DECEMBER 9, 2022
Utama

Pesantren dan Budaya Damai

post-img

Oleh: Encep Safrudin Muhyi

PESANTREN berhasil membangun budaya ke­islaman yang meng­akar luas di In­donesia. Budaya ke­islaman dalam pesantren menjadi ka­rakter tersendiri dalam membangun bu­daya bangsa. In­digenous dalam bu­daya pesantren di­bangun oleh ber­bagai aspek. Aspek pen­didikan, kehi­du­pan, pola ke­gia­tan dan lain se­ba­gainya.

Kehidupan dalam Pe­santren yang meliputi proses pembelajaran, pergaulan, tata aturan dan hal lainnya menjadi cerminan subkultur karena dalam pesantren dihuni banyak manusia dengan berbagai karekter dan dari berbagai daerah asal.

Berbagai budaya pesantren berhasil di­potret pada kehidupan tokoh dalam pe­santren. Salah besar kalau ada pemikiran Ke­­hidupan di pesantren menakutkan, pe­­nuh kungkungan, dan berbagai persepsi ne­gatif lainnya. Justru Kehidupan di pe­san­tren sangat nyaman, penuh pe­nge­tahuan, penuh rasa kekeluargaan, dan me­miliki romantika budaya sendiri.

Pesantren menjadi sebuah wilayah yang me­miliki budayanya tersendiri, pesantren mem­posisikan sebagai sub-kultur di te­ngah belantika kebudayaan nusantara. Di dalam proses pergolakan pesnsantren terjadi kontak interaksi, dan afiliasi yang tak sama dengan lingkungan biasa. Dise­babkan pesantren menganut sebuah pa­r­adigmanya tersendiri yang tidak meng­anut secara langsung dengan tuntutan zaman.

Pesantren mempunyai caranya tersendiri dalam melaksanakan pembelajaran, dan mempunyai cara bersosialisasi tersendiri dalam memupuk mental, dan sikap para santri agar tertanam jiwa agamis dan nasionalis.

Pesantren menganut sistem pembelajaran tra­disionalis yang tidak sama dengan sis­tem pembelajaran konvesional. Dalam sis­tem pembelajaran pesantren yang tra­disionalis ini, pesantren mengajarkan pengetahuan yang sekaligus berbarengan dengan pengajaran etika, dan spiritual.

Karena dalam sebuah kitab yang diajarkan di pesantren, ta’lim wa muta’lim, dan ada­bu ta’lim wa muta’alim, adalah kitab yang mengajarkan norma yang harus dipegang bagi pelajar dan pengajar. Dalam ajaran kitab tersebut, dipercaya seorang gu­ru adalah seorang wasilah atau peng­hubung antara duniawi dan ukhrowi, se­hingga seorang guru yang mengajar menjadi bernilai sakral oleh para santri, oleh karena itu santri dalam proses pem­belajarannya tidak diperbolehkan ber­tindak menyimpang kepada gurunya. 

Demikian yang menjadikan proses pem­­belajaran pesantren sedemikian kom­pleks, yang mampu mengoperasikan ni­lai in­telektual, moral, dan spiritual lang­­sung se­kaligus.

Dalam pesantren pun juga membangun sistem sosial tersendiri, yang bisa diiba­ratkan sebagai miniatur lingkungan Islam yang diidam-idamkan.

Dimana posisi sang kiai yang menjadi guru, kepala pesantren, dan manifest spiritual. Kemudian posisi santri sebagai penganut kiai, murid, dan makmum dari kiainya. Kultur sosial pesantren demikian, telah mencirikan corak hidup bermasya­rakat Islamiy ala pesantren.

Mengingat kebutuhan dalam pendidikan yang tak hanya bersumber dari kepuasan dalam bidang intelektual, tapi juga meng­ingat kebutuhan kecerdasan emosional dan spiritual yang tak kalah penting. Se­bagaimana terjadi di sekolah umum yang mengutamakan basic intelektual semata, walaupun dalam praktek kesehariannya tak jarang sekolah umum melaksanakan ritual keagamaan, tapi realitanya tak seefektif yang dilakoni oleh kiai dan para santrinya, dalam lingkup sub-kultur pe­santren.

Dalam pesantren sebagai sub-kultur, ia memiliki Pola yang berbeda dengan praktek Islam puritan (tekstualis). Pola yang dibangun pesantren adalah tak menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sekitar dengan tradisi masyarakat yang sudah berkembang.

Di sini pesantren memainkan peran gan­da dalam ranah internal dan eksternal pe­santren. Pada ranah internal pesantren menjadi wadah pendidikan bagi para santri dalam penempaan diri menjadi insan kamil, dan dalam ranah eksternal pesantren menjadi intitusi pertahanan dalam melestarikan budaya para alim ulama dan leluhur terdahulu. **


DR. KH. Encep Safrudin Muhyi. MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi dan Kabid Pendidikan Agama & Keagamaan Islam Kemenag Banten.