DECEMBER 9, 2022
Tangerang - Viral

Atasi Sampah, Maksimalkan TPA3R

post-img

PASANG SPANDUK: Sejumlah Aktivis Lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Tangerang (KALUNG) menggelar aksi di kawasan TPA Cipeucang, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Jumat (16/9). (rbnn)

SETU-Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Tangerang (KALUNG) menggelar aksi di kawasan TPA Cipeucang, Kota Tangsel, Jumat (16/9).

Dengan menggunakan speadboat, sejumlah akti­vis menyusuri Sungai Cisadane sambil mem­bersihkan Sampah. Dan, setibanya di wila­yah TPA Cipeucang beberapa orang mem­bentangkan spanduk bertuliskan “Cisadane Bukan Tempat Sampah, TPA Cipeucang Overload, Stop Longsor Jilid 2.”

Koordinator aksi, Ade Yunus mengatakan, ke­­­giatan ini merupakan bentuk peringatan kepada Pemerintah Kota Tangsel untuk me­la­kukan tindakan pencegahan agar tidak lagi terjadi bencana longsor TPA Cipeucang ke Sungai Cisadane tahun 2020 lalu.

“Pada Tahun 2017 yang lalu, kita aksi meng­­ingat­kan bahaya akan potensi bencana TPA Ci­peucang, namun tak digubris oleh Pemkot Tang­sel dan bencana yang kami khawatirkan ter­nyata terjadi pada Mei 2020. TPA Cipeucang long­sor, berdampak pada tercemarnya Sungai Cisadane bahkan menjadi pemberitaan dunia Internasional, hari ini kami melakukan Aksi mengingatkan kembali. Agar Pemkot Tangsel tanggap dan tidak gagap dalam menangani Overload nya TPA Cipeucang,” ujar Ade.

Menurut Ade, pihaknya telah memberikan solusi alternatif mengurangi timbunan sampah di TPA Cipeucang. Salah satunya mengop­­ti­malisasikan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse. Recycle) yang dileng­kapi Konsep Ma­terial Recovery Fasility (MRF).

“Bila di setiap kecamatan dan di setiap Kawasan Pro­perty serta sejumlah kawasan Bisnis memiliki TPS3R yang dilengkapi konsep Material Recovery Fasility ( MRF ), maka sam­pah yang ke TPA itu tinggal residunya sa­ja, karena habis diolah dan dimusnahkan di sumber,” jelasnya.

Ade yang juga Ketua Banksasuci Foundation ber­harap Pemkot Tangsel tidak mengandalkan ker­jasama pembuangan sampah dengan Pem­kot Serang saja. Apalagi jika hanya me­nunggu ter­laksananya PSEL dan hadirnya TPA Regional, ka­rena keduanya baik PSEL mau­pun TPA Re­gional membutuhkan proses waktu yang sa­ngat panjang.

“Kami berharap agar Pemkot Tangsel, Fokus pada kemampuan Pengelolaan Sampah secara mandiri yang merangkul stakeholders terkait melalui Pengoptimalisasian TPS3R dan MRF tadi, kalau ngandelin perpanjangan kontrak dengan Pemkot Serang, Nunggu PSEL dan TPA Regional, maka bukan tidak mungkin yang kita khawatirkan bencana longsor terjadi lagi, makanya kita warning,” tegas Ade.

Ditanya mengenai dirinya yang getol meng­kritisi pe­ngelolaan sampah TPA Ci­peucang, Ade me­negaskan bahwa aktivitas komu­nitasnya dalam melakukan konservasi Sungai Cisadane terganggu bila TPA Cipeucang longsor kembali.

“Kalau longsor yang deket kawasan TPA Cipeucang mungkin hanya bau saja, kami yang di hilir Cisadane, sampah bekas longso­rannya nyangkut di WasteTrap kita dan tentu bukan hanya bau, tapi juga sangat meng­ganggu aktivitas kita dalam menjalankan program konservasi Sungai Cisadane, dan sekali lagi perlu diingat bahwa sungai Cisa­dane merupakan sumber kehidupan, di­ma­na air baku PDAM Tangerang Raya ber­sum­­ber dari Sungai Cisadane,” pung­kasnya.

Sementara Kabid penanganan sampah DLH Kota Tangsel Rastra Yudhatama me­ngatakan, sejauh ini pihaknya telah memak­simalkan TPS3R dan terus mencari solusi terkait pe­numpukan sampah di TPA Cipeucang. 

Menurutnya, pengiriman sampah ke Kota Serang yang seharusnya menjadi cara paling ampuh mengurangi sampah di wilayah Tangsel terkendala oleh banyaknya protes dan penolakan, sehingga saat inu pihaknya tengah mencari jalan keluarnya.

“Kita terus berupaya melakukan penanganan sampah di Kota Tangsel,” ujarnya beberapa waktu lalu. (ful/asp)