DECEMBER 9, 2022
Hukrim

Gara-Gara Mantan, Jadi Tak Dibuatkan Kopi

post-img

Menjalani rumah tangga dengan keka­sih tercinta, bukan berarti terlepas dari masalah begitu saja. Seperti yang dialami Sarip (26), nama samaran, yang tak sadar kalau istrinya, sebut saja Maya (28) tak suka jika ia membahas mantan. 

Lelaki yang bekerja sebagai montir di pe­rusahaan otomotif ini, mengaku tak sadar kalau istrinya marah kalau ia sedang mantan. Ya semua cewek juga pasti marahlah, Kang.

“Padahal saya cuma ngomong dikit doang, dia­nya juga nanggepin biasa kok waktu itu, ka­yak enggak ada masalah,” kata Sarip.

Apalagi, diakui Sarip, istrinya termasuk tipe perempuan yang cuek, santai, dan tidak ri­bet. Jadi ia mengira bisa bebas bercerita apa saja soal kegiatan sehar-hari, atau banyak hal lainnya. Begitu pun sebaliknya, jadi, saling mengobrol dan dengar curhatan masing-masing, menjadi kunci kebahagiaan mereka.

“Biasanya sore, atau sebelum tidur, kita tuh saling curhat-curhatan gitu,” ungkapnya.

Bahkan, salah satu cara paling ampuh saat Sa­rip berhasil mendapat cinta Maya juga melalui jurus curhat-curhatan. Setelah Maya putus dengan pacarnya dulu, Sarip langsung mengatur strategi penyerangan. Mulai dari mengirim pesan menanyakan kabar, sampai nanya sudah makan apa belum. “Setelah udah mulai akrab, baru deh tanya lebih dalam soal hubungannya sama pacar,” akunya.

Setelah itu Maya pun mulai curhat, apa pun isi curhatannya, Sarip selalu meladeni dengan bahagia. Katanya sih, Sarip ini memang pen­dengar yang baik. Setiap ucapannya selalu menangkan dan bikin nyaman, pokok­nya mah pinter ngomonglah, pantes saja ker­janya juga di bagian pemasaran.

Sampai akhirnya, usaha Sarip pun tak sia-sia. Meski harus berkorban banyak waktu buat dengerin Maya curhat, tapi itu semua ter­bayar. Maklumlah, bagi Sarip, Maya me­mang wanita luar biasa. Selain cantik dan putih, ia juga bekerja sebagai teller bank swasta.

Singkat cerita, setelah pacaran satu tahun se­tengah, Sarip dan Maya sepakat menuju hu­bungan lebih serius. Keduanya menikah dan memulai hidup baru, mereka tinggal di rumah pribadi. Soalnya kedua orangtua Ma­ya memang sudah berpesan, kalau Sarip wa­jib punya rumah dulu sebelum meminang Maya. “Lebih enak begini, jadinya kan bebas mau ngapain juga,” ujarnya.

Hari-hari mereka berjalan penuh kebaha­gia­an, dan salah satu kegiatan yang wajib di­la­kukan selain sunahan di malam Jumat, ialah saling curhat-curhatan sebelum tidur. Tapi sayang seribu sayang, malam itu, di tiga hari puasa, ternyata menjadi malam yang tak membahagiakan. “Saya cerita kalau ta­di siang ketemu sama mantan yang servis mobil, terus saya ngobrol sebentar, habis itu tukeran nomor telepon,” katanya.

Meski bagi Sarip itu hal biasa dan sesuai pro­sedur pekerjaan, tapi tidak bagi Maya. Saat itu juga istrinya langsung bilang mau tidur, mengunci pintu kamar, dan tidak meng­gubris Sarip yang mengetuk pintu. 

“Saya kira cuma sehari, eh ternyata sebulan saya tidur sendirian di depan tv,” akunya.

Tak cuma itu, setiap pagi, Maya juga tidak me­nye­diakan kopi dan sarapan buat Sarip. Ia langsung pergi ke pasar belanja bahan masakan, pulang jam 10 saat suami sudah pergi. Padahal biasanya Maya pergi ke pasar diantar Sarip, pulangnya naik gojek. “Pokoknya mah saya pulang dia udah tidur, paginya di langsung pergi ke pasar,” akunya

Setelah sebulan merasakan situasi seperti itu, Sarip pun inisiatif mengajak ngobrol istri­nya baik-baik. Saat itu ia baru tahu mas­alah yang sebenarnya dan langsung meminta maaf. “Alhamdulillah setelah itu mah dia kayak biasa lagi dan langsung meluk ngege­len­dot malemnya.” Wih, langsung tancap gas dong, Kang. Hehe. (Fjr)