DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Muspika Jadi Bapak Asuh Penderita Stunting

post-img

PENGUKUHAN: Pengukuhan Camat menjadi bapak asuh stunting di Aula Multatuli, Setda Lebak, Kamis (15/9). (Yusuf Purnama/Radar Banten)

LEBAK – Musyawarah Unsur Pimpinan Kecamatan (Muspika) di 28 kecamatan didaulat menjadi bapak asuh anak stun­ting. Upaya tersebut diharapkan da­pat menekan kasus stunting di Bumi Multatuli. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Le­bak dan Badan Kependudukan dan Ke­luarga Berencana Nasional (BKKBN) Pro­vinsi Banten melakukan gerakan pe­na­nganan stunting dengan cara menga­ngkat para Camat, Kapolsek hingga Dandramil sebagai Bapak dan Ibu asuh anak penderita stunting.

Pengangkatan Muspika dilakukan disela-sela kegiatan rekonsiliasi tim per­cepatan penurunan stunting yang digelar BKKBN Banten di Aula Multatuli Setda Lebak, Kamis (15/9).

Wakil Bupati Ade Sumardi mengatakan, Camat, Kapolsek, dan Dandramil di­angkat sebagai bapak dan ibu asuh anak stunting agar mereka bisa menga­yomi dan memberikan edukasi secara me­nyeluruh mengenai stunting di daerahnya masing-masing.

“Stunting ini adalah masalah kita se­mua. Semua pihak harus terlibat da­lam mengawasi tumbuh kembang anak, khususnya di usia 1.000 hari kehidupan,” kata Ade Sumardi.

Dijelaskannya, tugas dari bapak dan ibu asuh adalah untuk melakukan pen­dam­pingan kepada anak-anak sekaligus memberikan bantuan materi dan non materi seperti melakukan penyuluhan tentang cara mencegah stunting.

Menurutnya, stunting sendiri meru­pakan masalah besar yang harus ditin­dak­lanjuti secara serius oleh semua pi­hak. Sebab, selain mempengaruhi kon­disi tubuh, stunting juga dapat mem­pengaruhi kecerdasan dan kese­hatan penderitanya.

“Masalah stunting ini harus kita tindaklanjuti dari hulu ke hilir, dari sebelum pasangan menikah yang mana calon pengantin harus kita berikan penyuluhan terlebih dahulu. Menurut saya, masalah ini bukan tentang peme­rintah, tapi juga kalangan pengusaha dan UKM harus ikut terlibat dalam pengentasan masalah stunting ini,” jelasnya.

Ia pun meminta kepada bapak dan ibu asuh anak stunting untuk peduli ter­hadap masalah stunting dan memas­tikan para anak penderita mendapatkan vitamin, juga pemenuhan gizi yang tepat.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala BKKBN Banten Dadi Ahmad Roswandi mengungkap, tingkat stunting di Lebak tergolong tinggi, yakni mencapai 27 persen. Belum lagi, ada 86 persen kepala keluarga masuk ke dalam kategori resiko stunting.

Dari hasil pemetaan, terdapat 8 ke­camatan di Lebak yang memiliki jumlah kasus stunting terbanyak, yakni Keca­matan Bojongmanik, Cigemblong, Ci­marga, Cijaku, Lebakgedong, Muncang, dan Wanasalam.

Menurutnya, permasalahan stunting di Lebak disebabkan banyak faktor, diantaranya kurangnya sumber air minum yang memadai dan juga sanitasi yang baik.

“Kita mendorong program Jumat Serius itu untuk diterapkan di daerah lain. Di Lebak, kita berharap Pemkab bisa meng­aktifkan lahan-lahan subur yang kini kondisinya banyak yang tidur. Saya berpikir hal itu bisa mengatasi per­masalahan stunting dengan terisinya gizi masyarakat. Karena bergizi itu tidak harus mahal, bergizi itu bisa me­man­faatkan panganan lokal,” tukasnya. (mg-02/tur)