DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Banyak Nolaknya, Ujung-ujungnya Dapet Duda

post-img

Sok jual mahal, begitulah kalimat yang tepat untuk mengawali kisah Mona (41) bukan nama sebenarnya. Banyak menolak pria karena cari yang sempurna, Mona akhirnya banting harga dengan memilih Udin (44) bukan sama sebenarnya yang merupakan seorang duda.

Ditemui Radar Banten di salah satu rumah makan di Kecamatan Serang, siang itu, Rabu (14/9) Mona tampak baru selesai makan dengan temannya. Saat diajak mengobrol, ibu satu anak ini curhat soal pengalamannya mencari cinta.

Katanya sih dulu Mona pernah punya prinsip, kalau menikah hanya karena persoalan cinta tanpa dibarengi materi, pasti sulit merasakan kebahagiaan. Soalnya, banyak teman-temannya yang merasakan hal itu. "Makanya saya tuh hati-hati banget milih suami," kata Mona.

Apalagi, Mona juga dikaruniai wajah cantik dan bodi lumayan seksi. Katanya sih ia dulu kembang desa, banyak rekan bapaknya yang datang ke rumah mengajak jadi besanan, tapi karena keputusan diserahkan di tangan Mona, banyak lelaki yang ditolak mentah-mentah. "Untungnya bapak tuh enggak ngatur-ngatur soal jodoh," katanya.

Bahkan, setelah lulus SMA, setiap bulan selalu ada saja tamu yang datang. Awalnya sih cuma silaturahmi, ujung-ujungnya menanyakan Mona yang kapan menikah, dan berharap bisa menikah dengan anak lelaki teman bapaknya.

Padahal waktu itu banyak teman Mona yang sudah menikah dan punya anak. Tapi Mona masih asik sendiri dan fokus bekerja sebagai karyawan pabrik di daerah Cilegon. Satu-satunya lelaki yang dekat dengannya bahkan sering antar pulang pergi kerja ialah saudaranya sendiri. "Di tempat kerja juga banyak yang deketin, tapi sayanya biasa aja," katanya. Duh, belagu amat sih Teh.

Katanya, Mona mencari lelaki mapan dan tampan yang datang melamarnya. Tapi hal itu tak ia dapatkan, ada yang tampan dan mapan tapi sudah berkeluarga. "Banyak yang punya anak istri ngedektin, tapi masa iya saya harus ngerusak rumah tangga orang," ujarnya.

Sampai akhirnya, Mona tak menyadari kalau usianya sudah menginjak kepala tiga. Omongan tak sedap pun mulai merebak di masyarakat. Ada yang bilang perawan tua, sampai parahnya Mona dibilang tak suka dengan laki-laki. Wasuh, lesbong dong. "Parah banget omongannya pada nyakitin," kesalnya.

Sejak itu pula tak ada lagi lelaki yang datang melamar Mona. Kedua orangtua dan kekuarga pun mulai was-was melihat Mona yang masih sendiri. "Bapak sama ibu mulai bawel, setiap hari nanyain terus kapan nikah," katanya.

Awalnya Mona biasa saja dan mengang­gap omongan orangtuanya cuma angin lalu. Tapi lama-kelamaan, ia mulai merasa takut. Ia berpikir, teman-temannya yang wajah dan penampilannya biasa saja sudah punya suami, sedangkan dirinya yang sering perawatan ke salon seminggu sekali, malah belum berumah tangga.

Bagai menjilat ludah sendiri, Mona beberapa kali mencoba membuka diri dan membangun komunikasi lagi dengan mantan-mantan atau lelaki yang pernah ditolaknya. Tapi karena mungkin sudah kecewa dengan sikap Mona yang dulu, mereka seolah balas dendam dengan menunjukkan foto berdua dengan pasangannya. "Malah ada yang ngasih undnagan pernikahan," akunya.

Akhirnya, karena melihat kondisi Mona yang sudah mulai pasrah, bapaknya mengundang lelaki bersama keluarganya. Lelaki itu tak lain ialah Udin, Udin ialah duda anak dua, perawakannya tinggi dan wajah biasa saja, ia juga hanya seorang pegawai rumah makan dan memberi mahar seadanya. "Karena enggak ada lagi, jadi yaudahlah," katanya.

Untung sekarang Udin sudah punya toko makanan sendiri seperti princise dan Mona masih bekerja pabrik, kehidupan ekonomi mereka tercukupi. "Sekarang mah saya enggak mau neko-neko, bersyukur aja sama Kang Udin," katanya.

Semoga langgeng ya Teh. (drp)