DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Kerugian Akibat Pergerakan Tanah Ditaksir Rp1,5 Miliar

post-img

LEBAK - Bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Kebon Kalapa, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar, me­nyebabkan 5 rumah warga serta badan Jalan KH Ali Alwini sepanjang 50 meter ambles. Kerugian akibat perge­ra­kan tanah ditaksir mencapai Rp1,5 milliar. 

"Kerugian akibat pergerakan tanah sudah kami hitung, mulai dari bangunan, jalan, dan sosial ekonomi ditaksir Rp1,5 miliar," kata Kepala Pelaksana BPBD Le­bak Febby Rizki Pratama saat di­hubungi Radar Banten, Minggu (12/6)

Dijelaskannya, bencana pergerakan tanah sebelumnya sudah pernah terjadi, yakni pada Januari 2022 lalu. Saat itu, dua unit rumah rusak berat dan terpaksa di­robohkan, karena khawatir mem­ba­hayakan keselamatan masyarakat. 

Dari hasil penelitian tim dari BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dan Pe­na­taan Ruang, panjang retakan men­capai 500 meter. Untuk penyebab per­gerakan tanah sendiri, yakni adanya pe­lapukan tanah karena struktur tanah ber­pasir akibat erosi dan pelunakan oleh aliran Sungai Ciujung yang mem­buat kekuatan tanah mengalami pele­mah­an dan memicu pergerakan tanah.

"Pada bulan Januari kita pernah me­lakukan kajian dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lebak, de­ngan hasil pengamatan bahwa ada re­t­akan tanah sepanjang 500 meter dari pesisir Sungai Ciujung," jelasnya.

Ketika ditanya apakah bencana per­ge­rakan tanah ini akan sama dengan per­ge­rakan tanah di Kecamatan Cikulur yang mem­buat puluhan rumah warga rusak dan rata dengan tanah, Febby me­ngaku, baru akan melakukan kajian kem­bali soal kondisi tanah di Kampung Ke­bon Kalapa itu.

"Mudah-mudahan tidak seperti di Cikulur. Nanti kami akan bersurat ke Badan Geologi untuk dilakukan pe­nye­lidikan tanah," ungkap Febby.

Untuk rumah rusak, kata Febby, pi­haknya tidak akan menyediakan pos­ko pengungsian, melainkan memberikan bantuan berupa Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk para korban terdampak.

"Untuk rumah, rencana kami akan berikan dana tunggu hunian supaya mereka bisa tinggal dengan lebih layak ketimbang di tenda pengungsian. Ke depan, perlu dikomunikasikan lagi de­ngan desa dan kecamatan," imbuhnya.

"Untuk penanganan jalan, rencananya akan dilakukan penanganan darurat de­­ngan cara ditimbun dan diberi batu," tam­bahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Cilangkap Ahmad Roni mengatakan, terdapat lima Kepala Keluarga (KK) yang ter­da­­m­pak pergerakan tanah. Dengan rin­­c­ian, tiga rumah rusak berat atas na­ma Awaludin, Karman, dan Utup dan dua rumah warga terdampak, yak­­ni milik Aan dan Bahrudin.

"Untuk pengungsian mungkin masih belum diperlukan, karena para warga saat ini mengungsi ke rumah saudara. Saat ini warga hanya membutuhkan ban­tuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ungkapnya.

Eti, isti Awaludin yang rumahnya rusak akibat pergerakan tanah me­ngatakan, saat kejadian dirinya bersama delapan anggota keluarga tengah berada di dalam rumah.

Namun, sesudah magrib sekira pukul 18.30 WIB, tiba-tiba terdengar suara re­takan yang berasal dari bawah tanah. Di­rinya dan anggota keluarganya pun pa­nik dan berlarian ke luar rumah.

"Kejadian kemarin, habis hujan tiba-tiba ada suara retakan dan nggak lama kemu­dian langsung ambles. Sekarang saya ngung­si ke rumah adik saya," terangnya.

Eti pun saat ini hanya mengharapkan adanya bantuan dari Pemerintah agar dirinya dengan anggota keluarga bisa kembali mendiami sebuah rumah yang aman dan nyaman. "Kita cuma mau ru­mah yang nyaman dan aman, itu aja," tukasnya.(mg-01/tur)