna. Untuk menjaga kualitas, seluruh proses pembuatan dilakukan dengan cara manual. Meningkatnya permintaan tersebut berdampak terhadap pendapatan omset penjualan.

“Sewaktu belum ada Covid, pendapatan rata-rata dapat mencapai Rp 50 juta per bulan,” ujarnya.(nce/tur)