DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Pembuktian Duda Miskin pada Janda Kaya

post-img

Semakin dihina dan diremehkan, bakal makin keras berjuang membuktikan. Begitulah prinsip Asep (52) nama samaran yang menikahi janda kaya, sebut saja Maya (49).

Asep mengaku, untuk bisa mempersunting kekasih tercinta, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Niatnya ibadah, eh malah dituduh morotin harta Maya. Astaga.

Asep yang awalnya tulus dan ingin mewujudkan keinginan Maya yang sudah bosan hidup sendiri, hampir saja menyerah karena tak tahan dengan omongan tetangga. 

“Sakit hati banget, banyak yang ngehina karena waktu itu saya masih miskin,” tukasnya saat berbincang dengan Radar Banten di salah satu warung kopi di Kecamatan Curug, Cilegon, Minggu (12/6).

Diceritakan Asep, perjumpaannya dengan Maya bermula saat mereka sedang belanja barang jualan di Pasar Senen, Jakarta. Kebetulan keduanya ialah pedagang, Maya pedagang pakaian dan memiliki toko di Curug, sedangkan Asep saat itu baru merintis usaha jualan buah di Pasar Senen. 

Merasa mendapat teman satu daerah, keduanya cukup intens mengobrol, apalagi ketika tahu kalau mereka memiliki nasib yang sama. Duda dan janda, jadilah obrolannya makin seru. “Bedanya kalau Maya mah suaminya meninggal, kalau saya karena cerai,” katanya.

Saat akan berpisah, karena Maya harus pulang sedangkan Asep masih harus bekerja di sana, mereka tak lupa bertukar nomor telepon. Setiap tanggal tua, Maya pasti ke Jakarta untuk belanja keperluan dagangannya. Sejak itu, mereka sering bertemu bahkan jalan-jalan berdua.

Mulai dari keliling Monas, Ancol, Taman Mini, bahkan pernah ke Bogor, lama-lama mulai ada rasa di antara mereka. Apalagi, kata Asep, meski janda anak dua, tapi Maya punya bodi yang bagus, montok dan menggairahkan. 

Sedangkan Asep, wajahnya tak terlalu tampan, tapi ia punya badan atletis. Dan yang paling penting, Asep pinter merayu sehingga bisa dengan mudah membuat Maya nyaman. “Modal utama itu yang penting berani ngomong,” katanya.

Berkat kata-katanya yang selalu bikin Maya melayang, Asep pun diminta datang ke rumah untuk meminta restu kedua orangtua dan anak Maya. Asep pun tak mau menunggu lama, ia langsung berangkat padahal waktu itu kondisi keuangan sedang susah. “Ternyata Maya memang janda kaya, usahanya maju dan rumahnya besar,” katanya.

Asep awalnya mencoba bersikap biasa saja, berkenalan dengan orangtua Maya, lalu mendekati anak-anaknya. Semua berjalan lancar, Asep yang pandai meraih hati orang lain pun dengan mudah diterima. 

Tapi masalah datang saat bibi dan saudara dari almarhum suaminya Maya tahu kalau Asep cuma kuli pedagang biasa di Pasar Senen. Sejak itu semuanya seolah berubah, orangtua Maya ikut terpengaruh, mereka tidak direstui. “Yang bikin saya sedih, saya dibilang mau morotin harta Maya,” tukasnya.

Apalah daya, rencana pernikahan mereka pun tertunda. Asep dibuat pusing tujuh keliling, apalagi saat tahu, kalau keluarga Maya meminta mahar cukup besar. “Punya uang dari mana saya, padahal sebelumnya sama Maya sudah bilang, nikah tuh maharnya yang ala kadarnya, enggak dipatok,” ungkapnya.

Tapi Asep tak mau menyerah, ia terus bekerja keras dan meminta waktu dua tahun untuk membangun usahanya di Jakarta. Akhirnya, ia sukses menjadi bos buah di Pasar Senen. 

Sejak itu Asep mulai percaya diri dan datang melamar Maya. Mereka pun menikah dan sekarang sudah hidup sejahtera. Seminggu sekali keduanya ke Jakarta untuk memantau bisnis Asep sekalian jalan-jalan bareng anak-anak.

 “Alhamdulillah, sekarang udah enggak ada lagi tuh yang ngerendahin saya,” pungkasnya. (drp)