DECEMBER 9, 2022
Utama

Putus Rantai Impor Kedelai

post-img

PANEN: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (dua kanan) bersama Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah panen kedelai di Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Rabu (14/9).


Varietes Baru Dikembangkan di Kabupaten Serang 


SERANG–Hampir 90 persen kebu­tuh­an kedelai di Indonesia berasal dari impor. Kondisi yang sudah ber­lang­sung 15 tahun ini dapat diputus de­ngan meningkatkan kuantitas dan kua­litas kedelai dalam negeri. 

Hal itu diungkapkan Menteri Perta­nian Syahrul Yasin Limpo usai panen kedelai kualitasi tinggi di Desa Ran­ca­sanggal, Kecamatan Cinangka, Ka­bupaten Serang, Rabu (14/9). 

Yasin Limpo mengatakan, kedelai meru­pa­kan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia. 

“Semua orang makan tempe, tahu, kecap, semua bu­tuh kedelai,” katanya dalam acara yang dihadiri oleh Bupati Serang Ratu Tatu Cha­sa­nah, Anggota Komisi IV DPR RI Nuraeni, dan sejumlah pejabat daerah.

Namun, tingginya kebutuhan kedelai di Indonesia masih harus dipasok dari negara lain alias impor. Soalnya, produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi. “90 persen ke­delai kita masih impor,” ujarnya.

Padahal, kata dia, Indonesia juga dapat memproduksi kedelai sendiri. Terlebih banyak wilayah yang menjadi sentra per­tanian. ”Seperti di Kabupaten Serang ini salah sa­tunya,” ucapnya.

Dia mengakui kedelai impor mempunyai kualitas yang bagus dan harga yang murah. Namun, tidak ada salahnya membeli kedelai lokal dengan harga yang sedikit lebih tinggi. “Kalau buat petani kita tidak ada salahnya mahal sedikit,” ucapnya. 

Ketergantungan impor itu, kata Syahrul, karena produksi kedelai lokal yang masih mi­nim, baru berkisar 1,5 ton sampai 2,5 ton per hektare. Karena itu, solusi satu-satu­nya yakni dengan meningkatkan produktivitas kedelai lokal. 

“Tidak usah ada teori-teori lagi, kita langsung mulai saja, di Kabupaten Serang punya berapa hektare, ayo langsung kita kembangkan,” ujarnya. 

Panen kedelai tersebut merupakan hasil ujicoba penemuan varietes kedelai mikroba google (Migo) oleh Profesor Ali Zum Mashar, seorang ahli pertanian yang mempunyai lahan di Desa Rancasanggal. 

Profesor Ali Zum Mashar mengatakan, pro­duktivitas varietes ini sudah melebihi kualitas dari kedelai impor. Oleh karena itu, Varietes ini rencananya akan di-launching oleh Presiden Joko Widodo di Kabupaten Serang. 

Ia mengatakan, lahan yang ditanami kedelai Migo di Desa Rancasanggal awalnya mengan­dung zat besi. Namun sekarang menjadi tem­pat dengan produktivitas kedelai terbaik di Indonesia. 

“Sejak 10 tahun lalu, segala pe­nelitian kami didukung oleh Ibu Bupati Serang. Dan Kabupaten Serang akan me­nyebarkan spektrum ke seluruh Indonesia, terutama untuk teknologi di kedelai,” ujarnya. 

Ali menegaskan, kedelai merupakan konsumsi protein utama masyarakat. “Kedelai bukan anak tiri, kedelai adalah komoditas pokok juga, dan strategis untuk Bangsa Indonesia. Semua masyarakat meng­gan­tungkan tahu tempe untuk asupan protein. Dan Kabupaten Serang adalah yang men­dukung penuh kebijakan Menteri Pertanian,” ujarnya. 

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menyatakan kesiapan mengembangkan lebih luas lagi varietes kedelai Migo. Apalagi menurutnya, pengembangan padi, jagung, dan kedelai menjadi prioritas Pemkab Serang. 

“Kalau padi Kabupaten Serang sudah surplus, tinggal jagung dan kedelai. Apalagi kedelai ini bisa ditum­pang­sarikan dengan jagung. Jadi kita bisa kembangkan lebih luas lagi,” tegasnya. 

Tatu mengaku siap menerima tantangan Menteri Pertanian untuk mengembangkan varietes kedelai Migo di lahan hingga 500 hek­tare. “Kita banyak lahan tidur yang bisa kita manfaatkan. Saya punya ke­yakinan, insya Allah bisa, dan harus bisa,” ujarnya. 

Anggota Komisi IV DPR RI Nuraeni mengatakan, pihaknya mendukung pe­ngem­bangan varietes migo kedelai di Kabupaten Se­rang. Bahkan ia mendukung Kabupaten Serang untuk jadi sentra pertanian kedelai.

Pihaknya juga akan mendorong program-program di kementerian untuk dialokasikan di Kabupaten Serang, supaya swasembada kedelai benar-benar berjalan. “Tentu kami di DPR sangat mendukung dan akan mendorong pengembangan kedelai ini,” katanya. (jek/nda)