KEMISKINAN: Dua anak manusia gerobak melintas di Jalan Ahmad Yani, Kota Serang, Jumat (15/7). Presentase jumlah warga miskin di Provinsi Banten sebanyak 814,02 ribu orang.(QODRAT/RADAR BANTEN)
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2022 terhadap 7.330 rumah tangga.
Hasilnya, presentase jumlah warga miskin di Provinsi Banten sebanyak 814,02 ribu orang. Rokok kretek filter memberi sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan.
Kepala BPS Provinsi Banten, Dody Herlando mengungkapkan, persentase penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 6,16 persen. Jumlah ini menurun dibandingkan kondisi September 2021 yang sebesar 6,50 persen. “Dan menurun 0,50 persen poin dibanding Maret 2021 yang sebesar 6,66 persen,” ujar Dody saat membacakan berita resmi statistik secara virtual, Jumat (15/7).
Secara angka, Dody mengatakan, jumlah penduduk miskin di Banten pada Maret 2022 yakni 814,02 ribu orang. Angka itu menurun sebanyak 38,26 ribu apabila dibandingkan September 2021 lalu. Apabila dibandingkan dengan Maret 2021, maka terjadi penurunan sebanyak 53,21 ribu orang. “Terjadi penurunan secara gradual,” tuturnya.
Kata dia, persentase penduduk miskin pada Maret 2021 sebesar 6,16 persen, turun 0,34 persen poin terhadap September 2021 dan turun 0,50 persen poin terhadap Maret 2021.
Ia mengatakan, secara umum, pada periode 2012–2022 tingkat kemiskinan di Banten cenderung fluktuatif, baik dari sisi jumlah maupun persentase. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode September 2013, Maret 2015, September 2017, dan September 2018 dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak.
“Sedangkan pada periode September 2020 sampai dengan Maret 2021 kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin disebabkan oleh munculnya pandemi Covid-19,” terangnya.
Sementara itu, Dody memaparkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2021 sampai Maret 2022 antara lain yakni pandemi Covid-19 yang berkelanjutan berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk, sehingga mempengaruhi angka kemiskinan. Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2022 sebesar 4,97 persen (y-on-y), lebih baik dibanding laju pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2021 yang tumbuh sebesar 4,51 persen.
Faktor ketiga, lanjutnya, pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2022 tumbuh sebesar 2,92 persen (y-on-y), meningkat dibandingkan triwulan III 2021 yang tumbuh sebesar 2,62 persen. “Nilai tukar petani Maret 2022 sebesar 99,03 meningkat dibanding September 2021 sebesar 97,71. Dan terakhir, pada Februari 2022, persentase tingkat pengangguran terbuka sebesar 8,53 persen. Terjadi penurunan sebesar 0,48 persen poin dibandingkan Agustus 2021 yang sebesar 8,98 persen, dan angka ini juga menurun jika dibandingkan Februari 2021 yang sebesar 9,01 persen,” terangnya.
Kata dia, garis kemiskinan pada Maret 2022 adalah sebesar Rp570.368,- per kapita per bulan. Dibandingkan September 2021, garis kemiskinan naik sebesar 4,18 persen. Sementara jika dibandingkan Maret 2021, terjadi kenaikan sebesar 7,54 persen.
Dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan, yang terdiri dari garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan bukan makanan, peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2022 sebesar 72,27 persen.
Dody mengungkapkan, pada Maret 2022, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan, baikdi perkotaan maupun perdesaan, pada umumnya hampir sama. “Rokok kretek filter masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 17,31 persen di perkotaan dan 19,65 persen di perdesaan,” tandasnya.
Sedangkan, beras memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan yakni 15,99 persen di perkotaan dan 18,96 persen di perdesaan. Komoditi lainnya adalah daging ayam ras 4,65 persen di perkotaan dan 3,28 persen di perdesaan, telur ayam ras 3,62 persen di perkotaan dan 2,94 persen di perdesaan, mi instan 2,68 persen di perkotaan dan 2,37 di perdesaan, roti 1,88 persen di perkotaan dan 2,58 di perdesaan, serta kopi bubuk dan kopi instan (sachet) 2,25 persen di perkotaan dan 2,28 persen di perdesaan.
Sementara, lanjut Dody, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada garis kemiskinan perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. (nna/air)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
