PENGUKUHAN: Pengukuhan Camat menjadi bapak asuh stunting di Aula Multatuli, Setda Lebak, Kamis (15/9). (Yusuf Purnama/Radar Banten)
LEBAK – Musyawarah Unsur Pimpinan Kecamatan (Muspika) di 28 kecamatan didaulat menjadi bapak asuh anak stunting. Upaya tersebut diharapkan dapat menekan kasus stunting di Bumi Multatuli.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten melakukan gerakan penanganan stunting dengan cara mengangkat para Camat, Kapolsek hingga Dandramil sebagai Bapak dan Ibu asuh anak penderita stunting.
Pengangkatan Muspika dilakukan disela-sela kegiatan rekonsiliasi tim percepatan penurunan stunting yang digelar BKKBN Banten di Aula Multatuli Setda Lebak, Kamis (15/9).
Wakil Bupati Ade Sumardi mengatakan, Camat, Kapolsek, dan Dandramil diangkat sebagai bapak dan ibu asuh anak stunting agar mereka bisa mengayomi dan memberikan edukasi secara menyeluruh mengenai stunting di daerahnya masing-masing.
“Stunting ini adalah masalah kita semua. Semua pihak harus terlibat dalam mengawasi tumbuh kembang anak, khususnya di usia 1.000 hari kehidupan,” kata Ade Sumardi.
Dijelaskannya, tugas dari bapak dan ibu asuh adalah untuk melakukan pendampingan kepada anak-anak sekaligus memberikan bantuan materi dan non materi seperti melakukan penyuluhan tentang cara mencegah stunting.
Menurutnya, stunting sendiri merupakan masalah besar yang harus ditindaklanjuti secara serius oleh semua pihak. Sebab, selain mempengaruhi kondisi tubuh, stunting juga dapat mempengaruhi kecerdasan dan kesehatan penderitanya.
“Masalah stunting ini harus kita tindaklanjuti dari hulu ke hilir, dari sebelum pasangan menikah yang mana calon pengantin harus kita berikan penyuluhan terlebih dahulu. Menurut saya, masalah ini bukan tentang pemerintah, tapi juga kalangan pengusaha dan UKM harus ikut terlibat dalam pengentasan masalah stunting ini,” jelasnya.
Ia pun meminta kepada bapak dan ibu asuh anak stunting untuk peduli terhadap masalah stunting dan memastikan para anak penderita mendapatkan vitamin, juga pemenuhan gizi yang tepat.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala BKKBN Banten Dadi Ahmad Roswandi mengungkap, tingkat stunting di Lebak tergolong tinggi, yakni mencapai 27 persen. Belum lagi, ada 86 persen kepala keluarga masuk ke dalam kategori resiko stunting.
Dari hasil pemetaan, terdapat 8 kecamatan di Lebak yang memiliki jumlah kasus stunting terbanyak, yakni Kecamatan Bojongmanik, Cigemblong, Cimarga, Cijaku, Lebakgedong, Muncang, dan Wanasalam.
Menurutnya, permasalahan stunting di Lebak disebabkan banyak faktor, diantaranya kurangnya sumber air minum yang memadai dan juga sanitasi yang baik.
“Kita mendorong program Jumat Serius itu untuk diterapkan di daerah lain. Di Lebak, kita berharap Pemkab bisa mengaktifkan lahan-lahan subur yang kini kondisinya banyak yang tidur. Saya berpikir hal itu bisa mengatasi permasalahan stunting dengan terisinya gizi masyarakat. Karena bergizi itu tidak harus mahal, bergizi itu bisa memanfaatkan panganan lokal,” tukasnya. (mg-02/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
