LEBAK - Bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Kebon Kalapa, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar, menyebabkan 5 rumah warga serta badan Jalan KH Ali Alwini sepanjang 50 meter ambles. Kerugian akibat pergerakan tanah ditaksir mencapai Rp1,5 milliar.
"Kerugian akibat pergerakan tanah sudah kami hitung, mulai dari bangunan, jalan, dan sosial ekonomi ditaksir Rp1,5 miliar," kata Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizki Pratama saat dihubungi Radar Banten, Minggu (12/6)
Dijelaskannya, bencana pergerakan tanah sebelumnya sudah pernah terjadi, yakni pada Januari 2022 lalu. Saat itu, dua unit rumah rusak berat dan terpaksa dirobohkan, karena khawatir membahayakan keselamatan masyarakat.
Dari hasil penelitian tim dari BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, panjang retakan mencapai 500 meter. Untuk penyebab pergerakan tanah sendiri, yakni adanya pelapukan tanah karena struktur tanah berpasir akibat erosi dan pelunakan oleh aliran Sungai Ciujung yang membuat kekuatan tanah mengalami pelemahan dan memicu pergerakan tanah.
"Pada bulan Januari kita pernah melakukan kajian dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lebak, dengan hasil pengamatan bahwa ada retakan tanah sepanjang 500 meter dari pesisir Sungai Ciujung," jelasnya.
Ketika ditanya apakah bencana pergerakan tanah ini akan sama dengan pergerakan tanah di Kecamatan Cikulur yang membuat puluhan rumah warga rusak dan rata dengan tanah, Febby mengaku, baru akan melakukan kajian kembali soal kondisi tanah di Kampung Kebon Kalapa itu.
"Mudah-mudahan tidak seperti di Cikulur. Nanti kami akan bersurat ke Badan Geologi untuk dilakukan penyelidikan tanah," ungkap Febby.
Untuk rumah rusak, kata Febby, pihaknya tidak akan menyediakan posko pengungsian, melainkan memberikan bantuan berupa Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk para korban terdampak.
"Untuk rumah, rencana kami akan berikan dana tunggu hunian supaya mereka bisa tinggal dengan lebih layak ketimbang di tenda pengungsian. Ke depan, perlu dikomunikasikan lagi dengan desa dan kecamatan," imbuhnya.
"Untuk penanganan jalan, rencananya akan dilakukan penanganan darurat dengan cara ditimbun dan diberi batu," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cilangkap Ahmad Roni mengatakan, terdapat lima Kepala Keluarga (KK) yang terdampak pergerakan tanah. Dengan rincian, tiga rumah rusak berat atas nama Awaludin, Karman, dan Utup dan dua rumah warga terdampak, yakni milik Aan dan Bahrudin.
"Untuk pengungsian mungkin masih belum diperlukan, karena para warga saat ini mengungsi ke rumah saudara. Saat ini warga hanya membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ungkapnya.
Eti, isti Awaludin yang rumahnya rusak akibat pergerakan tanah mengatakan, saat kejadian dirinya bersama delapan anggota keluarga tengah berada di dalam rumah.
Namun, sesudah magrib sekira pukul 18.30 WIB, tiba-tiba terdengar suara retakan yang berasal dari bawah tanah. Dirinya dan anggota keluarganya pun panik dan berlarian ke luar rumah.
"Kejadian kemarin, habis hujan tiba-tiba ada suara retakan dan nggak lama kemudian langsung ambles. Sekarang saya ngungsi ke rumah adik saya," terangnya.
Eti pun saat ini hanya mengharapkan adanya bantuan dari Pemerintah agar dirinya dengan anggota keluarga bisa kembali mendiami sebuah rumah yang aman dan nyaman. "Kita cuma mau rumah yang nyaman dan aman, itu aja," tukasnya.(mg-01/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
