DECEMBER 9, 2022
Radar Serang

753 Hewan Ternak Terpapar PMK

post-img

SERANG-Dinas Pertanian (Dis­tan) Provinsi Banten hingga 14 Juni 2022 mencatat sebanyak 753 hewan ternak terpapar pe­nya­kit mulut dan kuku (PMK). Data Bidang Kesehatan He­wan dan Kesehatan Veteri­ner Distan Provinsi Banten, dari total tersebut jenis hewan ter­infeksi virus PMK yaitu, sapi 636 ekor, kerbau 69 ekor, kam­bing 36 ekor dan domba 12 ekor. 

Angka tersebut, tersebar di Ka­bupaten Tangerang, Kota Ta­ngerang, Kota Tangerang Se­latan, Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, dengan tingkaf kesembuhan dari hewan ternak yang terin­feksi PMK mencapai 316 ekor. 

Diketahui, PMK atau Anthrax pe­nyakit viral yang sangat me­nular. Virus ini menyerang se­mua hewan berkuku belah atau genap. Penyebabnya virus, per­kembangbiakan melalui spora. Sporanya ini bisa hidup lama di lingkungan, sehingga su­lit sekali diberantas spora vi­rus antrax juga bisa hidup tahan lama di tulang, kelenjar, su­su serta produk susu.Tepati, tidak menular kepada manusia,

Gejala hewan terkena PMK ka­tegori ringan adalah ternak menjadi lesu, tidak nafsu ma­kan, demam melepuh pada mu­lut terutama pada lidah dan gusi serta mengeluarkan air liur berlebih. ”Per 14 Juni 753 kasus. Namun, kita punya ting­kat kesembuhan sebanyak 316 ekor,” ujar Kepala Bidang Ke­sehatan Hewan dan Kese­hatan Veteriner pada Distan Pro­vinsi Banten Ari Mardiana, Kamis (16/6).

Menurut Ari, peternak dan masya­rakat tak perlu panik atas kejadian tersebut, karena ti­dak menular kepada manusia. Hanya pada hewan ternak saja. Seperti, sapi, kerbau, kambing dan domba. ”Dari sifat genetik­nya sapi lebih rentan terdampak PMK,” katanya. 

Ari menambahkan, jelang Idul Adha perlu ada pengetatan lalu lintas terhadap hewan ter­nak, khususnya dari wilayah yang telah banyak terinfeksi PMK. ”Perlu dihindari khusus­nya dari daerah Aceh dan Jawa Timur,” katanya. 

Ari mengatakan, PMK ini me­­mang membuat peternak dan masyarakat panik. Ini ka­rena waktu dekat memasuki Idul Adha. ”Panik karena me­mang kebutuhan hewan untuk ber­kurban di Idul Adha tinggi,” katanya. 

Untuk itu, Ari menyarankan be­berapa langkah sebagai antisipasinya. Di antaranya, mengontrol lalulintas hewan dan produk hewan, mengka­ran­tina hewan sakit, peningkat­an biosecurity di kan­­dang, peternakan dan pasar hewan. 

Kemudian, memotong hewan terinfeksi PMK atau he­wan yang kontak dengan hewan ter­infeksi, membersihkan dan di­sinfeksi semua peralatan se­perti mobil kandang dan baju, pembuangan bangkai, per­alatan dan produk hewan yang terkontaminasi di daerah yang terinfeksi. ”Kalau efektif memang perlu vaksinasi pada hewan ternak yang rentan ter­papar,” katanya.

Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, se­cara umum untuk peta pe­nye­baran PMK di Banten kini hanya menyisakan 3 ka­bu­pa­ten/kota yang masuk zona hi­jau.”Perkembangan kasus di Banten, di 3 kabupaten/ko­ta zona hijau atau zero yaitu Ka­­bupaten Lebak, Kota Serang dan Kota Cilegon,” katanya. 

Agus menegaskan, pihaknya te­lah melakukan pengetatan jalur keluar masuk hewan ter­nak. Banten tak menerima hewan ternak yang berasal dari daerah endemis seperti Aceh dan Jawa Ti­mur. ”Priori­taskan pro­vinsi yang bukan merupa­kan endemis PMK,” te­rangnya. (fdr/nda)