DECEMBER 9, 2022
Radar Serang

Banten Belum Terbebas Pemasungan

post-img

Kepala Dinas Kesehatan (Din­kes) Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti


SERANG–Pemasungan ang­gota keluarga yang men­derita gangguan jiwa masih dite­mukan di Banten. Hingga kini tercatat masih ada 76 ka­sus pemasungan penderita gangguan jiwa. 

Kepala Dinas Kesehatan (Din­kes) Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti me­ngatakan, saat ini kasus di Ban­ten berangsur turun, tapi masih tercatat ada pu­luh­an kasus pemasungan terjadi di seluruh kabupaten/kota di Banten. 

“Totalnya masih 70 an ka­sus, 76 tepat­nya. Di Lebak paling banyak, Cile­gon juga masih ada,” ujar Ati, kemarin. 

Ati menyebut, dulu kasus pe­masungan yang terjadi di Banten lebih dari 200 kasus. Selama tiga tahun ini, dengan terbitnya Per­atu­r­an Gubernur Banten ten­tang Banten Bebas Pa­sung, maka kasus pema­su­ngan mengalami penurunan. 

Pihaknya terus menggen­car­kan sosialisasi kepada ma­syarakat sehingga kasus pemasungan dapat dimi­ni­malisir. 

“Bahkan beberapa ka­sus di Pandeglang yang se­belumnya di atas 90-an lebih, sekarang tinggal satu ka­sus yang masih di pasung,” ujar­nya. Begitupun dengan Ka­bupaten Serang, yang se­belumnya ada puluhan kasus pemasungan, kini menjadi nol kasus.

Sementara untuk Kota Se­rang masih ada 10 kasus. Na­mun ditargetkan untuk segera menyelesaikannya di tahun ini.

Ati menjelaskan, Pemprov Banten terus mencanangkan prog­ram Banten bebas pa­sung. Apalagi, tahun 2024 nan­ti pemerintah menarget­kan agar tidak ada lagi kasus pemasungan yang terjadi di wilayah Provinsi Banten.

Untuk itu, ia mengimbau ma­­syarakat untuk tidak me­la­­kukan pemasungan kepada penderita gangguan jiwa.

Ati menegaskan, kasus pe­­masungan seharusnya su­dah tidak ada lagi ada di se­tiap daerah karena me­lang­gar hak asasi manusia. 

“Ke­tika orang dengan gang­guan jiwa baik dari ringan sam­pai berat, itu dilakukan pemasungan berarti akses dia untuk mendapatkan pe­la­­yanan terganggu,” ujar Ati. 

Kata dia, Pemprov Banten sudah mendukung biaya pe­ngobatan gangguan jiwa sam­pai tingkat puskesmas. “Kita drop semua obat-obat ke seluruh puskesmas yang ada. Meskipun kita belum me­miliki rumah sakit jiwa, tapi pengobatan rawat jalan ini sudah teranggarkan ter­ako­modir,” tegas mantan Di­rut RSUD Kota Tangerang.

Ati mengimbau kepada se­luruh masyarakat yang me­nge­tahui adanya kasus pe­masungan untuk mela­por­kan ke pihak puskesmas terdekat di masing-masing wilayah. Setelah adanya la­po­r­an kasus, pihak puskes­mas akan kerjasama dengan pihak keluarga.

Ia menerangkan, pihak pus­­kesmas akan melihat ter­­lebih dahulu kondisi pa­sien, terkait sejauh apa ting­kat kegawatan dari pasien. “Kalau masih gawat, diobatin dulu sama puskesmas. Se­te­lah tenang, puskesmas ber­koordinasi dengan TNI, Pol­ri, dan Dinsos (Dinas So­sial-red) untuk menyiap­kan koordinasi dengan RSJ,” ungkapnya. (nna/nda)