Semua bisa dibeli dengan uang, termasuk mulut-mulut yang omongannya menyakitkan, begitulah kalimat yang membuat Jono (49) nama samaran, menjadi pengusaha sukses saat ini. Waktu memutuskan menikahi janda kaya anak dua, sebut saja Mirna (46), setelah mendudua setahun, Jono dihina habis-habisan oleh keluarga Mirna karena masih merintis usaha.
”Tapi sekarang saya membuktikan, omongan mereka bisa saya sumpel pake duit,” tukas Jono saat cerita kepada Radar Banten di Pasar Kranggot, Cilegon, Kamis (16/7).
Jono ialah seorang pedagang sembako, tokonya ada tiga di setiap sudut pasar yang dikelola oleh anak-anaknya. Dalam sehari, Jono mengaku bisa mendapat keuntungan puluhan juta dari usahanya itu, belum lagi ia punya kolam pemancingan dan bisnis penyewaan truk pengangkut tanah.
Pencapaiannya saat ini tentu tak terlepas dari perjuangan dan air mata, dihina, dicaci, bahkan difitnah macam-macam, seolah sudah menjadi bagian dari kenikmatan hidupnya. Tapi itulah Jono, ia orang yang tak mau menyerah pada keadaan dan mampu menjadikan hinaan sebagai motivasi untuk maju.
Kisahnya bermula saat Jono baru memulai usaha, waktu itu ia hanya berdagang beras kecil-kecilan. Istrinya berjualan ikan, mereka saling bahu-membahu membangun perekonomian keluarga kecil. Berjalan dua tahun usaha, dagangan mereka mulai maju dan memiliki banyak pelanggan. Tapi sayang, baru juga merasakan kenikmatan, istri Jono meninggal dunia karena sakit yang Jono sendiri tak tahu penyakit apa.
”Paginya demam, sore pingsan di warung, terus saya bawa ke rumah sakit, eh malamnya meninggal,” Jono menyeruput kopi sambil membayangkan wajah almarhum istrinya.
Waktu itu Jono kehilangan semangat berdagang, jualannya jadi malas-malasan, perlahan pelanggannya pun pergi, toko berasnya semakin sepi. Jono yang waktu itu mengurus dua anaknya yang masih kecil, sering tak bisa mengatur waktu antara berjualan dan mendidik anak. ”Paling sering saya titipin ke ibu mertua,” katanya.
Sampai akhirnya Jono bertemu dengan Mirna, tanpa basa-basi, setelah mereka saling jujur tentang niat baik ingin saling beribadah ke jalan pernikahan, dipertemukanlah dengan kedua keluarga masing-masing. Kalau dari keluarga Jono sih menyambut baik, tapi tidak dengan keluarga Mirna. ”Wah, saya dibilang cuma mau morotin hartalah, lelaki enggak benerlah,” kata Jono.
Jono hampir mau membatalkan niat baiknya, tapi Mirna terus menguatkan sampai akhirnya mereka menikah secara diam-diam dan tinggal di rumah sepupu jauh Mirna. Mirna yang memang anak orang kaya, waktu itu rela mengeluarkan banyak uang untuk biaya hidup mereka.
”Tapi waktu itu saya janji ke dia, kalau saya bakal buktiin kalau saya bisa kasih lebih ke dia,” katanya.
Jono pun memulai usaha jualan toko sembako, tak disangka usahnya maju pesat. Dalam waktu tiga tahun Jono mampu mengembangkan usahanya, bangun toko kedua, ketiga, dan terus merambah ke penyewaan truk dan kolam pemancingan. ”Lihat sekarang, keluarga Mirna udah enggak jutek lagi ke saya, malah mereka selalu ngundang saya kalau ada acara apa-apa,” ungkapnya.
Sampai saat ini, Jono dan Mirna hidup bahagia dengan kenikmatan hidup yang mereka dapatkan dengan kerja keras dan perjuangan. (drp)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
